Hari Nusantara Harus jadi Momentum Penguatan Budaya

Hari Nusantara Harus jadi Momentum Penguatan Budaya
Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Jambi Prof Dr. Sihol Situngkir, MBA (kedua kanan) dan Kepala Batakologi Universitas HKBP Nommensen Medan Manguji Nababan, SS (kiri) saat menjadi narasumber dalam acara Dialog Interaktif "HorasMedan" yang dipandu Redaktur Pelaksana Mediadelegasi Maruli Agus Salim (kanan), di studio Mediadelegasi Medan, Selasa (13/12). Foto: Nanda

Staf Ahli Menteri Sektetaris Negara RI tahun 2011-2014 ini juga berharap peringatan Hari Nusantara yang diperingati setiap tanggal 13 Desember menjadi momentum penting dalam rangka meneguhkan kedaulatan laut Indonesia serta melindungi dan menyejahterakan nelayan kecil.

Budaya Batak
Sementara itu, dosen dan Kepala Batakologi Universitas HKBP Nommensen Medan Manguji Nababan menilai, era globalisasi dengan kemajuan teknologi sangat pesat dewasa ini terutama teknologi informasi turut berperan mendegradasi pemahaman generasi muda terhadap budaya bangsa Indonesia, termasuk budaya Batak.

Salah satu dampak negatif dari perkembangan teknologi informasi sekarang ini, katanya, munculnya fenomena di kalangan sebagian generasi muda Batak Toba yang di kampung halamannya sendiri mulai enggan menggunakan bahasa asli daerah mereka.

Bacaan Lainnya

Padahal, sebut Manguji, pintu masuk kebudayaan dan adat istiadat di setiap daerah adalah bahasa.

Di satu sisi, menurut dia, teknologi informasi memiliki banyak dampak positif karena memudahkan kehidupan sehari-hari, tetapi di sisi lain terdapat dampak negatif yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Dikatakan Manguji, dampak dari globalisasi sudah tidak bisa terbendung lagi dan efek negatifnya dapat dilihat dari berbagai fakta yaang terjadi di tengah-tengah masyarakat dewasa ini, seperti terjadinya krisis moral dan karakter.

Moral dan karakter yang sangat lemah dinilai menjadi pemicu terjadinya berbagai kasus pelanggaran hukum, antara lain korupsi, anarkisme, dan konflik yang berujung pada kekerasan individual atau golongan.

Ia juga mengkhawatirkan bakal semakin banyak generasi muda kehilangan jati diri karena dampak dari modernisasi dan globalisasi yang tidak dapat dielakkan.

Modernisasi dan globalisasi, ujar Manguji, dipastikan telah memberi ekses negatif pada generasi muda yakni membuat pemahaman mereka terhadap nilai-nilai moral dan adat istiadat dalam masyarakat menjadi tergerus.

“Perlu upaya semua pihak untuk meminimalkan dampak negatif teknologi informasi, karena tanpa disadari lama kelamaan akan terus mendegradasi pemahaman masyarakat termasuk generasi muda terhadap karakter dan budaya bangsa sendiri,” paparnya.

Disebutkannya, pendekatan budaya oleh para orang tua sangat efektif untuk menanamkan pendidikan karakter dan nilai moral pada anak. D|Red-04

Pos terkait