Oleh karena itu, pendidikan Kristen menambahkan dimensi yang lebih dalam: pembaruan hati melalui Injil Kristus. Anak tidak hanya perlu diajarkan kebenaran, tetapi juga diubahkan oleh kebenaran itu.
Locke percaya bahwa tubuh dan pikiran saling terkait. Dalam pandangan Kristen, keseimbangan ini diperluas menjadi tubuh, pikiran, dan roh.
Pendidikan bukan hanya tentang kebugaran jasmani dan kecerdasan intelektual, tetapi juga tentang kedewasaan rohani, yaitu bagaimana seseorang hidup dalam hubungan yang benar dengan Tuhan, sesama, dan dirinya sendiri.
Jika Locke hidup di zaman sekarang, ia mungkin akan memperingatkan kita agar tidak terjebak dalam obsesi menciptakan manusia yang secerdas mesin, sambil melupakan bagaimana menjadi manusia yang berhati nurani.
AI dapat memproses data lebih cepat daripada manusia, tetapi tidak dapat memahami makna, kasih sayang, atau kebenaran moral. Inilah mengapa pendidikan di Indonesia harus berfokus pada pembentukan karakter dan spiritualitas, agar generasi muda tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga menguasai diri mereka sendiri.
Dalam menyongsong era AI, kita harus belajar dari Locke, tetapi juga melampauinya. Kita menerima semangatnya yang menekankan rasionalitas, pengalaman, dan pembentukan karakter, tetapi kita menambahkan dasar moral dan spiritual yang bersumber dari Injil.
Pendidikan masa depan Indonesia tidak boleh kehilangan wajah kemanusiaannya. Kita tidak sedang mendidik algoritma, tetapi jiwa-jiwa yang hidup, anak-anak yang akan tumbuh menjadi manusia yang cerdas, berakhlak, dan penuh kasih.
Mungkin inilah saatnya kita memperbarui definisi pendidikan nasional: bukan sekadar “mencerdaskan kehidupan bangsa”, tetapi juga menyucikan hati bangsa melalui nilai-nilai kebenaran dan kasih Kristus. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.






