Jakarta-Mediadelegasi: Nilai tukar rupiah akhirnya menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa (29/9/2026). Mengacu data Bloomberg pukul 09.40 WIB, rupiah di pasar spot melemah 24 poin atau 0,13 persen ke posisi Rp18.002 per dolar AS. Bank Indonesia segera memperkuat langkah stabilisasi melalui intervensi di tiga pasar sekaligus atau triple intervention.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea menjelaskan bahwa pelemahan ini dipengaruhi gabungan faktor global dan domestik. Di antaranya kekhawatiran terhadap tekanan inflasi dunia, lonjakan harga energi, serta meningkatnya permintaan valuta asing di dalam negeri.
“Pelemahan nilai tukar dipengaruhi oleh berlanjutnya kekhawatiran atas tekanan inflasi global dan risiko fiskal, sejalan dengan kenaikan harga minyak hingga di atas 108 dolar AS per barel di tengah belum tercapainya kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz,” ujar Erwin dalam keterangan resmi.
Lonjakan harga minyak mentah turut memperkuat ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS. Hal ini mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun menyentuh 5,23 persen, level tertinggi sejak tahun 2007. Kenaikan tersebut memicu arus keluar modal dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dari sisi dalam negeri, tekanan tambahan muncul dari meningkatnya kebutuhan valuta asing para importir menjelang akhir kuartal ketiga tahun 2026. Permintaan yang meningkat ini ikut menekan pergerakan rupiah di pasar valas.
“Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir menjelang akhir triwulan III, serta arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan imbal hasil obligasi AS,” jelas Erwin.
Merespons pelemahan rupiah hingga menembus Rp18.000 per dolar AS, BI menegaskan akan terus menjaga stabilitas pasar valas melalui mekanisme triple intervention. Langkah ini dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan di tiga pasar sekaligus.
Intervensi tersebut mencakup transaksi Non-Deliverable Forward di pasar luar negeri, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder. Ketiga jalur ini dijalankan serentak untuk meredam gejolak nilai tukar.
Selain intervensi langsung, BI juga memperkuat insentif untuk instrumen Swap dan DNDF lindung nilai guna mendukung pendanaan luar negeri. Kebijakan ini diharapkan dapat menstabilkan arus modal sekaligus mengurangi tekanan fluktuasi rupiah.
Bank Indonesia juga mengelola struktur suku bunga di pasar uang dengan memperkuat strategi operasi moneter yang berpihak pada pasar. Langkah ini dijalankan beriringan dengan upaya menjaga kecukupan likuiditas di sistem perbankan.
Di tengah gejolak global, BI menilai pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang negara-negara kawasan. Pelemahan rupiah tercatat relatif terbatas sebesar 0,67 persen secara kuartalan. Ketahanan ekonomi juga ditopang cadangan devisa yang meningkat menjadi 146,5 miliar dolar AS per akhir Agustus 2026. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.
Penulis : Tagor
Editor : Alan







