Rupiah Melemah Akibat Defisit Anggaran Lampaui Target

Rupiah Melemah terhadap Dollar AS
Nilai tukar rupiah melemah terhadap Dollar AS menjadi Rp16.829. (Foto:Ist)

Jakarta-Mediadelegasi: Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka melemah pada perdagangan di Jakarta, Jumat pagi. Mata uang Garuda terpantau terkoreksi sebesar 31 poin atau sekitar 0,18 persen, yang membawa posisinya ke level Rp16.829 per dolar AS.

Kondisi ini menunjukkan penurunan dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp16.798 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi di tengah perhatian pasar terhadap rilis data ekonomi domestik terbaru.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, memberikan analisisnya terkait pergerakan mata uang ini. Menurutnya, pelemahan rupiah kali ini sangat dipengaruhi oleh realisasi anggaran negara tahun 2025 yang baru saja dirilis.

Bacaan Lainnya

Faktor utama yang memicu melemahnya nilai tukar rupiah ini adalah laporan mengenai defisit fiskal Indonesia yang menunjukkan tren melebar. Angka defisit yang muncul ternyata berada di atas ekspektasi para pelaku pasar maupun proyeksi awal pemerintah.

Baca juga: https://mediadelegasi.id/baja-china-nakal-negara-dirugikan/

Josua menjelaskan bahwa defisit fiskal Indonesia tercatat melebar hingga menyentuh angka 2,92 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan perkiraan resmi pemerintah sebelumnya yang dipatok pada level 2,78 persen.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya telah melaporkan bahwa realisasi sementara defisit APBN Tahun 2025 mencapai Rp695,1 triliun. Data ini diambil berdasarkan laporan tutup buku per 31 Desember 2025.

Pelebaran defisit ini tergolong signifikan karena awalnya target defisit pada APBN 2025 hanya ditetapkan sebesar 2,53 persen yang menyebakan nilai tukar rupiah melemah.Bahkan, realisasi akhir ini hampir menyentuh ambang batas maksimal yang diatur undang-undang sebesar 3 persen.

Di sisi lain, pergerakan nilai tukar juga dipengaruhi oleh dinamika pasar tenaga kerja global, khususnya dari Amerika Serikat. Laporan Challenger, Gray & Christmas menunjukkan adanya penurunan angka pemutusan hubungan kerja (PHK) di AS.

Pada Desember 2025, angka PHK di AS turun 8,3 persen secara tahunan menjadi 35.553, yang merupakan level terendah sejak Juli 2024. Data ini menunjukkan ketahanan ekonomi AS yang tetap kuat di tengah ketidakpastian global.

Pos terkait