Toba Caldera Geopark Pasca Green Card 2005 dan Silver Award ADB 2025

Kamis, 9 Oktober 2025 - 11:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang (Foto:Ist)

Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang (Foto:Ist)

Samosir-Mediadelegasi : Tahun 2025 menjadi tonggak bersejarah bagi Toba Caldera UNESCO Global Geopark. Setelah melalui serangkaian evaluasi ketat oleh UNESCO Global Geopark Council, kawasan ini berhasil mempertahankan statusnya sebagai UNESCO Global Geopark dengan raihan Green Card. Penghargaan ini merupakan pengakuan atas komitmen berkelanjutan dalam pengelolaan kawasan geopark yang mengagumkan ini.

Tidak hanya itu, Toba Caldera juga meraih Silver Award dari Asian Development Bank (ADB) dalam ajang Geopark Smart Tourism. Penghargaan ini semakin mengukuhkan posisi Toba sebagai percontohan internasional dalam menyeimbangkan konservasi dan pembangunan berbasis komunitas.

Namun, keberhasilan meraih dua penghargaan bergengsi ini bukanlah akhir dari perjalanan. Sebaliknya, ini adalah titik awal untuk memasuki fase baru yang lebih kompleks dan menantang. Fase di mana geopark tidak hanya dipelihara sebagai simbol kehormatan, tetapi dijalankan sebagai instrumen transformasi ekologis, sosial, dan ekonomi yang nyata bagi masyarakat sekitar.

Konsep geopark sendiri jauh melampaui sekadar pemandangan indah dan bebatuan purba. Ia adalah paradigma pembangunan berkelanjutan yang menggabungkan keragaman geologi (geodiversitas), warisan geologi (geoheritage), dan lokasi geosite dengan pemberdayaan masyarakat, edukasi lingkungan, dan penguatan kearifan lokal.

Di Toba, geopark menjelma sebagai wajah utuh yang menghubungkan sejarah geologi kaldera supervulkanik dengan identitas budaya masyarakat Batak yang kaya. Status sebagai UNESCO Global Geopark bukan sekadar prestise global, melainkan sebuah kontrak tanggung jawab lintas generasi untuk menjaga dan melestarikan warisan alam dan budaya ini.

Terdapat tiga pilar utama yang harus terus diperkuat dalam pengelolaan Toba Caldera UNESCO Global Geopark:

  1. Perlindungan Geosite: Kawasan-kawasan penting seperti Bukit Holbung, Sipinsur, Huta Ginjang, dan Sigulatti harus dilindungi dari eksploitasi berlebihan dan alih fungsi yang dapat merusak keindahan dan keunikan geologisnya.
BACA JUGA:  Jumat Agung, TNI-Polri Lakukan Pengamanan Tempat Ibadah di Samosir

 

  1. Pusatkan Masyarakat Lokal sebagai Pelaku Utama: Masyarakat lokal bukan hanya objek wisata, melainkan subjek transformasi yang berperan aktif dalam konservasi, edukasi, dan pengembangan ekonomi geopark.

 

  1. Seimbangkan Infrastruktur dan Pelestarian: Pembangunan infrastruktur di kawasan geopark harus dilakukan dengan prinsip kehati-hatian, agar tidak tergelincir menjadi proyek pariwisata massal yang menggerus nilai konservasi.

Seringkali, perhatian konservasi lebih tertuju pada biodiversitas. Padahal, tanpa geodiversitas, keanekaragaman hayati tidak akan pernah ada. Geodiversitas adalah fondasi terbentuknya tanah, iklim, dan lanskap yang menopang kehidupan.

Geoheritage, seperti batuan metamorf Harian Boho, morfologi Sigulatti, hingga sejarah letusan supervulkanik Toba 74.000 tahun silam, adalah situs-situs yang menyimpan narasi evolusi bumi. Situs-situs ini perlu didokumentasikan secara ilmiah, dilindungi melalui regulasi hukum, dan ditransformasikan menjadi pusat edukasi dan sumber inspirasi lintas generasi.

Green Card dan Silver Award adalah sinyal kepercayaan internasional yang harus dijaga dan ditingkatkan. Kepercayaan tanpa tindak lanjut hanya akan menjadi catatan sejarah yang hampa. Oleh karena itu, ada empat agenda strategis yang harus segera dijalankan:

  1. Penguatan Kelembagaan Pengelola: Badan pengelola harus bersifat independen, profesional, dan transparan. Struktur yang jelas, kewenangan yang terukur, serta alokasi anggaran yang adil menjadi syarat mutlak agar pengelolaan geopark tidak terjebak dalam tarik ulur politik atau ego sektoral.

 

  1. Pemerataan Manfaat Geowisata: Ekonomi dari geopark harus menyentuh desa-desa terluar, seperti Pulau Tulas, Sianjur Mula-mula, Harian, hingga Onan Runggu. UMKM lokal, homestay rakyat, dan komunitas budaya harus diposisikan sebagai garda depan, bukan sekadar penonton pasif.

 

  1. Akselerasi Energi Bersih: Pembangunan SPPBE LPG di Harian adalah contoh integrasi cerdas antara geopark dan kebijakan energi bersih. Energi terbarukan harus menjadi standar baru untuk transportasi wisata, akomodasi, hingga rumah tangga. Ini tidak hanya menurunkan emisi, tetapi juga menekan biaya hidup masyarakat lokal.
BACA JUGA:  Pemprov Sumut Edukasi Siswa Sekolah tentang Pentingnya Menjaga Toba Caldera UNESCO Global Geopark

 

  1. Edukasi sebagai Gerakan Sosial: Literasi geopark harus masuk dalam kurikulum pendidikan dan program komunitas. Anak sekolah, mahasiswa, wisatawan, hingga pejabat publik perlu memahami bahwa geopark bukan hanya objek foto, tetapi living heritage yang harus dijaga bersama.

Geopark tidak boleh menjadi milik segelintir elite. Ia harus tumbuh sebagai proyek kolaboratif lintas elemen, di mana pemerintah menyusun regulasi, menyediakan insentif, dan menjamin perlindungan kawasan; pelaku usaha berinvestasi secara berkelanjutan dan etis; akademisi memberikan data, kajian, dan inovasi berbasis lokal; masyarakat menjadi penjaga, pengelola, sekaligus pewaris nilai-nilai geopark; dan media mendorong kesadaran publik dan kontrol sosial yang sehat.

Geopark bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah proses kolektif untuk menjaga bumi, membangun peradaban yang adil, dan memastikan generasi mendatang memiliki tempat hidup yang layak. Di Toba, geopark adalah jembatan antara sejarah geologi purba dan masa depan masyarakat Batak yang berdaya. Green Card dan Silver Award hanyalah awal dari perjalanan panjang untuk memastikan warisan ini tetap hidup, bukan hanya di atas kertas, tetapi di tengah masyarakat yang sejahtera dan lingkungan yang lestari.

Kini, saatnya untuk bergerak lebih bijak, lebih sistematis, dan lebih substansial. Karena yang kita jaga bukan sekadar tanah dan batu, tapi harapan generasi yang belum lahir. D|Red.

 

 

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

HUT GKPI Ke-62, Wabup Ariston Ajak Jemaat Perkuat Iman
Serentak Se-Sumut, Pemkab Samosir Hadirkan Gerakan Pangan Murah Bagi Masyarakat
Tim Gabungan Pemkab Samosir Hentikan Reklamasi Ilegal di Sempadan
Pemkab Samosir Perkuat Sinergi Percepatan Pendaftaran Tanah Wakaf
SMAN 1 Simanindo Keluar Sebagai Juara Turnamen Piala Bupati Samosir U-17
Program PM-AAS Gebrakan Baru Pertanian Samosir
Vandiko Gultom Sambut Kajari Baru Samosir, Tekankan Kolaborasi dan Restorative Justice
Bupati Samosir Bersama Kapolda Sumut Tanam Bawang Putih Serentak
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 31 Agustus 2026 - 17:31 WIB

HUT GKPI Ke-62, Wabup Ariston Ajak Jemaat Perkuat Iman

Senin, 31 Agustus 2026 - 17:09 WIB

Serentak Se-Sumut, Pemkab Samosir Hadirkan Gerakan Pangan Murah Bagi Masyarakat

Jumat, 28 Agustus 2026 - 15:30 WIB

Tim Gabungan Pemkab Samosir Hentikan Reklamasi Ilegal di Sempadan

Jumat, 28 Agustus 2026 - 12:43 WIB

Pemkab Samosir Perkuat Sinergi Percepatan Pendaftaran Tanah Wakaf

Senin, 24 Agustus 2026 - 21:05 WIB

SMAN 1 Simanindo Keluar Sebagai Juara Turnamen Piala Bupati Samosir U-17

Berita Terbaru

Kabupaten Labuhan Batu Utara

Pasar Rakyat dan Berobat Gratis Agrinas Palma Nusantara Diserbu Warga Labura

Rabu, 9 Sep 2026 - 21:48 WIB