Aktivis GSF Bianca Webb-Pullman: Kami Diperlakukan Lebih Buruk dari Hewan di Tangan Militer Israel

Jumat, 22 Mei 2026 - 10:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bianca Webb-Pullman, dokter aktivis GSF asal Australia,mengungkap kekejaman tentara Israel terhadap dirinya. Foto: Ist.

Bianca Webb-Pullman, dokter aktivis GSF asal Australia,mengungkap kekejaman tentara Israel terhadap dirinya. Foto: Ist.

Istanbul-Mediadelegasi: Kisah kelam dan perlakuan tidak manusiawi yang dialami para aktivis kemanusiaan rombongan Global Sumud Flotilla (GSF) semakin terungkap ke permukaan. Seorang dokter sekaligus aktivis GSF asal Australia, Bianca Webb-Pullman, membuka suara dan menceritakan secara rinci kekejaman yang dilakukan tentara Israel terhadap dirinya serta rombongan relawan lain selama proses penahanan. Ia menegaskan, perlakuan yang mereka terima jauh di bawah standar kemanusiaan, bahkan lebih buruk dari cara manusia memperlakukan hewan.

Dalam wawancaranya dengan kantor berita Anadolu yang dikutip pada Jumat, 22 Mei 2026, Webb-Pullman mengungkapkan kepedihan yang mendalam atas apa yang ia dan rekannya alami. Ia merasa sangat kecewa sekaligus marah karena kedatangan mereka yang semata-mata membawa misi perdamaian dan bantuan justru dibalas dengan kekerasan luar biasa.

“Kami bukan penjahat. Kami diperlakukan lebih buruk daripada hewan. Maksud saya, hewan, Anda masih akan memberinya air,” ujar Webb-Pullman dengan nada emosional. Kalimat itu ia sampaikan untuk menggambarkan betapa tidak beradabnya perlakuan yang mereka terima, di mana kebutuhan dasar sekadar untuk minum air pun sangat sulit didapatkan selama dalam penguasaan militer Israel.

Menurut keterangannya, rentetan kekerasan fisik sudah mulai terjadi sejak awal penangkapan, tepatnya setelah kapal-kapal misi kemanusiaan mereka dicegat secara paksa oleh pasukan Israel pada hari Senin pekan lalu. Aksi pengecegatan itu sendiri sudah dilakukan dengan cara agresif dan mengancam keselamatan nyawa seluruh penumpang di atas kapal.

Webb-Pullman mengungkapkan bahwa kapal yang mereka tumpangi bahkan sempat ditembaki oleh pasukan Israel sebelum akhirnya dikuasai dan ditahan di perairan internasional. Tindakan bersenjata ini dilakukan tanpa pertimbangan bahwa di atas kapal tersebut tidak ada tentara atau musuh perang, melainkan warga sipil dari berbagai negara yang membawa bantuan makanan dan obat-obatan.

BACA JUGA:  Negara-Negara Arab-Muslim Bersatu Mengecam Serangan Israel ke Qatar

Setelah kapal dikuasai, perlakuan kasar semakin menjadi-jadi. Ia mengaku dirinya dan rekan-rekan aktivis lainnya mengalami berbagai jenis kekerasan fisik. Mulai dari dipukuli dengan tangan maupun alat keras, ditendang hingga terjatuh, hingga disetrum menggunakan alat kejut listrik oleh para prajurit yang mengawasi mereka dengan ketat.

Proses pemindahan dari kapal ke darat pun dilakukan dengan cara yang sangat menyiksa. Webb-Pullman menyebut kapal yang mereka tumpangi itu sebagai “kapal penjara”. Saat momen diturunkan ke dermaga, para aktivis tidak diantar secara manusiawi, melainkan diseret keluar dalam posisi tubuh yang tertekuk, menyakitkan, dan sangat merendahkan martabat.

Ada satu momen yang sangat membekas dalam ingatannya. Ia menceritakan bahwa mereka ditahan di dermaga selama lebih dari satu jam lamanya. Selama masa penantian yang mencekam itu, tentara Israel sengaja memutar lagu kebangsaan negara mereka berulang kali dengan suara keras sambil meneriakkan kalimat ejekan, “Selamat Datang di Israel”, sembari terus bersikap brutal dan mengintimidasi semua orang.

Selain kekerasan fisik, aktivis juga mengalami penyiksaan psikis dan pengabaian hak hidup. Webb-Pullman menjelaskan bahwa pihak militer Israel sengaja membiarkan para aktivis kelaparan dan kehausan berjam-jam lamanya. Lebih parah lagi, akses untuk mendapatkan bantuan medis yang layak juga sama sekali tidak disediakan atau sangat dibatasi.

BACA JUGA:  Gaza Berdarah Lagi: Muslim Dunia Geram

“Mereka memukuli dan menendang orang-orang. Itu berlangsung sepanjang proses di dermaga dan sangat merendahkan martabat,” kenangnya. Ia menilai seluruh rangkaian perlakuan itu dirancang khusus untuk mempermalukan dan menanamkan rasa takut mendalam kepada siapa saja yang berani datang membawa bantuan bagi warga Jalur Gaza yang terkepung.

Bianca Webb-Pullman bergabung dalam misi kemanusiaan ini bersama sejumlah tenaga medis lainnya yang berasal dari Australia. Niat awalnya murni untuk mengirimkan bantuan obat-obatan dan pelayanan kesehatan bagi warga Palestina. Ia memutuskan ikut berlayar setelah melihat banyak laporan mengenai kondisi memprihatinkan di Gaza, khususnya serangan yang kerap menyasar fasilitas kesehatan dan rumah sakit.

Ironisnya, meski di antara para tahanan terdapat banyak dokter dan tenaga medis, mereka justru diperlakukan seolah musuh. Webb-Pullman mengungkapkan bahwa banyak rekannya yang juga mengalami kekerasan parah hingga terluka, namun tetap dipaksa untuk merawat korban lain di atas kapal tanpa mendapatkan dukungan medis apa pun dari pihak militer Israel.

“Banyak rekan medis saya mengalami kekerasan parah, dan dipaksa untuk merawat pasien di atas kapal tanpa dukungan medis dari IOF,” ungkapnya. Kisah nyata ini kembali menegaskan laporan berbagai lembaga hak asasi manusia yang menyebut adanya pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia dalam penanganan rombongan Global Sumud Flotilla oleh pemerintah Israel. D|Red.

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Prabowo Jelaskan Program Makan Bergizi Gratis di Forum Ekonomi Timur Rusia: Pembangunan Harus Dirasakan Seluruh Rakyat
Putin Sebut Indonesia Mitra Kunci Rusia di Asia-Pasifik, Jamu Prabowo di Vladivostok
Prabowo Tiba di Rusia, Jadi Tamu Kehormatan Utama Forum EEF 2026
Raja Norwegia Harald V Wafat di Usia 89 Tahun, Berakhir Perjalanan Panjang Sang Pemimpin Monarki
Ratko Mladic, Jenderal Pembantai Muslim Bosnia Meninggal di Penjara Usai Divonis Seumur Hidup
Banjir Bandang Nepal-Tibet Tewaskan 150 Orang, Ratusan Wisatawan Asing Hilang
24 Agustus 2006: Pluto Resmi Dihapus dari Daftar Planet Tata Surya, Sejarah yang Masih Memicu Perdebatan
Presiden Korsel Lee Jae Myung Sampaikan Belasungkawa Korban Gempa NTT
Berita ini 17 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 15:11 WIB

Prabowo Jelaskan Program Makan Bergizi Gratis di Forum Ekonomi Timur Rusia: Pembangunan Harus Dirasakan Seluruh Rakyat

Kamis, 3 September 2026 - 11:50 WIB

Putin Sebut Indonesia Mitra Kunci Rusia di Asia-Pasifik, Jamu Prabowo di Vladivostok

Rabu, 2 September 2026 - 12:03 WIB

Prabowo Tiba di Rusia, Jadi Tamu Kehormatan Utama Forum EEF 2026

Jumat, 28 Agustus 2026 - 15:21 WIB

Raja Norwegia Harald V Wafat di Usia 89 Tahun, Berakhir Perjalanan Panjang Sang Pemimpin Monarki

Jumat, 28 Agustus 2026 - 11:05 WIB

Ratko Mladic, Jenderal Pembantai Muslim Bosnia Meninggal di Penjara Usai Divonis Seumur Hidup

Berita Terbaru