Medan-Mediadelegasi: Pasangan Bobby Nasution dan Aulia Rahman, banyak diperbincangkan berbagai kalangan dalam sepekan terakhir.
Pasangan muda ini memiliki masing-masing kelebihan. Berangkat dari profesi yang sama yaitu sebagai Pengusaha, kedua tokoh muda ini tentu sangat memahami dunia usaha dan politik. Karena di antara keduanya saling berkaitan.
“Yang terpenting bagi masyarakat Kota Medan nantinya, bagaimana mendapatkan Pemimpin yang memiliki kemampuan dalam memimpin”, ujar Faisal Riza pengamat sosial politik UIN Sumut.
Menurut Faisal Riza, pasangan Bobby-Aulia, merupakan perpaduan dari dua kelompok besar etnis yang ada di Kota Medan. Mandailing dan Melayu. Bahkan pasangan ini juga mendapatkan dukungan dari sejumlah elemen masyarakat Kota Medan.
“Pasangan Bobby-Aulia merupakan pasangan saling melengkapi, sama-sama berusia muda dan memiliki latar belakang profesi yang sama yaitu menggeluti dunia usaha, modal inilah rasanya cukup menjadi pilihan masyarakat Medan, di saat munculnya apatisme publik Kota Medan ketika tiga walikota terdahulu bermasalah secara hukum”, ujar peneliti muda ini kepada Mediadelegasi, Sabtu (25/7), di Kampus UIN Jalan Sutomo Medan.
Terkait dengan isu politik identitas yang selalu menyertai perjalanan politik, kandidat Doktor ini menguraikan, bahwa politik identitas suatu hal yang kerap terjadi di perhelatan politik, terutama di kota-kota besar seperti Kota Medan ini.
”Ini menjadi aneh juga bahwa politik identitas tidak berlaku di Kabupaten/Kota lainnya di Sumatera Utara yang pemilihnya mayoritas muslim, ini memang ada sebuah sistem yang di skenario kan, seolah-olah ini pertarungan agama”, tambahnya.
Soal pemilih pemula, terkhusus generasi millenial ini merupakan segmentasi politik yang cukup bagus, jika di eksplor secara maksimal.
“Bobby merupakan representasi generasi muda dari segi usia, dan memiliki peluang besar, diharapkan seluruh tim mampu memaksimalkan gagasan dan ide besar Bobby kepada generasi millennial,” katanya.
Riza juga mengungkapkan, dan bukan hanya generasi millenial saja, generasi kolonial juga harus direkrut. “Generasi kolonial maksudnya kelompok yang feodalistik, tapi ini juga harus didorong agar berkontribusi memberikan vote ke Bobby,” tambah Riza.
Terkait dengan politisasi agama, Faizal Riza memberikan beberapa catatan, bahwa politisasi agama memang didisain untuk tujuan politik.
Menurutnya, politik identitas sekali lagi saya terangkan, isu ini memang digiring untuk mempengaruhi pilihan politik, tapi Bobby bersyukur, ada Aulia Rahman yang tercatat sebagai salah satu Santri di Pondok Pesantren Ponorogo Jawa Timur.
“Ini bagus sebagai kekuatan penyimbang dari diksi dan narasi politik perihal pertarungan politik terkait agama”, terangnya peneliti muda UIN Sumut ini.
Banyak pihak yang meragukan kemampuan orang muda untuk memimpin, apalagi memimpin Kota sebesar Medan.
Menurut Riza, itu teori orangtua yang tidak siap berkompetisi secara baik. “Jadi dikotomi tua dan muda bukan lagi sebuah diskursus politik yang di perdebatkan, tua dan muda harus dilihat sejauh mana keberanian dia dalam mengambil keputusan secara bijak, tidak ragu”, tambahnya
Soal kesiapan pemilu nanti, apakah tingkat partisipan pemilih akan meningkat di tengah pandemi covid ini, jika merujuk ke Pemilu lalu, dengan tegas di jawab Faisal Riza, bahwa itu tergantung kesiapan KPU Kota Medan melakukan sosialisasi kepada masyarakat.
“Kuncinya ada di KPU Kota Medan, seberapa besar mereka mampu mensosialisasikan pemilu ini kepada masyarakat,” jelasnya. D|Med-67







