Medan-Mediadelegasi: Pelaksanaan nonton bareng (nobar) Piala Dunia yang digelar Pemerintah Kota Medan di kawasan Kota Tua Kesawan, Minggu (28/6/2026), menuai perhatian publik. Sorotan bukan tertuju pada jalannya pertandingan, melainkan pada pengaturan tempat duduk antara jajaran pejabat dan masyarakat yang hadir.
Berdasarkan foto dan video yang beredar di media sosial, Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas bersama sejumlah pejabat tampak duduk di kursi pada barisan terdepan menghadap layar utama. Di sisi lain, sebagian besar masyarakat terlihat menyaksikan pertandingan dengan duduk di atas aspal maupun berdiri di belakang area yang ditempati para pejabat.
Perbedaan fasilitas tersebut memicu beragam tanggapan di media sosial. Sebagian warganet mempertanyakan apakah sebuah kegiatan yang ditujukan untuk masyarakat seharusnya memberikan kenyamanan yang lebih setara kepada seluruh peserta. Namun, ada pula yang berpendapat pengaturan kursi bagi pejabat dimungkinkan berkaitan dengan kebutuhan protokoler maupun teknis penyelenggaraan.
Salah satu komentar yang menarik perhatian datang dari akun Instagram @pakdosentraveller yang menulis, “Kita yang menggaji mereka kenapa kt yang di aspal????” Komentar tersebut mendapat perhatian pengguna lain dan menjadi salah satu respons yang mencerminkan pandangan sebagian masyarakat terhadap pengaturan tempat duduk dalam acara tersebut.
Di sisi lain, terdapat pula warganet yang mengingatkan agar penilaian dilakukan secara proporsional. Menurut mereka, pengaturan kursi bisa saja disesuaikan dengan kapasitas kegiatan dan kebutuhan protokoler, sementara esensi utama kegiatan nobar tetap sebagai ajang kebersamaan masyarakat.
Sebelumnya, Pemerintah Kota Medan melalui sejumlah pemberitaan menyampaikan bahwa kegiatan nobar di Kesawan digelar untuk mempererat kebersamaan warga sekaligus memberikan ruang bagi masyarakat menikmati pertandingan Piala Dunia bersama. Wali Kota Rico Waas juga hadir dan berbaur dalam kegiatan tersebut.
Meski demikian, dokumentasi yang beredar di media sosial memunculkan persepsi berbeda di kalangan sebagian masyarakat. Dalam kegiatan yang melibatkan publik, aspek simbolik seperti pengaturan tempat duduk, akses, dan fasilitas kerap menjadi perhatian karena dinilai dapat memengaruhi citra pelayanan pemerintah.
Hingga berita ini ditulis, belum terdapat penjelasan resmi dari Pemerintah Kota Medan yang secara khusus menerangkan alasan pengaturan posisi tempat duduk pada kegiatan tersebut. Karena itu, berbagai tanggapan yang berkembang saat ini masih merupakan respons publik yang muncul dari dokumentasi yang beredar di media sosial.
Perdebatan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya menilai substansi sebuah kegiatan, tetapi juga simbol-simbol yang menyertainya. Bagi sebagian warga, semangat kebersamaan dalam acara publik dinilai akan lebih terasa apabila seluruh peserta menikmati kegiatan dengan fasilitas yang lebih setara. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.
Penulis : Tagor
Editor : Alan






