Sumut Memanas: Ribuan Massa Kepung Kantor Gubernur, Desak Pemerintah Berpihak pada Rakyat Adat

Senin, 10 November 2025 - 14:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ribuan massa berkumpul di depan kantor Gubernur Sumatera Utara di Jalan Diponegoro, Medan, untuk menyampaikan tuntutan tutup Toba Pulp Lestari, Senin (10/11/2025).(Foto:Miranda)

Ribuan massa berkumpul di depan kantor Gubernur Sumatera Utara di Jalan Diponegoro, Medan, untuk menyampaikan tuntutan tutup Toba Pulp Lestari, Senin (10/11/2025).(Foto:Miranda)

Medan-Mediadelegasi : Ribuan orang yang tergabung dalam Sekretariat Bersama (SEKBER) Gerakan Oikumenis untuk Keadilan Ekologis menggelar aksi damai di depan Kantor Gubernur Sumatera Utara, Medan, pada Senin (10/11/2025).

Aksi ini bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan, yang dijadikan sebagai simbol perjuangan lintas iman dalam membela keadilan ekologis dan hak-hak masyarakat adat.

Aksi dimulai dengan doa lintas agama yang dipimpin oleh tokoh Katolik dan Islam, menandai semangat persatuan dalam memperjuangkan kelestarian lingkungan.

Para peserta aksi membawa berbagai poster dan spanduk yang berisi seruan keadilan ekologis serta desakan kepada pemerintah daerah untuk mengambil langkah konkret dalam menghentikan praktik perusakan lingkungan di Sumatera Utara.

Salah satu sorotan utama dalam aksi tersebut adalah tuntutan agar PT Toba Pulp Lestari (TPL) ditutup. Perusahaan ini dinilai telah merugikan masyarakat adat dan merusak lingkungan di sekitar wilayah operasionalnya.

Dalam orasinya, Ibu Pasaribu, perwakilan masyarakat dari Sihaporas, dan O Simanjuntak dari Tapanuli Selatan, menyuarakan keluhan masyarakat adat yang selama ini merasa tertindas akibat keberadaan perusahaan tersebut.

“Kami sudah lama disiksa dan tanah kami dirampas. Kami hanya ingin hidup layak, mencari makan dan menyekolahkan anak, bukan untuk kaya. Tapi perusahaan dan aparat seolah menutup mata,” ujar Ibu Pasaribu dengan suara bergetar, menggambarkan betapa dalamnya penderitaan yang mereka alami.

BACA JUGA:  Kejagung Periksa Saksi dari KAP, Perkuat Kasus Dugaan Korupsi Transfer Pricing PT TPL Rp2 Triliun

Para orator juga menuduh pihak perusahaan melakukan tekanan dan menyuap aparat keamanan agar masyarakat yang melakukan perlawanan dikriminalisasi. Mereka mendesak pemerintah Provinsi Sumut untuk turun langsung menemui massa dan menindaklanjuti aspirasi rakyat.

Solidaritas terhadap perjuangan masyarakat adat juga datang dari kalangan mahasiswa. Seorang perwakilan mahasiswa mengatakan bahwa mereka tidak bisa tinggal diam melihat orang tua mereka dikriminalisasi hanya karena memperjuangkan tanah leluhur.

“Kami datang bersama masyarakat adat untuk menuntut keadilan. Jika pemerintah tidak berpihak, maka kami akan terus berjuang,” tegasnya, menunjukkan tekad yang kuat untuk terus mendukung perjuangan ini.

Suasana aksi berlangsung damai dan penuh semangat. Selain orasi, para peserta juga menampilkan nyanyian dan lagu-lagu daerah seperti Sitalasari dan Otana Batak, yang menambah kekhidmatan dan nuansa budaya dalam aksi tersebut. Aksi ini menjadi wadah bagi masyarakat adat untuk mengekspresikan identitas dan budaya mereka, sekaligus menyampaikan pesan kepada pemerintah dan masyarakat luas tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

Hingga siang hari, massa masih memadati kawasan Kantor Gubernur Sumut. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada perwakilan dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara yang turun menemui peserta aksi. Hal ini menimbulkan kekecewaan di kalangan peserta aksi, yang merasa bahwa pemerintah daerah tidak peduli terhadap aspirasi mereka.

BACA JUGA:  Jelang Nataru, Brimob Polda Sumut Intensifkan Patroli di Belawan

Aksi damai ini merupakan bagian dari rangkaian perjuangan panjang masyarakat adat dan aktivis lingkungan di Sumatera Utara untuk memperjuangkan keadilan ekologis dan hak-hak mereka.

Mereka berharap bahwa aksi ini dapat membuka mata pemerintah dan masyarakat luas tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan menghormati hak-hak masyarakat adat.

Para peserta aksi juga menyerukan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk memberikan dukungan terhadap perjuangan mereka.

Mereka percaya bahwa dengan dukungan yang luas, mereka akan mampu mencapai tujuan mereka, yaitu mewujudkan keadilan ekologis dan melindungi hak-hak masyarakat adat di Sumatera Utara.

Aksi damai di depan Kantor Gubernur Sumut ini menjadi momentum penting dalam perjuangan untuk keadilan ekologis di Indonesia. Ini adalah panggilan bagi kita semua untuk bertindak dan mengambil bagian dalam upaya melindungi lingkungan dan membela hak-hak masyarakat adat.

Kita tunggu saja bagaimana kelanjutan dari aksi ini. Apakah pemerintah Provinsi Sumatera Utara akan merespons tuntutan masyarakat adat dan mengambil langkah-langkah konkret untuk mengatasi masalah lingkungan dan konflik agraria di wilayah tersebut? Yang jelas, perjuangan untuk keadilan ekologis akan terus berlanjut hingga tujuan tercapai. D|Red.

 

 

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Istana Maimon Jadi Saksi, 23 Paguyuban Kesukuan Pertajam Komitmen Merajut Kebhinekaan Bersama FKN Sumut
USU: Belum Ditemukan Indikasi Perundungan dalam Kasus Meninggalnya Mahasiswi FIB
Kadis SDABMBK Khairul Azmi Dorong Drainase Lebih Optimal, 1.047 Meter U-Ditch Dibangun di Gaperta
DLH Kota Medan: Pengadaan Alat Berat Rp11,4 Miliar Sesuai Aturan LKPP, Tidak Ada Pembelian Buldoser Rp479 Juta
CEGAH GANGGUAN KAMTIB, LPKA MEDAN GELAR RAZIA GABUNGAN
Namanya Dicatut Irhamsadani Rambe dalam Isu Seleksi KPID, KAMMI Sumut: Ketua yang Sah Hanya Hasan Basri!
BEM UMN Al-Washliyah Tagih Tindak Lanjut Bea Cukai soal Dugaan Monza Ilegal
Gelar Muswil ke III, Syamsuri Terpilih Jadi Ketua IKA UT Medan Periode 2026-2031
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 11:09 WIB

Istana Maimon Jadi Saksi, 23 Paguyuban Kesukuan Pertajam Komitmen Merajut Kebhinekaan Bersama FKN Sumut

Senin, 28 September 2026 - 17:16 WIB

USU: Belum Ditemukan Indikasi Perundungan dalam Kasus Meninggalnya Mahasiswi FIB

Jumat, 25 September 2026 - 17:31 WIB

Kadis SDABMBK Khairul Azmi Dorong Drainase Lebih Optimal, 1.047 Meter U-Ditch Dibangun di Gaperta

Rabu, 23 September 2026 - 16:45 WIB

DLH Kota Medan: Pengadaan Alat Berat Rp11,4 Miliar Sesuai Aturan LKPP, Tidak Ada Pembelian Buldoser Rp479 Juta

Sabtu, 19 September 2026 - 19:11 WIB

CEGAH GANGGUAN KAMTIB, LPKA MEDAN GELAR RAZIA GABUNGAN

Berita Terbaru

Foto: Dok. Mediadelegasi.

Kabupaten Deli Serdang

Belum Lupa Kasus Karo, Kini Dapur MBG Klambir Lima Dekat Kandang Ayam

Selasa, 6 Okt 2026 - 16:08 WIB