Total kerugian materil di kecamatan-kecamatan ini bervariasi, mulai dari Rp 120 Miliar hingga Rp 170 Miliar.
Kota Sibolga juga tidak luput dari bencana ini. Di Kecamatan Sibolga Selatan, longsor di Jalan Perjuangan, Kelurahan Parombunan, menyebabkan 400 keluarga terdampak dan menelan dua korban jiwa. Sementara itu, di Kecamatan Pandan, 450 keluarga terdampak akibat luapan Sungai Sipan Sihaporas yang menyebabkan banjir setinggi satu meter.
Kerugian materil di kedua kecamatan ini diperkirakan mencapai Rp 430 Miliar.
Desa Mardame di Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapanuli Tengah, juga mengalami dampak serius akibat longsor yang menewaskan empat orang dan menyebabkan 500 keluarga terdampak. Kerugian materil di desa ini diperkirakan mencapai Rp 250 Miliar.
Pemerintah daerah setempat telah bergerak cepat untuk memberikan bantuan darurat kepada para korban, termasuk penyediaan tempat penampungan sementara, makanan, air bersih, dan obat-obatan.
Namun, tantangan besar masih ada di depan mata, terutama dalam hal pemulihan infrastruktur dan pembangunan kembali rumah-rumah yang rusak.
Masyarakat Tapanuli Tengah dan Sibolga membutuhkan uluran tangan dari berbagai pihak untuk dapat bangkit kembali dari bencana ini. Bantuan dapat berupa dana, tenaga, maupun dukungan moral. Solidaritas dan kepedulian dari seluruh lapisan masyarakat sangat dibutuhkan untuk meringankan beban para korban dan mempercepat proses pemulihan.
Bencana ini menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya menjaga lingkungan dan meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana. Perubahan iklim yang semakin ekstrem meningkatkan risiko terjadinya bencana alam, sehingga diperlukan upaya mitigasi dan adaptasi yang lebih serius untuk melindungi masyarakat dari ancaman bencana.D|Red
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGE NEWS.
j
.






