Medan-Mediadelegasi: Kejanggalan proses rekrutmen Calon Dosen (Cados) tetap Non PNS Badan Layanan Umum (BLU) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) terus menuai sorotan.
Presiden Alumni UINSU, TGB Dr Ahmad Sabban El-Rahmaniy Rajagukguk MA buka suara.
Kepada wartawan, Sabtu (20/11), TGB Ahmad Sabban mengatakan Menteri Agama Republik Indonesia Yaqut Cholil Qoumas harus turun tangan dan bertindak serta melakukan evaluasi terhadap Pansel yang dibentuk Rektor UINSU Prof Dr Syahrin Harahap MA.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
BACA JUGA: Aroma Uang Pelicin Menyengat di Balik Kasus Penerimaan Cados UINSU
Alasannya, kejanggalan proses seleksi Cados diikuti 1.614 peserta untuk mengisi 65 formasi itu telah viral di masyarakat dan berpotensi membuat citra UINSU jelek. “Kementerian Agama harus segera menyikapi ini dan mengevaluasi pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam perekrutan itu,” ujar TGB Ahmad Sabban.
Terlebih, katanya, jika benar ada orang yang tidak mendaftar atau tidak lulus administrasi tapi kemudian namanya muncul sebagai peserta yang lulus Tes Kemampuan Dasar (TKD) serta mengikuti tahap Seleksi Wawancara, maka hal itu sangat memalukan.
“Jika itu benar, itu membuktikan Pansel tidak profesional dan diduga ada permainan dalam perekrutan itu dan telah melanggar etika lembaga pendidikan tinggi. Apalagi juga ada informasi, ada peserta yang mendaftar pada formasi tertentu tetapi di luluskan pada formasi yang tidak ia daftar. Ini bertentangan dengan prinsip etika moral akedemik dan spirit wahdatul ulum yang saat ini sedang dikembangkan, dimana praktik integrasi ilmu seyogyanya tercermin pada seleksi ini,” papar Ahmad Sabban.
Selain itu, Ahmad Sabban juga meminta Menteri Agama bertindak dan memerintahkan pihak UINSU melakukan perekrutan ulang Dosen Tetap BLU Non PNS dengan terlebih dahulu mengganti seluruh Pansel. Dalam perekrutan ulang, Pansel harus transparan dan membuat rangking serta skor setiap peserta pada semua tahapan seleksi.
Persoalan ini menurutnya tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena hanya akan membuat citra UINSU semakin terpuruk dan membuat masyarakat enggan untuk mengkuliahkan anak-anaknya di UINSU. D|Red












