Paritohan-Mediadelegasi: Di jantung Sumatera Utara, tepatnya di tepi Danau Toba yang megah, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) menjalankan operasi vital yang menjaga denyut nadi produksi aluminium nasional. Dari ruang kontrol senyap di Bendungan Sigura-gura, Inalum mengatur Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang memasok listrik sejauh 120 km ke Kuala Tanjung, tempat aluminium dilebur.
“Saat ini, kita berada di control room dari operasi PLTA PT Inalum. Ini bisa mengontrol seluruh proses dari mulai air Danau Toba hingga ke Kuala Tanjung,” ujar Nando Purba, Kepala Departemen Operasi dan Bendungan PT Inalum, saat menerima kunjungan media.
Bagi Inalum, Danau Toba bukan sekadar sumber air, melainkan “bahan bakar” utama yang harus dijaga mati-matian. Komitmen ini tercermin dari konsentrasi penuh perusahaan dalam menjaga Tinggi Muka Air (TMA) Danau Toba dalam rentang yang ketat, antara 902.4 mdpl hingga 905.05 mdpl.
Ambisi Produksi dan Tantangan Energi
Saat ini, PLTA Sigura-gura dan Tangga mampu menghasilkan listrik yang menggerakkan pabrik peleburan dengan kapasitas 277 ribu ton aluminium per tahun. Namun, dengan target ambisius mencapai 1 juta ton pada tahun 2030, Inalum menghadapi tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan listrik yang melonjak.
“Kalau dilihat dari segi harga, untuk saat ini yang paling murah ialah PLTA,” kata Purba, menyoroti dilema antara ambisi produksi dan kebutuhan energi murah.
Untuk mengatasi defisit daya, Inalum berupaya menjalin kemitraan grid dengan PT PLN (Persero), serta mempertimbangkan akuisisi PLTA Asahan 1 dan 3. Negosiasi harga listrik di bawah 5 sen dolar per kWh menjadi kunci agar produksi aluminium tetap kompetitif di pasar global.
Menepis Mitos “Menguras” Danau Toba
Di tengah upaya meningkatkan produksi, Inalum menegaskan komitmennya untuk menjaga kelestarian Danau Toba. Perusahaan menepis anggapan bahwa mereka hanya “menguras” air danau demi kepentingan produksi.
“Mereka pikir Inalum itu hanya menggunakan, menguras air Danau Toba untuk kepentingan Inalum. Ternyata kan sudah kita lihat, dari Januari 2024 sampai Oktober 2025, air itu kita jaga. Level Danau Toba itu kita jaga dengan baik,” tegas Purba.
Inalum juga memiliki Departemen Forestry yang bertugas melakukan konservasi hutan di sekitar Danau Toba dan Pulau Samosir, memastikan resapan air hujan yang optimal.
Strategi “Dua Wajah” Aluminium
Dalam sebuah pertemuan terpisah, Kepala Grup Proyek Inalum, Ismadi YS, mengungkapkan strategi “dua wajah” aluminium. Produk dari Kuala Tanjung akan tetap menyandang label “hijau” untuk pasar ekspor yang menuntut sertifikasi keberlanjutan, sementara kebutuhan domestik akan dipenuhi dari smelter baru di Mempawah, Kalimantan Barat, yang mungkin memanfaatkan energi dari PLTU batu bara.
“Manajemen menyusun skenario bagaimana membangun kerja sama dengan provider pembangkit di sana,” jelas Ismadi.
Dengan komitmen menjaga keseimbangan antara produksi dan konservasi lingkungan, Inalum bertekad menjaga Danau Toba sebagai “nyawa” perusahaan dan terus berkontribusi pada pembangunan industri aluminium nasional.D|Red
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.
j






