22 tahun, bukan usia yang pendek bagi sebuah kabupaten seperti Samosir. Pada titik ini, sebuah daerah seharusnya sudah mengenal dirinya-tahu kekuatannya, memahami kelemahannya, dan berani menentukan arah ke depan.
Kabupaten Samosir patut bersyukur karena sudah berjalan: pemerintahan ada, pembangunan tampak, dan kehidupan masyarakat relatif stabil. Namun jujur harus dikatakan: kita belum melompat.
Berjalan artinya roda pemerintahan berputar. Jalan dibangun, kantor berdiri, program dilaksanakan.
Baca Juga :Dr. Wilmar Simandjorang: Pemindahan Keramba di Danau Toba Bukan Solusi, Tapi Pindahkan Masalah
Tetapi melompat berarti lebih dari itu: ada perubahan nyata dalam kualitas hidup warga, kemajuan yang dirasakan merata, dan arah pembangunan yang jelas.
Hasilnya Belum Merata
Di usia Samosir 22 Tahun, kemajuan fisik di Samosir mudah dilihat. Pariwisata tumbuh, terutama di desa-desa tertentu. Pendapatan daerah meningkat, dan Indeks Pembangunan Manusia perlahan naik.
Namun jika kita turun ke desa-desa jauh dari pusat wisata, ceritanya berbeda. Banyak warga hidup dalam ekonomi informal yang rapuh, sementara kesempatan kerja belum merata. Ketimpangan antar desa masih terasa nyata.
Ini menunjukkan bahwa pembangunan kita masih lebih terlihat di permukaan, belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Berjalan sudah, tetapi lompatan kesejahteraan belum terasa bersama.
Pelayanan Publik
Pemekaran kabupaten bertujuan mendekatkan layanan kepada rakyat. Sekarang layanan memang lebih dekat, tetapi belum selalu lebih mudah. Mengurus izin, administrasi kependudukan, dan layanan dasar masih sering lambat dan berbelit.
Digitalisasi hadir, tetapi sering berhenti pada aplikasi, belum menjadi cara kerja yang benar-benar membantu warga.
Jika masyarakat masih merasa lelah berurusan dengan birokrasi, maka kita belum melompat menuju pemerintahan yang melayani. Birokrasi harus berani berubah: lebih sederhana, cepat, dan berpihak pada hasil.
Banyak program masih diukur dari anggaran terserap, bukan dampaknya bagi masyarakat. Inovasi ada, tetapi belum menjadi kebiasaan.
Pariwisata Tumbuh, Lingkungan Mulai Tertekan
Pariwisata adalah kekuatan utama Samosir yang kini ber usia 22 Tahun. Namun Samosir bukan wilayah biasa. Terletak di jantung Danau Toba, ia memiliki ekosistem purba yang rapuh dan menjadi ruang hidup masyarakat adat.
Tekanan terhadap hutan, air, dan ruang hidup mulai terasa. Jika pariwisata dikejar semata melalui angka kunjungan dan bangunan besar, kita berisiko merusak sumber kehidupan itu sendiri.
Kerusakan ekologis bukan sekadar masalah lingkungan; ia juga berdampak pada ekonomi, sosial, dan moral. Pembangunan yang eksploitatif dapat memberi keuntungan jangka pendek, tetapi merugikan generasi mendatang.






