Menapaki Jalan Ilmu dan Perjuangan: Refleksi Akhir Tahun 2025 Rizqi Almaajid

Medan-Mediadelegasi: Menutup tahun 2025, Rizqi Almaajid, S.Pd., menuliskan refleksi mendalam tentang perjalanan hidup, intelektual, dan aktivisme yang ia jalani sepanjang tahun. Catatan akhir tahun bertajuk “Jalan Ilmu, Jalan Perjuangan” ini menjadi bentuk muhasabah atas amanah, proses, serta nilai-nilai perjuangan yang terus ia rawat di tengah arus zaman yang semakin pragmatis.

Tahun 2025 saya tutup dengan refleksi sederhana namun mendasar: apakah ilmu dan gerakan hari ini masih berjalan seiring, atau justru saling meninggalkan? Di tengah zaman yang serba instan dan pragmatis, ilmu kerap direduksi menjadi alat legitimasi, sementara aktivisme terjebak pada rutinitas simbolik yang miskin arah perubahan.

Sebagai mahasiswa magister di Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara, saya memaknai pendidikan tinggi bukan sekadar ruang meraih gelar, melainkan medan jihad intelektual. Kampus seharusnya menjadi ruang pembentukan nalar kritis dan keberpihakan sosial, bukan pabrik teknokrat yang tercerabut dari realitas umat. Ilmu yang kehilangan orientasi nilai hanya akan melahirkan kecakapan tanpa nurani.

Di ranah gerakan mahasiswa, amanah sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Syarikat Islam memberi pelajaran penting tentang kepemimpinan. Organisasi bukan soal struktur dan jabatan, melainkan proses kaderisasi dan pembentukan karakter. Memimpin berarti melayani, bekerja dalam sunyi, serta menjaga idealisme agar tidak mudah runtuh oleh kepentingan jangka pendek dan godaan pragmatisme politik.

Pengalaman mendampingi isu halal melalui Lembaga Pendamping Proses Produk Halal (LP3H) Halal Center Syarikat Islam Provinsi Sumatera Utara mempertegas bahwa dakwah dan perjuangan umat harus hadir secara konkret. Isu halal bukan semata persoalan administratif, melainkan menyangkut perlindungan konsumen, etika ekonomi, dan tanggung jawab moral negara dan pelaku usaha. Ketika halal direduksi menjadi formalitas, maka yang terancam bukan hanya kepercayaan publik, tetapi juga martabat umat.

Pos terkait