Wilmar juga menyoroti pentingnya peran BP TCUGGp dalam menjaga arah dan konsistensi implementasi, sementara PPTSB dinilai memiliki kekuatan sosial yang strategis melalui jaringan komunitas dan kedekatan kultural sebagai motor perubahan di tingkat akar rumput.

Diskusi yang berlangsung antara pimpinan PPTSB yang ikut hadir di antaranya Eduard Sinaga, Aldon Sinaga, dan Yas Sinaga, serta turut dihadiri Ketua Yayasan PPTSB Hombar Sinaga dan anggota Dewan Pakar PPTSB Osbet Sinaga, bersama para Manager BP TCUGGp yang hadir lengkap pada kesempatan itu, yakni Petrus Parlindungan Purba, Tikwan Raya Siregar, dan Ovi Vensus Samosir, turut menekankan perlunya pelibatan generasi muda dalam jaringan geopark global, pengembangan ruang edukasi seperti museum tematik, serta penguatan program berbasis rekomendasi UNESCO. Semua ini diarahkan untuk memastikan geopark tidak hanya menjadi simbol, tetapi benar-benar menjadi ruang hidup yang mengintegrasikan konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat.
Kegiatan ditutup dengan ramah tamah, namun pesan yang ditinggalkan tegas: kolaborasi ini tidak boleh berhenti sebagai dokumen. Dari tepian Danau Toba, dunia diingatkan kembali bahwa menjaga bumi bukan sekadar wacana, melainkan kerja nyata lintas generasi—dari komitmen menuju aksi, dari rencana menuju dampak. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.







