Bagaimana urgensinya proyek SPAM Regional Mebidang terhadap suplay kebutuhan air bersih hingga konon menghabiskan anggaran Rp700 miliar?
SPAM Regional Mebidang merupakan kerjasama pemerintah pusat, provinsi, kabupaten dan kota. Karena Kota Medan sudah tidak punya sumber air baku lagi. Sungai Sunggal, Sungai Deli, ada beberapa sungai di Medan, itu sudah tidak bisa dipakai sebagai air baku.
Dengan SPAM Regional Mebidang, diharapkan dapat mengatasi sumber air baku pada satu daerah kota, sementara pada satu daerah kota atau kabupeten lain ada sumber air baku. Jadi kelebihan daerah itu disatukan untuk mengisi keterbatasan air baku menjadi satu dalam sisitem penyediaan air bersih.
Ada studi yang dilakukan dan telah berkoordinasi dengan Direktorat Air minum sebelumnya, diketahui ada kelangkaan sumber air baku di Kota Medan, tapi ini dapat dipenuhi oleh Kota Binjai, jadi disatukanlah penyediaan air minumnya dalam satu SPAM Regional Mebidang.
Dan kita harus ingat bahwasanya ada RT RW nasional yang mencakup pembangunan secara terpadu dan komperhensip di Mebidangro (Medan Binjai Deliserdang Karo).
Maka dari dasar itu dari Kementerian PUPR menginisiasi kegitan SPAM Regional Mebidang.
Baik, kenapa harus dari Sungai Bingai, sehingga harus membelah Jalinsum Medan-Binjai untuk menanam pipa Jaringan Distribusi Utama (JDU) sepanjang 36 kilometer, dan sepanjang 3 kilometer ada di ruas Jalinsum Medan-Binjai?
Ya!! Hasil studi konsultan dari Balai Wilayah Sungai, Dinas Pengairan diketahui dari hasil perhitungan secara empiris, Sungai Bingai memiliki kapasitas ketersediaan air di atas 6.000 liter perdetik. Tapi yang dilaksanakan pada pengerjaan tahap I ini masih menyedot 1.100 liter perdetik.