Membangun Dengan Kesadaran Ekologis
Ke depan, pembangunan Samosir harus berlandaskan kesadaran ekologis jangka panjang, selaras dengan RPJMD, SDGs, dan agenda Danau Toba.
Pendekatan ekoteologis menegaskan bahwa alam bukan sekadar sumber daya, melainkan titipan moral dan budaya yang harus dijaga.
Kebijakan publik, pariwisata, dan investasi harus diarahkan untuk mengoptimalkan kesejahteraan warga sambil menjaga daya dukung ekosistem, melalui pariwisata berbasis desa dan budaya, konservasi hutan, serta pengelolaan sumber daya air yang bijak.
Inilah lompatan strategis yang menjadikan Samosir maju secara berkelanjutan, adil, dan harmonis dengan alam serta warisan budaya.
Mendengar Warga: Kunci Melompat
Lompatan tidak akan terjadi jika pembangunan hanya ditentukan dari balik meja. Investasi dan proyek harus dimulai dengan mendengar suara masyarakat. Warga bukan penonton, apalagi penghambat
Partisipasi warga sejak tahap perencanaan, disertai informasi jujur dan persetujuan bebas, membuat pembangunan lebih kuat, berumur panjang, dan diterima. Tanpa itu, yang muncul hanyalah konflik, resistensi, dan ketidakpercayaan.
Pariwisata Berkelanjutan dan Desa Sebagai Motor Perubahan
Samosir harus melompat dari pariwisata cepat menuju pariwisata berkelanjutan, yang menekankan desa sebagai unit pembangunan.
Wisata budaya, alam, dan pengalaman lokal memberi manfaat langsung bagi warga tanpa merusak lingkungan. Desa menjadi pusat inovasi ekonomi dan pelestarian budaya, sementara pemerintah menyiapkan regulasi, pendanaan, dan monitoring berbasis data.
Pendekatan ini juga menjawab isu lingkungan secara sistematis: konservasi air dan hutan, pengelolaan sampah, dan mitigasi risiko bencana menjadi bagian dari strategi pembangunan.
Sehingga pertumbuhan ekonomi dan pelestarian alam berjalan seiring, bukan saling bertentangan.
Saatnya Berani Melompat
Samosir di usia 22 tahun telah membuktikan mampu berjalan sendiri. Itu pencapaian penting. Namun tantangan zaman menuntut lebih dari sekadar berjalan. Kita perlu keberanian melompat-menuju pembangunan yang adil, pelayanan manusiawi, dan pengelolaan alam bijak.
Melompat bukan berarti tergesa-gesa. Melompat berarti memilih arah yang benar, menyiapkan pijakan kuat, dan melibatkan semua pihak dalam perjalanan. Daerah yang benar-benar maju bukan yang paling banyak membangun, tetapi yang paling dirasakan manfaatnya oleh rakyat dan paling mampu.*
Penulis|Wilmar Eliaser Simandjorang






