Tragedi Siswa Gantung Diri di Simanindo, Komnas PA Samosir Ungkap Dugaan Bullying Dipicu Curhat Ekonomi di Medsos

Tragedi Siswa Gantung Diri
Ketua Komnas Perlindungan Anak (PA) Kabupaten Samosir, Ria Gurning (kedua dari kiri) saat melakukan kunjungan kepada keluarga almarhum anak SMA yang tewas bunuh diri di Desa Hutaginjang, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir pada Minggu, (29/3/2026) lalu.

Samosir-Mediadelegasi: Tragedi siswa gantung diri di Desa Hutaginjang, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, yang menimpa seorang pelajar SMA berinisial PS (15), masih didalami oleh Komnas Perlindungan Anak (PA) Kabupaten Samosir. Korban ditemukan meninggal dunia pada Minggu (29/3/2026). Dari hasil kunjungan langsung ke rumah duka, terungkap adanya dugaan bullying yang berawal dari curahan kondisi ekonomi keluarga di media sosial.

Tragedi Siswa Gantung Diri di Samosir Diduga Dipicu Bullying dan Tekanan Ekonomi

Hal itu terungkap ketika Komnas Perlindungan Anak (PA) Kabupaten Samosir melakukan kunjungan kepada keluarga almarhum anak SMA yang tewas bunuh diri di Desa Hutaginjang, Kecamatan Simanindo pada Minggu, (29/3/2026) lalu.

Kunjungan Komnas PA dipimpin Ketuanya Ria Gurning. Selain menyampaikan ucapan dukacita mendalam sembari memberikan bantuan, pihaknya juga ingin mengetahui lebih jauh tentang meninggalnya PS (15 tahun).

Bacaan Lainnya

Kepada Komnas PA Kabupaten Samosir, kedua orangtua korban bercerita dengan jujur tanpa ada tekanan.
Dari penuturan keluarga, kematian PS disebut bermula dari kondisi ekonomi keluarga yang terindikasi memicu bullying dari teman-teman korban, terutama melalui ejekan yang menyebut nama ayahnya langsung, sementara di adat Batak penyebutan nama orang tua sangat tabu dikalangan remaja.

Baca Juga : https://mediadelegasi.id/gempa-bitung-m7-6-picu-tsunami-bmkg-akhiri-peringatan-dini/

“Ini bermula dari Ibu korban bercerita dimedsos dengan keadaan ekonomi yang menyampaikan tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah,” ujar Ketua Komnas PA Samosir, Ria Gurning menirukan pernyataan orang tua korban, pada Selasa 31 Maret 2026.

Sembari memberikan penguatan, Ria Gurning bersama seluruh tim memberikan nasihat supaya jangan pernah menumpahkan keluh kesah di media sosial yang berujung kesedihan sehingga mempengaruhi keadaan psikis anak-anak.

“Nasihat kami kepada mama korban juga didukung oleh Ayah Korban dan langsung meminta untuk di hapus, dan setelah kami cek memang sudah dihapus,” ujar Ria Gurning.

Menurut keterangan ibu korban, PS juga kerap merasa minder karena tidak mampu mengikuti kebiasaan teman-teman sekolahnya dalam hal makanan.

“Biasanya makan tiga kali sehari tapi kami cuma makan dua kali bahkan kadang sekali sehari, itupun pakai Indomie telur saja,” kembali Ria Gurning menyampaikan pernyataan Ibu Korban yg didampingi suaminya TS.

Pada liburan Idul Fitri, korban sempat meminta izin pergi ke Medan untuk menemui kakek dan neneknya (Ompung). Namun keinginan itu tidak dipenuhi orang tuanya lantaran tidak memiliki biaya.

Pos terkait