Medan-Mediadelegasi: Korup alias dugaan korupsi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Afirmasi menguap di lingkungan Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura). Hingga parahnya, bikin elemen masyarakat antikorupsi gerah
Titik kulminasinya pun, Ketua Jaringan Masyarakat Mandiri (JMM) mendesak menyampaikan laporannya ke Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu) dan mendesak agar Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Labura diperiksa.
“Diduga realisasi Dana BOS Afirmasi di Disdik Labura seniliai Rp 4,9 miliar dikhawatirkan terjadi dugaan Mark Up besar besaran,” ungkap Ketua JMM Fahrul Rozi Harahap, kepada Mediadelegasi, Senin (11/23/2020).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dia merinci, dana yang diperuntukkan bagi sekolah tersebut, penyalurannya disinyalir beraroma Kolusi Korupsi dan Nepotisme (KKN) lewat indikasi penyalahgunaan wewenang jabatan atau “kongkalikong” setali tiga uang, antara kontraktor, Kepala Sekolah (Kepsek) dan Kadisdik Labura.
Dijelaskannya, dari Informasi didapat, pada penyediaan barang dan jasa untuk Proyek BOS Afirmasi, Penyedia barang atau kontraktor diatur, sehingga dominan dikuasai oleh rekanaan atau pengusaha yang ditunjuk dan Kadisdik Labura.
Oleh karna itu, diminta kepada aparatur hukum, khususnya untuk mengusut tuntas realisasi Dana Bos Afirmasi senilai Rp4,9 miliar di Kabupaten Labura. “Kejatisu diminta segara periksa Kadisdik Labura, dan kami sudah mengadukannya di korps adhiyaksa itu pada rabu pekan lalu,” tandasnya.
Dijelaskannya, berdasarkan Keputusan menteri pendidikan dan kebudayaan tentang perubahan atas keputusan menteri pendidikan dan kebudayaan nomor 320/p/2019 tentang satuan pendidikan BOS Afirmasi dan BOS kinerja tahun 2019.
“Maka kami melihat praktik realisasi dana BOS Afirmasi diduga kuat tak sesuai aturan tersebut,” pungkasnya, sembari menambahkan, begitu juga terhadap Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 31 Tahun 2019.
Dia menambahkan, realisasi pemanfaatan dana BOS Afirmasi di Labura, untuk SD dan SMP senilai Rp4.924.000.000, dengan Jumlah siswa sasaran SD: 3.313 siswa), SMP: 471 siswa, yang terdiri dari masing-masing, SD sebanyak 56 unit dan 7 unit untuk SMP. D|Med-82












