Wilmar Simandjorang: Mendidik Algoritma atau Jiwa? Dilema Pendidikan di Era Kecerdasan Buatan

Kamis, 30 Oktober 2025 - 15:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wilmar Simandjorang (Foto:Ist)

Wilmar Simandjorang (Foto:Ist)

Samosir-Mediadelegasi : Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), dunia pendidikan dihadapkan pada pertanyaan mendasar: apakah tujuan utama pendidikan adalah sekadar menghasilkan individu yang mahir secara digital, atau membentuk manusia yang berakhlak dan bijaksana?

Pertanyaan ini membawa kita kembali kepada pemikiran klasik John Locke (1632–1704), seorang filsuf Inggris yang gagasannya tentang pendidikan tetap relevan hingga abad ke-21.

Melalui karya-karyanya yang monumental, seperti “Some Thoughts Concerning Education” (1693) dan “An Essay Concerning Human Understanding” (1690), Locke menekankan bahwa pendidikan sejati bukan hanya tentang transfer pengetahuan, tetapi juga tentang pembentukan karakter, penalaran moral, dan kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan.

Bagi Locke, pendidikan dimulai dengan pembentukan karakter. Ia berpendapat bahwa kebajikan adalah kebutuhan mendasar bagi setiap individu, karena tanpa kebajikan, kebahagiaan sejati tidak akan terwujud.

Locke menekankan pentingnya penguasaan diri (self-government), yaitu kemampuan untuk mengendalikan keinginan dan mempertimbangkannya dengan akal sehat. Anak-anak perlu dilatih sejak dini untuk menunda kepuasan sesaat demi mencapai kebaikan yang lebih besar di masa depan.

Dalam konteks Indonesia yang sedang beradaptasi dengan revolusi digital, gagasan ini sangat relevan. Dunia maya menawarkan kebebasan tanpa batas, tetapi juga membuka peluang bagi penyimpangan etika. Oleh karena itu, pendidikan kita tidak hanya perlu mengajarkan literasi digital, tetapi juga menumbuhkan literasi moral dan spiritual.

Locke dengan tegas menentang praktik pendidikan yang keras dan menakutkan. Ia percaya bahwa disiplin sejati tumbuh dari penalaran yang sehat, bukan dari rasa takut.

BACA JUGA:  Vandiko Gultom Tinjau Mess Pemkab Samosir di Medan

Menurut Locke, pendidikan harus membangkitkan rasa ingin tahu alami pada anak, bukan menekannya. Proses belajar harus dibuat menyenangkan dan interaktif, bukan kaku dan penuh tekanan.

Di era kecerdasan buatan, di mana pembelajaran sering kali bergantung pada algoritma dan sistem evaluasi digital, pesan Locke ini menjadi pengingat penting agar pendidikan tetap berpusat pada manusia (human-centered learning), bukan hanya pada angka-angka.

Locke dikenal luas dengan konsep tabula rasa, atau “lembaran kosong”. Ia berpendapat bahwa manusia dilahirkan tanpa pengetahuan bawaan; semua ide dan pemahaman diperoleh melalui pengalaman, baik melalui indra maupun refleksi pikiran.

Gagasan ini menjadi dasar pandangan empiris dalam pendidikan modern, yang menekankan bahwa anak belajar melalui pengalaman, bukan sekadar hafalan.

Namun, dari sudut pandang pendidikan Kristen, pandangan Locke ini tidak sepenuhnya dapat diterima secara teologis. Alkitab mengajarkan bahwa manusia tidak dilahirkan netral, melainkan telah membawa natur dosa sejak dalam kandungan.

Oleh karena itu, pendidikan Kristen menambahkan dimensi yang lebih dalam: pembaruan hati melalui Injil Kristus. Anak tidak hanya perlu diajarkan kebenaran, tetapi juga diubahkan oleh kebenaran itu.

Locke percaya bahwa tubuh dan pikiran saling terkait. Dalam pandangan Kristen, keseimbangan ini diperluas menjadi tubuh, pikiran, dan roh.

BACA JUGA:  Bupati Lantik Pejabat Eselon lll Tanpa Rekomendasi Wakil Bupati

Pendidikan bukan hanya tentang kebugaran jasmani dan kecerdasan intelektual, tetapi juga tentang kedewasaan rohani, yaitu bagaimana seseorang hidup dalam hubungan yang benar dengan Tuhan, sesama, dan dirinya sendiri.

Jika Locke hidup di zaman sekarang, ia mungkin akan memperingatkan kita agar tidak terjebak dalam obsesi menciptakan manusia yang secerdas mesin, sambil melupakan bagaimana menjadi manusia yang berhati nurani.

AI dapat memproses data lebih cepat daripada manusia, tetapi tidak dapat memahami makna, kasih sayang, atau kebenaran moral. Inilah mengapa pendidikan di Indonesia harus berfokus pada pembentukan karakter dan spiritualitas, agar generasi muda tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga menguasai diri mereka sendiri.

Dalam menyongsong era AI, kita harus belajar dari Locke, tetapi juga melampauinya. Kita menerima semangatnya yang menekankan rasionalitas, pengalaman, dan pembentukan karakter, tetapi kita menambahkan dasar moral dan spiritual yang bersumber dari Injil.

Pendidikan masa depan Indonesia tidak boleh kehilangan wajah kemanusiaannya. Kita tidak sedang mendidik algoritma, tetapi jiwa-jiwa yang hidup, anak-anak yang akan tumbuh menjadi manusia yang cerdas, berakhlak, dan penuh kasih.

Mungkin inilah saatnya kita memperbarui definisi pendidikan nasional: bukan sekadar “mencerdaskan kehidupan bangsa”, tetapi juga menyucikan hati bangsa melalui nilai-nilai kebenaran dan kasih Kristus. D|Red.

 

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pengadilan Negeri Balige Eksekusi Lahan Warisan Keluarga Simbolon di Pangururan
Rumah Batak Manifestasi Etika Kristen dan Penatalayanan Ciptaan, Kata Wilmar Simandjorang
PTUN Medan Batalkan Sertifikat Hak Pakai Pemkab Samosir, Pemerintah Ajukan Banding
Samosir Kembangkan Bawang Putih Demi Swasembada Pangan, Bupati Vandiko dan Kapolda Sumut Tinjau Langsung Lokasi Tanam
​Wabup Ariston Dorong Kualitas Data untuk Sukseskan Sensus Ekonomi 2026 di Samosir
Gali Potensi Pariwisata, Pemkab Samosir Dukung Produksi Film ‘Pulang Kampung
Melestarikan Tradisi Leluhur, Pemkab Samosir Sukses Gelar Ritual Horja Bius di Pusuk Buhit
Pererat Sinergi Pariwisata, Wakil Walikota Medan Kunjungi Waterfront Pangururan Samosir
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 08:54 WIB

Pengadilan Negeri Balige Eksekusi Lahan Warisan Keluarga Simbolon di Pangururan

Kamis, 6 Agustus 2026 - 11:34 WIB

Rumah Batak Manifestasi Etika Kristen dan Penatalayanan Ciptaan, Kata Wilmar Simandjorang

Kamis, 16 Juli 2026 - 12:08 WIB

PTUN Medan Batalkan Sertifikat Hak Pakai Pemkab Samosir, Pemerintah Ajukan Banding

Kamis, 11 Juni 2026 - 10:49 WIB

Samosir Kembangkan Bawang Putih Demi Swasembada Pangan, Bupati Vandiko dan Kapolda Sumut Tinjau Langsung Lokasi Tanam

Kamis, 4 Juni 2026 - 19:01 WIB

​Wabup Ariston Dorong Kualitas Data untuk Sukseskan Sensus Ekonomi 2026 di Samosir

Berita Terbaru

Kabupaten Labuhan Batu Utara

Tindaklanjuti Instruksi DPP, Golkar Labura Gelar Pleno Persiapan Musda 2026

Jumat, 7 Agu 2026 - 17:53 WIB

Foto: Jilbab berlogo bordir “Asri” hasil pengadaan Bagian Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Deli Serdang sebanyak 15.000 lembar senilai Rp525 juta. Harga satuan yang ditetapkan Rp35.000 disorot JIPI karena dinilai jauh lebih tinggi dari harga pasar sejenis yang diperkirakan hanya sekitar Rp15.000 per lembar.

Kabupaten Deli Serdang

Jilbab Rp525 Juta, Kainnya yang Mahal atau Angkanya yang Bikin Bertanya?

Jumat, 7 Agu 2026 - 17:16 WIB