Kunta mengatakan bahwa saat ini stigma sosial terhadap orang dengan tuberkulosis masih melekat di masyarakat, baik stigma di lingkungan keluarga, tempat kerja, bahkan fasilitas pelayanan kesehatan.
Padahal, mestinya orang terinfeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis ini mendapat dukungan dari keluarga hingga masyarakat untuk berobat.
“Teman-teman penderita TB ini harus dikasih dukungan karena mereka sedang berjuang untuk sembuh. Jangan dihindari atau dikucilkan, tapi justru diajak dan didukung untuk berobat,” kata Kunta saat Kampanye TOSS TBC (Temukan, Obati, Sampai Sembuh) di Car Free Day Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada Minggu, 9 November 2025.
Di kesempatan yang sama, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Moderasi Beragama Kemenko PMK, Profesor Ojat Darojat, mengatakan hal serupa. Gotong royong diperlukan dalam upaya eliminasi TBC.
Profesor Ojat mengatakan bahwa semua pihak harus bergotong royong agar penyakit ini bisa hilang dari Indonesia. Selain itu, perlu dilakukan penemuan kasus TBC secara aktif dan memastikan pengobatan tuntas.
Hingga kini, hampir 4.000 desa dan kelurahan siaga TBC telah terbentuk di 90 kabupaten/kota di 22 provinsi yang ada di Indonesia. Kabupaten Bogor diharapkan menjadi salah satu wilayah yang memperkuat gerakan ini.
Desa atau Keluarga Siaga TBC adalah inovasi yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, memperkuat pencegahan, dan mempererat kerja sama dalam mengentaskan penyakit TBC. Indonesia lewat Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021 menetapkan target eliminasi TBC pada 2030 dengan menurunkan angka insiden dari 387 per 100.000 penduduk menjadi 65 per 100.000 penduduk. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.








