Mesin Rusak, KMP Mutiara Persada III Terombang-ambing 5 Hari di Laut, Penumpang Gelar Protes Minta Kejelasan

- Penulis

Selasa, 19 Mei 2026 - 13:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Terlihat sejumlah penumpang, sebagian besar sopir truk logistik, berkumpul dan beristirahat dengan wajah cemas menunggu kepastian waktu bersandar, sebelum akhirnya kapal tiba di Pelabuhan Panjang, Lampung, Selasa (19/5/2026).

Terlihat sejumlah penumpang, sebagian besar sopir truk logistik, berkumpul dan beristirahat dengan wajah cemas menunggu kepastian waktu bersandar, sebelum akhirnya kapal tiba di Pelabuhan Panjang, Lampung, Selasa (19/5/2026).

Lampung-Mediadelegasi: Sebuah video yang merekam aksi protes puluhan penumpang di atas Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Mutiara Persada III yang mengalami mesin rusak belakangan ini menjadi sorotan dan viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut, terlihat sejumlah penumpang yang mayoritas merupakan sopir truk pengangkut logistik berkumpul di dek kapal hingga mendatangi ruang nakhoda. Mereka meminta penjelasan dan kepastian waktu tiba, lantaran kapal mengalami kerusakan mesin dan terpaksa terombang-ambing selama berhari-hari di perairan Lampung Selatan.

Berdasarkan video yang diterima awak media, suasana di atas kapal tampak tegang namun belum terjadi kepanikan berlebihan. Para penumpang terlihat berkumpul di bagian luar kapal, ada yang duduk-duduk di sisi dek, namun tak sedikit pula yang berdiri di pagar pembatas sambil memandangi luasnya samudra tanpa tahu kapan bisa bersandar di daratan. Cuaca saat itu terlihat mendung dengan hembusan angin laut yang cukup kencang, menambah suasana mencekam di tengah ketidakpastian.

Terlihat pula pelampung keselamatan berwarna oranye yang tergantung di sisi kapal, seolah menjadi pengingat terus-menerus akan kondisi darurat yang sedang dialami. Kapal penyeberangan yang seharusnya menjadi sarana transportasi andalan itu justru berubah menjadi tempat penampungan sementara bagi ratusan orang yang terjebak di tengah laut akibat gangguan teknis yang tak kunjung selesai diperbaiki.

Keresahan penumpang semakin memuncak lantaran persediaan makanan dan air bersih di atas kapal dikabarkan mulai menipis seiring berjalannya waktu. Tanpa kepastian kapan masalah mesin akan selesai, kekhawatiran akan kebutuhan dasar pun muncul ke permukaan. Salah satu penumpang yang diwawancarai langsung mengungkapkan rasa kesalnya karena membawa muatan barang berharga namun malah terkatung-katung tanpa kejelasan.

BACA JUGA:  Simpul Fitnah Artifisial, JK Resmi Polisikan Rismon Sianipar

“Kami ini bawa barang, bawa muatan. Berhari-hari di sini enggak ada kejelasan, makan minum kami bagaimana?” ujar salah satu penumpang dalam rekaman video tersebut, saat berhadapan dengan kru kapal. Kekecewaan itu tak hanya disampaikan di dek, beberapa perwakilan penumpang bahkan memberanikan diri masuk hingga ke ruang kemudi untuk berdialog langsung dengan nakhoda agar ada solusi cepat.

Salah satu sopir truk yang juga menjadi saksi mata kejadian, Momo, menceritakan kronologi perjalanan nahas tersebut. Ia menjelaskan bahwa kapal berangkat dari Pelabuhan Cigading, Banten, menuju Pelabuhan Panjang, Lampung, pada Kamis (14/5/2026) sekitar pukul 04.00 WIB. Namun, nasib berkata lain saat kapal mulai melintas di sekitar wilayah perairan Pulau Sebuku, Lampung Selatan.

“Ada trouble mesin. Sempat dibenerin dan jalan lagi, tapi setelah lewat Pulau Sebuku trouble lagi,” ungkap Momo saat dihubungi awak media pada Selasa (19/5). Ia menuturkan bahwa pihak kru kapal sebenarnya sudah berusaha melakukan perbaikan berkali-kali di tengah laut. Bahkan, rasa penasaran dan kekhawatiran membuat sejumlah penumpang ikut turun hingga ke ruang mesin untuk melihat langsung kondisi kerusakan yang terjadi.

Akibat kerusakan yang berulang dan tak kunjung tuntas itu, para penumpang akhirnya harus bertahan dalam kondisi sulit selama lima hari lima malam di atas kapal sebelum akhirnya KMP Mutiara Persada III berhasil bergerak kembali dan bersandar dengan selamat di Pelabuhan Panjang. Selama masa pengapungan itu, masalah logistik pangan menjadi hal paling krusial yang dikeluhkan banyak pihak.

Momo menjelaskan, pola pemberian makanan yang awalnya hanya dilakukan dua kali sehari berubah menjadi tiga kali sehari setelah protes penumpang memanas dan kasus ini menjadi viral di masyarakat. Meski begitu, ia mengakui bahwa pihak kapal tetap menanggung kebutuhan makan dan minum seluruh penumpang, meskipun apa yang disajikan sangat sederhana dan seadanya, sebagaimana ketersediaan bahan yang ada di atas kapal.

BACA JUGA:  Teror Air Keras KontraS Masuk Sidang Militer

“Namanya di kapal ya makan seadanya, tapi tetap ditanggung,” tambahnya. Namun, persoalan gizi dan kenyamanan bukanlah satu-satunya kekhawatiran para sopir. Sebagian besar dari mereka mengangkut barang dagangan atau kebutuhan pokok, sehingga keterlambatan berhari-hari berisiko besar menimbulkan kerugian ekonomi, baik bagi pengemudi maupun pemilik barang.

Dalam kasus yang dialaminya, Momo membawa muatan bungkil kedelai untuk pakan ternak dari Jakarta menuju Lampung. Ia bersyukur jenis barang yang dibawanya tergolong barang kering yang tahan lama, namun ia tahu banyak rekannya yang membawa jenis barang lain yang jauh lebih berisiko rusak atau mengalami kualitas penurunan akibat keterlambatan pengiriman ini.

Terkait masalah kerugian tersebut, para sopir mendengar adanya rencana pemberian kompensasi sebesar Rp1 juta untuk setiap kendaraan yang tertahan. Namun, angka itu dinilai belum sebanding dengan risiko yang mereka hadapi, baik secara keselamatan, waktu, maupun potensi denda atau klaim dari pemilik barang. “Harapan pasti belum sesuai, karena ada risiko keterlambatan dan bisa kena klaim dari bos atau pemilik barang,” pungkas Momo, berharap insiden serupa tak terulang dan perbaikan sarana transportasi laut segera dilakukan. D|Red.

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Gunung Dukono Erupsi Lagi, Kolom Abu Membubung 3.000 Meter ke Langit
Dewan Pers Kecam Penangkapan 3 Jurnalis Indonesia oleh Militer Israel di Perairan Internasional
KPK Periksa 8 Pejabat RSUD Cilacap Terkait Dugaan Pemerasan Iuran THR oleh Bupati Nonaktif
5 WNI Misi Kemanusiaan Gaza Ditangkap Tentara Israel, GPCI: Ini Serangan Terhadap Kemanusiaan
Polda Metro Jaya Gagalkan Peredaran 32 Kg Sabu Jaringan Malaysia, Satu Kurir Ditangkap di Jakarta Utara
Menkeu Purbaya Jelaskan Konteks Ucapan Prabowo: Rakyat Desa Tak Pakai Dolar, Indonesia Kuat di Tengah Gejolak Global
Wakil Gubernur Sumbar Vasko Ruseimy Alami Kecelakaan Dini Hari, Mobil Dinas Hancur Tabrak Bak Truk
Meutya Hafid Tegaskan: Pertukaran Data RI-AS Hanya Lingkup Ekosistem Digital, Tak Ada Data Kependudukan

Berita Terkait

Selasa, 19 Mei 2026 - 13:07 WIB

Mesin Rusak, KMP Mutiara Persada III Terombang-ambing 5 Hari di Laut, Penumpang Gelar Protes Minta Kejelasan

Selasa, 19 Mei 2026 - 11:25 WIB

Gunung Dukono Erupsi Lagi, Kolom Abu Membubung 3.000 Meter ke Langit

Selasa, 19 Mei 2026 - 10:51 WIB

KPK Periksa 8 Pejabat RSUD Cilacap Terkait Dugaan Pemerasan Iuran THR oleh Bupati Nonaktif

Selasa, 19 Mei 2026 - 10:26 WIB

5 WNI Misi Kemanusiaan Gaza Ditangkap Tentara Israel, GPCI: Ini Serangan Terhadap Kemanusiaan

Senin, 18 Mei 2026 - 17:41 WIB

Polda Metro Jaya Gagalkan Peredaran 32 Kg Sabu Jaringan Malaysia, Satu Kurir Ditangkap di Jakarta Utara

Berita Terbaru