Washington DC-Mediadelegasi : Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, berencana mengumumkan perubahan nama Teluk Persia menjadi Teluk Arab saat kunjungan ke Timur Tengah. Rencana ini memicu kontroversi dan penolakan keras dari Iran.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengkritik rencana tersebut dan menyebutnya sebagai “niat bermusuhan” terhadap Iran dan rakyatnya. Ia menambahkan bahwa langkah ini tidak akan memiliki validitas atau efek hukum atau geografis, namun akan memicu kemarahan warga Iran.
Perubahan nama Teluk Persia telah lama menjadi topik sensitif secara politik dan budaya. Iran telah lama menentang penggunaan istilah selain “Teluk Persia” untuk perairan strategis ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pada tahun 2012, Iran mengancam akan mengambil tindakan hukum terhadap Google atas keputusannya untuk menghapus istilah “Teluk Persia” dari Google Maps dan membiarkan jalur air antara Iran dan semenanjung Arab tidak diberi nama. Perairan tersebut sekarang diberi label “Teluk Persia (Teluk Arab)” di negara lain.
Kontroversi serupa juga muncul pada masa jabatan pertama Trump sebagai presiden pada 2017, ketika ia menyebutnya sebagai “Teluk Arab”. Presiden Iran saat itu, Hassan Rouhani, menyarankan Trump untuk “mempelajari geografi”.
Pemerintah AS umumnya menggunakan istilah “Teluk Persia” dalam dokumen resmi. Namun, militer AS telah merujuk pada perairan itu sebagai “Teluk Arab” dalam berbagai pernyataan dan gambar selama bertahun-tahun.
Rencana perubahan nama ini diperkirakan akan meningkatkan ketegangan antara AS dan Iran. Iran telah mengancam akan menuntut perusahaan yang tidak menggunakan nama “Teluk Persia” dalam peta mereka.
Perubahan nama ini juga dapat mempengaruhi hubungan diplomatik antara AS dan negara-negara lain di Timur Tengah. Iran telah menegaskan bahwa perubahan nama ini tidak akan diterima dan akan memicu reaksi keras dari rakyat Iran. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.












