Tidak hanya warga sipil, tenaga kesehatan yang bertugas membantu korban juga turut terdampak. Jafarian mengungkapkan sedikitnya 55 tenaga medis mengalami luka-luka akibat serangan selama konflik berlangsung.
Sementara itu, sebanyak 11 tenaga kesehatan dilaporkan meninggal dunia saat menjalankan tugas kemanusiaan untuk menolong para korban serangan.
Korban dari kalangan tenaga medis tersebut terdiri atas empat dokter, dua perawat, serta tiga petugas layanan darurat yang berada di lokasi saat serangan terjadi.
Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran diketahui mulai memanas sejak Sabtu, 28 Februari 2026. Sejak saat itu, berbagai serangan udara, peluncuran rudal, serta operasi militer dilaporkan terus terjadi di sejumlah wilayah strategis.
Situasi tersebut memicu kekhawatiran dunia internasional akan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah. Selain menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar, perang juga berdampak pada lonjakan harga minyak dunia serta meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.








