Medan-Mediadelegasi: Mantan bupati Samosir Wilmar Eliaser Simanjorang menilai penyelenggaraan acara memasuki rumah dinas bupati Samosir di Pangurangan pada Selasa (7/12) adalah salah satu bentuk pemborosan anggaran.
“Acara memasuki rumah dinas sudah pernah digelar tahun 2004 pada saat saya menjabat sebagai bupati Samosir pertama pascapemekaran. Jadi, apa urgensinya sehingga acara serupa digelar lagi,” katanya kepada mediadelegasi.id, di Medan, Rabu (7/12).
Wilmar memastikan perhelatan memasuki rumah dinas dengan mengundang sejumlah tokoh adat dan masyarakat menghabiskan dana cukup besar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara, Kabupaten Samosir hingga saat ini masih membutuhkan anggaran untuk mendukung berbagai sektor pembangunan yang berorientasi kepada kepentingan masyarakat.
“Masih sangat banyak anggaran yang dibutuhkan untuk menopang sejumlah sektor pembangunan yang mendesak direalisasikan untuk kepentingan masyarakat di Samosir,” paparnya tanpa bermaksud mengabaikan pentingnya makna dan peranan adat istiadat dalam perhelatan tersebut.
Wilmar juga mengingatkan Pemkab Samosir agar dalam hal penggunaan dana yang bersumber dari APBD harus mengedepankan prinsip efisien, efektif, transparan dan akuntabel.
Disebutkannya, lahan dan bangunan yang dijadikan rumah dinas bupati Samosir selama ini adalah milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut) yang dipinjam pakai oleh Pemkab setempat.
Sebelumnya, bangunan tersebut oleh Pemprov Sumut pada masa itu digunakan sebagai mess atau wisma yang khusus diperuntukkan bagi pejabat maupun ASN yang melakukan kunjungan kerja dalam rangka dinas ke wilayah Samosir.
“Dari rumah dinas itulah saya mulai menjalankan roda pemerintahan di Kabupaten Samosir. Puji syukur hingga saat ini para bupati periode-periode berikutnya juga menempati rumah dinas tersebut,” ujar Wilmar.
Namun, Wilmar yang saat ini dikenal sebagai sosok yang aktif sebagai pemerhati lingkungan berharap sudah saatnya Samosir membangun sebuah rumah dinas baru milik Pemkab setempat, sehingga kelak tidak lagi meminjam pakai dari Pemprov Sumut.
Jika wacana pembangunan rumah dinas bisa direalisasikan, menurut dia, sebaiknya berlokasi di kawasan Parbaba atau persisnya di kawasan Parbaba atau persisnya berada di dalam komplek perkantoran Pemkab Samosir.
Ia menambahkan, lahan seluas 20 hektare yang dijadikan komplek perkantoran Pemkab Samosir di Parbaba saat ini merupakan sumbangan dari keluarga besar Marga Sihaloho tahun 2004.
Keterangan tertulis yang dilansir dari situs resmi Pemkab Samosir Samosirkab.go.id, menyebutkan sejumlah tokoh masyarakat se Kabupaten Samosir “Mangudurhon” Bupati Samosir Vandiko T. Gultom memasuki rumah dinas.
Sebelum dimasuki, rumah dinas Bupati Samosir terlebih dahulu diberkati dan didoakan oleh Pastor.
Sebagaimana lazimnya dalam adat Batak, Bupati Samosir, Vandiko T. Gultom dan keluarga menerima “Boras Sipirni Tondi” dari utusan tokoh masyarakat setempat dan diikuti rombongan hula-hula dari keluarga bupati serta “natua tua” ni Huta marga Naibaho .
Pemberian Boras Sipir Ni Tondi merupakan suatu cara dalam adat Batak untuk menguatkan roh dan jiwa agar tetap kuat sehingga mendapatkan kebahagiaan dalam menghuni rumah.
Ketua panitia acara memasuki rumah dinas bupati Samosir, Mangiring Naibaho mengatakan, acara terselenggara atas permintaan bupati kepada seluruh tokoh masyarakat.
“Bupati meminta dan memohon harus diantarkan para tokoh masyarakat se Kabupaten Samosir untuk menempati rumah dinasnya,” ucap Mangiring. D|Red-04












