Medan Perkuat Kolaborasi Atasi Banjir

Medan Perkuat Kolaborasi Atasi Banjir
Kepala BMKG Wilayah I Medan Hendro Nugroho (kedua kanan) menjadi narasumber dalam Dialog Interaktif HorasMedan bersama narasumber lain Kepala Bappeda Kota Medan Benny Iskandar (kanan), Kepala Bidang Tata Kelola Air dan Drainase Perkotaan Dinas PU Kota Medan Gibson Panjaitan (kedua kiri) dan Kepala Seksi Keterpaduan Infrastruktur Sumber Daya Air Balai Wilayah Sungai Sumatera II Mayjen Sinema Telaumbanua (kiri), di studio Mediadelegasi Medan, Sabtu (3/12). Foto: Dingot Turnip

Bendungan Lau Simeme merupakan salah satu proyek stretegis nasional (PSN) yang jika selesai dikerjakan kelak akan menjadi salah satu infrastruktur pengendali banjir di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang.

Intesitas tinggi
Sementara itu, Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah I Medan Hendro Nugroho, membenarkan, hujan dengan intensitas tinggi atau ekstrem menjadi salah satu faktor penyebab banjir di Medan beberapa pekan lalu.

Berdasarkan analisis dan catatan BMKG Wilayah I Medan, puncak musim hujan di Kota Medan berlangsung hingga akhir November 2022.

Bacaan Lainnya

“Untuk wilayah Sumatera Utara, termasuk Kota Medan puncak musim hujan tahun 2022 terjadi pada Oktober dan November,” ucap Hendro.

Berdasarkan monitoring BMKG, puncak intensitas curah hujan pada Oktober dan Nopember 2022 di Medan dan sekitarnya tergolong tinggi dan masuk kategori sarat beban, yakni mencapai 108 mm per hari.

Meski demikian, kata dia, musim hujan di Medan dan sekitarnya diprakirakan masih terjadi hingga akhir Desember 2022.

BACA JUGA: Ada Tiga Faktor Penyebab Banjir di Medan

Sedangkan puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Sumut tahun 2023 diprediksi terjadi mulai Februari hingga Juni.

Pada kesempatan acara dialog interaktif itu, Hendro menuturkan bahwa fenomena La Nina “triple-dip” 2020-2023 (tiga tahun beruntun) menjadi ancaman bagi banyak negara di dunia, termasuk Indonesia.

Fenomena ini akan berpengaruh terhadap pola cuaca di Indonesia, di antaranya menyebabkan sebagian wilayah Indonesia mengalami musim hujan lebih awal. “La Nina merupakan fenomena cuaca ekstrem yang ditandai dengan tingginya curah hujan,” paparnya.

Hendro menambahkan, bagi masyarakat yang ingin mendapatkan informasi secara cepat dan akurat tentang cuaca, gempa, peta iklim, kualitas udara, cuaca maritim, cuaca bandara, titik panas, peringatan dini dan lainnya dapat mengunduh aplikasi Info BMKG.

Aplikasi ini dibuat dan dikembangkan oleh insan BMKG dengan menggunakan open data BMKG dan dapat diunduh secara gratis di Apps Store serta Google Play. D|Red-04

Pos terkait