NASA Ungkap Rahasia Kebakaran Gambut Indonesia: Api Menyala di Bawah Tanah, Sulit Padam Hingga Hujan Turun

Jumat, 4 September 2026 - 11:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Citra satelit NASA menampilkan kepulan asap tebal hasil kebakaran hutan dan lahan yang menyelimuti luas wilayah Indonesia, khususnya Kalimantan dan Sumatera, pada awal September 2026. Tebaran asap yang tampak menyatu dengan awan ini menjadi bukti nyata meluasnya kebakaran gambut yang dapat membara di bawah tanah dan memproduksi polusi udara dalam jumlah sangat besar. Foto: Ist.

Citra satelit NASA menampilkan kepulan asap tebal hasil kebakaran hutan dan lahan yang menyelimuti luas wilayah Indonesia, khususnya Kalimantan dan Sumatera, pada awal September 2026. Tebaran asap yang tampak menyatu dengan awan ini menjadi bukti nyata meluasnya kebakaran gambut yang dapat membara di bawah tanah dan memproduksi polusi udara dalam jumlah sangat besar. Foto: Ist.

Jakarta-Mediadelegasi: Kebakaran hutan dan lahan yang melanda Indonesia ternyata menyimpan ancaman tersembunyi yang tidak selalu tampak dari permukaan. Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengungkapkan fakta mengkhawatirkan terkait kebakaran di kawasan lahan gambut, yang justru paling berbahaya karena dapat terus membara di bawah tanah dan sangat sulit dipadamkan hingga hujan turun kembali.

Peringatan tersebut disampaikan NASA di tengah memburuknya situasi kebakaran hutan dan lahan di Indonesia pada musim kemarau tahun 2026. Kondisi kering yang ekstrem diperparah oleh pengaruh fenomena El Niño yang kuat, sehingga memperluas kawasan rawan kebakaran dan meningkatkan risiko meluasnya api hingga ke lapisan gambut.

Citra satelit yang diambil oleh instrumen MODIS pada satelit Aqua milik NASA pada tanggal 1 September 2026 memperlihatkan aktivitas kebakaran yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia. Titik-titik merah yang tampak pada peta menunjukkan anomali panas yang terdeteksi oleh sensor, menandakan lokasi terjadinya kebakaran. Namun, bahaya terbesar justru sering kali tidak tampak dari pandangan luar angkasa.

Masalah paling serius muncul ketika api dari permukaan telah merambat masuk ke dalam lapisan gambut. Lahan gambut memiliki karakteristik yang sangat berbeda dari tanah atau vegetasi biasa. Selama kandungan airnya cukup tinggi, gambut relatif sulit terbakar. Namun ketika kekeringan menurunkan muka air tanah secara drastis, lapisan gambut yang mengering berubah menjadi bahan bakar yang sangat mudah terbakar.

Setelah api masuk ke dalam lapisan gambut, pembakaran tidak lagi berlangsung di permukaan saja. Api dapat terus menjalar dan membara di bawah tanah melalui lapisan gambut yang kering dan dalam. Inilah yang membuat kebakaran gambut menjadi jenis kebakaran paling sulit dikendalikan, karena sumber apinya tersembunyi di bawah permukaan tanah.

NASA menyebut kebakaran gambut dikenal sebagai kebakaran yang berjalan lambat, menghasilkan polusi asap yang sangat besar, dan terkenal sulit dipadamkan. Api tersebut dapat terus membara pada suhu yang relatif rendah namun tak kunjung padam, serta menjalar secara bawah tanah melalui lapisan gambut yang luas hingga muncul kembali di permukaan tempat yang berbeda.

Peneliti dari Universitas Columbia yang tergabung dalam tim NASA, Robert Field, menjelaskan bahwa api yang sudah masuk ke bawah tanah memiliki karakter yang jauh lebih sulit dikendalikan dibandingkan kebakaran biasa di atas permukaan. “Kebakaran permukaan tidak terlalu mengkhawatirkan, namun begitu api merambat ke bawah tanah, api tersebut tak kunjung padam,” ungkap Field dalam laman resmi NASA.

BACA JUGA:  Prabowo Turun Langsung ke Lokasi Karhutla Kalbar, Tinjau Pemadaman dan Pastikan Penanganan Optimal

Artinya, bahaya kebakaran gambut bukanlah sekadar kobaran api yang terlihat menjalar di atas permukaan tanah. Di bawah lapisan tanah yang tampak tenang, bahan bakar berupa gambut kering dapat terus menyala dan menjadi sumber api yang tak kunjung habis. Di permukaan, kawasan tersebut mungkin hanya tampak mengeluarkan asap tipis atau bahkan terlihat sudah padam, padahal di bawahnya pembakaran masih berlangsung.

Kondisi tersembunyi inilah yang membuat pemadaman menjadi jauh lebih rumit dan sulit diprediksi. Api dapat kembali muncul di tempat yang jauh dari titik awal pembakaran tanpa peringatan yang tampak jelas. Selama lapisan gambut masih kering dan belum jenuh air, api bawah tanah akan terus bergerak dan menyala.

Field bahkan menegaskan bahwa kebakaran semacam ini dapat terus bertahan dan menyala tanpa henti hingga hujan turun dengan lebat. “Api akan terus menyala hingga hujan turun pada bulan Oktober atau November,” ujarnya menjelaskan bahwa satu-satunya cara yang paling efektif memadamkan api gambut adalah dengan kembalinya curah hujan yang cukup untuk menaikkan kembali muka air tanah.

Ancaman kebakaran gambut menjadi semakin serius pada tahun 2026 ini karena sebagian besar wilayah Indonesia mengalami kekeringan yang ekstrem. Data badan meteorologi Indonesia mencatat sekitar 90 persen wilayah Indonesia mengalami sedikit atau bahkan tidak mendapat hujan sama sekali pada awal Agustus 2026.

Padahal dalam kondisi normal, kawasan gambut yang tersebar di Kalimantan, Sumatera, dan Papua cenderung terlalu basah sehingga api sulit menjalar jauh ke bawah tanah. Namun ketika muka air tanah turun drastis akibat kemarau panjang, lapisan gambut yang sebelumnya terlindungi air berubah menjadi tumpukan bahan bakar raksasa yang siap terbakar kapan saja.

Kondisi kering yang memicu meluasnya kebakaran gambut saat ini diperburuk oleh fenomena El Niño yang kuat. NASA menyebut El Niño membuat musim kemarau di wilayah Indonesia menjadi jauh lebih kering dibandingkan kondisi normal. Selain itu, fase positif Indian Ocean Dipole yang berlangsung bersamaan turut memperparah kekeringan yang melanda.

BACA JUGA:  Kabut Asap Karhutla Melanda Pekanbaru, Siswa PAUD–SMP Belajar Daring Senin

Pola kebakaran yang terjadi pada awal musim kemarau 2026 ini pun mulai mengingatkan pada peristiwa kebakaran besar tahun 2015. Robert Field menyampaikan bahwa aktivitas kebakaran di Indonesia baru memasuki sekitar tiga minggu musim kemarau, namun peningkatannya sudah sangat tajam dan menunjukkan pola yang serupa dengan tahun 2015.

Pada tahun 2015, kebakaran gambut di Indonesia berlangsung selama lebih dari tiga bulan dan menghasilkan emisi gas rumah kaca setara sekitar 1,75 miliar ton. Dampak asap yang ditimbulkan saat itu meluas hingga ke negara tetangga dan menelan kerugian yang sangat besar bagi perekonomian dan kesehatan masyarakat.

Hingga tanggal 2 September 2026, kebakaran yang telah berlangsung sekitar satu bulan diperkirakan sudah menghasilkan emisi sekitar 10 persen dari total yang dilepaskan selama kebakaran besar tahun 2015. Angka tersebut menunjukkan betapa cepatnya dampak kebakaran gambut dapat membesar ketika kondisi kemarau berlangsung dalam tingkat ekstrem.

Kondisi ini menuntut kewaspadaan luar biasa dari seluruh pihak. Karena api gambut dapat menyembunyikan diri di bawah tanah dan kembali muncul sewaktu-waktu, upaya pemantauan dan pemadaman harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan. Setiap titik panas yang terdeteksi dari citra satelit perlu ditindaklanjuti dengan pengecekan langsung di lapangan.

Masyarakat pun diimbau untuk tidak melakukan pembakaran lahan dengan alasan apa pun, karena api yang tampaknya kecil dan terkendali dapat dengan mudah masuk ke lapisan gambut dan berubah menjadi bencana yang sulit diatasi. Pencegahan menjadi jauh lebih utama daripada upaya pemadaman yang sangat sulit dilakukan ketika api sudah masuk ke bawah tanah.

Dengan diperkirakan hujan baru turun secara signifikan pada bulan Oktober atau November mendatang, tantangan penanganan kebakaran gambut di Indonesia masih akan berlangsung cukup lama. Selama gambut belum jenuh air, ancaman api bawah tanah yang terus menyala akan tetap membayangi dan dapat kembali meluas kapan saja. D|Red.

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

Penulis : Tagor

Editor : Alan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Heboh Syarat STNK Beli BBM Subsidi, Pertamina Resmi Batalkan Rencana Itu
Mabes TNI Evaluasi Kehadiran Prajurit TNI AL di Acara Kontes Kecantikan Transgender Thailand
Kejagung Usut Dugaan Aliran Uang Rp40 Miliar dari Tan Kian ke Febrie Adriansyah
Bank Dunia Sebut 64,2% Warga Indonesia Miskin, BPS Bongkar Beda Standar Penilaian
Pesawat Garuda Indonesia GA604 Pecah Ban Saat Lepas Landas, Mendarat Selamat di Makassar
Febrie Adriansyah Tiba di Kejagung Tangan Diborgol, Diperiksa Terkait Kasus TPPU Rp543 Miliar
Roy Suryo Pertanyakan Gelar Honours Hilang dari SK Penyetaraan Ijazah S1 Gibran
Destry Damayanti Resmi Dilantik Jadi Gubernur BI, Pimpin Bank Sentral Periode 2026–2031
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 12:08 WIB

Heboh Syarat STNK Beli BBM Subsidi, Pertamina Resmi Batalkan Rencana Itu

Jumat, 4 September 2026 - 11:34 WIB

NASA Ungkap Rahasia Kebakaran Gambut Indonesia: Api Menyala di Bawah Tanah, Sulit Padam Hingga Hujan Turun

Kamis, 3 September 2026 - 16:22 WIB

Kejagung Usut Dugaan Aliran Uang Rp40 Miliar dari Tan Kian ke Febrie Adriansyah

Kamis, 3 September 2026 - 13:40 WIB

Bank Dunia Sebut 64,2% Warga Indonesia Miskin, BPS Bongkar Beda Standar Penilaian

Kamis, 3 September 2026 - 13:06 WIB

Pesawat Garuda Indonesia GA604 Pecah Ban Saat Lepas Landas, Mendarat Selamat di Makassar

Berita Terbaru

Ketua PW ISMI Sumut Prof DR Nispul Khoiri MAg (kanan) saat malam penganugerahan Gelar Maestro Komposer Melayu Ahmad Baqi di Medan. Foto: ist

Kota Medan

ISMI Sumut: Sangat Pantas, Ada Jl Ahmad Baqi di Medan

Kamis, 3 Sep 2026 - 21:29 WIB