Rupiah Menguat 142 Poin ke Rp17.755 per Dolar AS, Didukung Sentimen Destry Damayanti & Pelonggaran Suku Bunga Fed

Senin, 10 Agustus 2026 - 16:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi transaksi nilai tukar mata uang, menampilkan lembaran rupiah berdampingan dengan dolar Amerika Serikat. Rupiah pada penutupan perdagangan Senin (10/8/2026) menguat 142 poin ke posisi Rp17.755 per dolar AS, didukung sentimen kebijakan moneter dan pelonggaran ekspektasi kenaikan suku bunga Fed. Foto: Ist.

Ilustrasi transaksi nilai tukar mata uang, menampilkan lembaran rupiah berdampingan dengan dolar Amerika Serikat. Rupiah pada penutupan perdagangan Senin (10/8/2026) menguat 142 poin ke posisi Rp17.755 per dolar AS, didukung sentimen kebijakan moneter dan pelonggaran ekspektasi kenaikan suku bunga Fed. Foto: Ist.

Jakarta-Mediadelegasi: Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan hari Senin, 10 Agustus 2026. Mata uang Indonesia ditutup menguat sebanyak 142 poin atau setara 0,79 persen ke posisi Rp17.755 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.897 per dolar AS.

Penguatan tersebut juga tercermin pada kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate yang ditetapkan Bank Indonesia. JISDOR hari ini berada di level Rp17.795 per dolar AS, naik dari posisi sebelumnya yang tercatat di angka Rp17.913 per dolar AS.

Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah ini didukung oleh beberapa faktor sekaligus, baik dari sisi dalam negeri maupun sentimen global. Dari sisi domestik, kondisi Indeks Keyakinan Konsumen yang masih bertahan di zona optimistis menjadi penopang utama.

Bank Indonesia sebelumnya melaporkan IKK periode Juli 2026 berada di angka 116,8, sedikit turun dibandingkan capaian Juni 2026 sebesar 117,8. Meski demikian, level yang masih berada di atas angka 100 menandakan masyarakat secara umum masih memegang pandangan positif terhadap kondisi ekonomi nasional.

BACA JUGA:  BI Siaga Jaga Rupiah, Pelemahan Dipicu Konflik Timur Tengah dan Lonjakan Kebutuhan Dolar

“Konsumen secara umum masih optimistis terhadap kondisi ekonomi, meski tingkat keyakinannya terus menurun dalam tiga bulan terakhir,” ujar Ibrahim menjelaskan makna penurunan tersebut. Ia mengingatkan agar tren penurunan ini tetap dicermati karena berpotensi memengaruhi daya beli rumah tangga.

Selain faktor IKK, sentimen positif datang dari pengusulan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia definitif. Pasar menyambut baik keberlanjutan kepemimpinan dari kalangan internal BI yang dinilai menjamin kontinuitas kebijakan moneter dan menjaga stabilitas nilai tukar.

Destry Damayanti yang saat ini menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior sekaligus Penjabat Gubernur Sementara BI diusulkan melalui Surat Presiden kepada DPR RI. Keberlanjutan arah kebijakan ini menjadi sinyal stabilitas yang sangat dihargai oleh para pelaku pasar keuangan.

Dari sisi perekonomian global, harapan kesepakatan terkait Selat Hormuz antara Iran dan Oman ikut meredakan ketegangan geopolitik. Meski belum sepenuhnya tuntas, pembicaraan yang memasuki tahap akhir mengurangi risiko gangguan jalur perdagangan dunia dan menekan permintaan aset aman dolar AS.

Faktor lain yang memperkuat rupiah adalah meredanya kekhawatiran terhadap tekanan inflasi di Amerika Serikat. Bersama data ketenagakerjaan yang melemah, pelaku pasar mulai memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada pertemuan September mendatang.

BACA JUGA:  Rupiah Menguat ke Rp17.860 per Dolar AS: Dampak Meredanya Ketegangan AS-Iran dan Proyeksi Ekonomi Positif

Berdasarkan perhitungan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga Fed pada September kini turun menjadi sekitar 42 persen, anjlok tajam dari perkiraan pekan lalu yang masih mencapai 67 persen. Semakin kecil kemungkinan kenaikan suku bunga AS, semakin menarik aset mata uang negara berkembang seperti rupiah.

Perhatian pasar kini tertuju pada rilis data Indeks Harga Konsumen Amerika Serikat untuk bulan Juli yang akan dirilis pada Rabu, 12 Agustus 2026. Ekonom memproyeksikan inflasi tahunan AS turun dari 3,5 persen menjadi 3,4 persen, dan inflasi inti turun dari 2,6 persen menjadi 2,5 persen.

Data inflasi tersebut nantinya akan menjadi penentu arah kebijakan moneter Fed sekaligus pergerakan dolar AS dalam jangka pendek. Jika data inflasi AS benar-benar melandai seperti perkiraan, maka penguatan rupiah berpotensi berlanjut pada perdagangan pekan ini. D|Red.

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

Penulis : Miranda

Editor : Alan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rupiah Tertekan Dolar AS, BI Siapkan Strategi Penjagaan Stabilitas Nilai Tukar
Wamenhaj Dahnil Anzar Bantah Isu Anaknya Terlibat Bullying di Sekolah ICM Tangsel, Sebut Hoaks
Kalapas Cibinong Nonaktif Akui Perintah Pindahkan Barang, Yanuar: Anda Bohongi Rakyat Indonesia
Ombudsman RI Jelaskan Alasan Tak Hadir RDP Komisi XIII DPR Bahas Fasilitas Mewah Lapas Cibinong
Ferdy Sambo Diperiksa Kemenimipas Terkait Temuan Fasilitas Mewah di Lapas Cibinong
Ombudsman Tak Hadir RDP Komisi XIII DPR Bahas Fasilitas Mewah Lapas Cibinong, Dirjen Pas Diminta Jelaskan
Kementerian Imipas Nonaktifkan 5 Pejabat Lapas Cibinong usai Temuan Fasilitas Mewah Berstandar Apartemen
Wagub Surya Tetapkan Target SAKIP Pemprov Sumut Naik BB pada 2026, Lalu A pada 2028
Berita ini 28 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 16:31 WIB

Rupiah Tertekan Dolar AS, BI Siapkan Strategi Penjagaan Stabilitas Nilai Tukar

Senin, 28 September 2026 - 16:23 WIB

Wamenhaj Dahnil Anzar Bantah Isu Anaknya Terlibat Bullying di Sekolah ICM Tangsel, Sebut Hoaks

Senin, 28 September 2026 - 16:06 WIB

Kalapas Cibinong Nonaktif Akui Perintah Pindahkan Barang, Yanuar: Anda Bohongi Rakyat Indonesia

Senin, 28 September 2026 - 15:21 WIB

Ombudsman RI Jelaskan Alasan Tak Hadir RDP Komisi XIII DPR Bahas Fasilitas Mewah Lapas Cibinong

Senin, 28 September 2026 - 11:43 WIB

Ombudsman Tak Hadir RDP Komisi XIII DPR Bahas Fasilitas Mewah Lapas Cibinong, Dirjen Pas Diminta Jelaskan

Berita Terbaru