Medan-Mediadelegasi: Peringatan Hari Nusantara Tahun 2022 harus mampu menjadi momentum penguatan budaya dan kearifan lokal agar tidak semakin tergerus oleh derasnya arus globalisasi.
Pernyataan tersebut ditekankan oleh Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Jambi Prof Dr. Sihol Situngkir, MBA dan Kepala Batakologi Universitas HKBP Nommensen Medan Manguji Nababan, SS dalam Dialog Interaktif “HorasMedan” yang digelar Mediadelegasi di Medan, Selasa (13/12).
Dalam dialog interaktif bertema ‘Nusantara Pemersatu Keberagaman’ tersebut, kedua akademisi ini juga menyatakan sependapat tentang pentingnya melahirkan kembali semangat gotong royong di kalangan masyarakat sebagai upaya nyata mencerminkan kekuatan dan kekompakan bangsa untuk maju dan berbudaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sihol Situngkir mengaku turut prihatin karena sebagian besar generasi muda saat ini tidak lagi mengetahui makna di balik gotong royong, bahkan tidak peduli pada perkembangan seni, budaya, kearifan lokal dan adat istiadat leluhur mereka akibat pengaruh globalisasi.
Tidak hanya itu, kata Sihol, perkembangan globalisasi juga berdampak terhadap berubahnya adat istiadat menjadi budaya moderen dan banyak dianut oleh kalangan generasi muda saat ini.
Karena itu, dia juga mengatakan sangat setuju dengan pendapat yang menyatakan perlunya dihidupkan kembali pendidikan moral Pancasila di sekolah.
“Nilai-nilai Pancasila kalau tidak terinternalisasi pada diri siswa maka dikhawatirkan akan hilang. Sekarang yang diperlukan, bagaimana caranya menginternalisasi nilai-nilai Pancasila pada diri siswa,” tambahnya.
Lebih lanjut Sihol menegaskan bahwa Pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah bersama masyarakat perlu bekerja keras untuk lebih gencar melestarikan kekayaan seni, budaya serta adat istiadat yang di dalamnya terdapat beragam kearifan lokal yang sangat bermanfaat jika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Dibutuhkan kerja keras dan “sense of action” dari semua pihak untuk menumbuhkan kembali kesadaran masyarakat dalam melestarikan adat istiadat maupun budaya daerah dan nasional sebagai penguatan jati diri bangsa,” ucap mantan Rektor Unika Santo Thomas Medan itu.
Melalui penguatan budaya dan adat istiadat, Sihol meyakini masyarakat dengan dibarengi semangat gotong royong akan mampu mengembangkan potensi ekonomi dan budaya sebagai satu kesatuan yang utuh.
Dalam sektor ekonomi kelautan, misalnya, nelayan tradisional dengan didukung pembinaan dari pemerintah disertai pendampingan dari kalangan sumber daya manusia (SDM) unggul akan mampu menghasilkan beragam produk berbasis perikanan yang berkualitas dan memiliki daya saing dari aspek pemasaran.
Staf Ahli Menteri Sektetaris Negara RI tahun 2011-2014 ini juga berharap peringatan Hari Nusantara yang diperingati setiap tanggal 13 Desember menjadi momentum penting dalam rangka meneguhkan kedaulatan laut Indonesia serta melindungi dan menyejahterakan nelayan kecil.
Budaya Batak
Sementara itu, dosen dan Kepala Batakologi Universitas HKBP Nommensen Medan Manguji Nababan menilai, era globalisasi dengan kemajuan teknologi sangat pesat dewasa ini terutama teknologi informasi turut berperan mendegradasi pemahaman generasi muda terhadap budaya bangsa Indonesia, termasuk budaya Batak.
Salah satu dampak negatif dari perkembangan teknologi informasi sekarang ini, katanya, munculnya fenomena di kalangan sebagian generasi muda Batak Toba yang di kampung halamannya sendiri mulai enggan menggunakan bahasa asli daerah mereka.
Padahal, sebut Manguji, pintu masuk kebudayaan dan adat istiadat di setiap daerah adalah bahasa.
Di satu sisi, menurut dia, teknologi informasi memiliki banyak dampak positif karena memudahkan kehidupan sehari-hari, tetapi di sisi lain terdapat dampak negatif yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Dikatakan Manguji, dampak dari globalisasi sudah tidak bisa terbendung lagi dan efek negatifnya dapat dilihat dari berbagai fakta yaang terjadi di tengah-tengah masyarakat dewasa ini, seperti terjadinya krisis moral dan karakter.
Moral dan karakter yang sangat lemah dinilai menjadi pemicu terjadinya berbagai kasus pelanggaran hukum, antara lain korupsi, anarkisme, dan konflik yang berujung pada kekerasan individual atau golongan.
Ia juga mengkhawatirkan bakal semakin banyak generasi muda kehilangan jati diri karena dampak dari modernisasi dan globalisasi yang tidak dapat dielakkan.
Modernisasi dan globalisasi, ujar Manguji, dipastikan telah memberi ekses negatif pada generasi muda yakni membuat pemahaman mereka terhadap nilai-nilai moral dan adat istiadat dalam masyarakat menjadi tergerus.
“Perlu upaya semua pihak untuk meminimalkan dampak negatif teknologi informasi, karena tanpa disadari lama kelamaan akan terus mendegradasi pemahaman masyarakat termasuk generasi muda terhadap karakter dan budaya bangsa sendiri,” paparnya.
Disebutkannya, pendekatan budaya oleh para orang tua sangat efektif untuk menanamkan pendidikan karakter dan nilai moral pada anak. D|Red-04












