Istanbul-Mediadelegasi: Kisah kelam dan perlakuan tidak manusiawi yang dialami para aktivis kemanusiaan rombongan Global Sumud Flotilla (GSF) semakin terungkap ke permukaan. Seorang dokter sekaligus aktivis GSF asal Australia, Bianca Webb-Pullman, membuka suara dan menceritakan secara rinci kekejaman yang dilakukan tentara Israel terhadap dirinya serta rombongan relawan lain selama proses penahanan. Ia menegaskan, perlakuan yang mereka terima jauh di bawah standar kemanusiaan, bahkan lebih buruk dari cara manusia memperlakukan hewan.
Dalam wawancaranya dengan kantor berita Anadolu yang dikutip pada Jumat, 22 Mei 2026, Webb-Pullman mengungkapkan kepedihan yang mendalam atas apa yang ia dan rekannya alami. Ia merasa sangat kecewa sekaligus marah karena kedatangan mereka yang semata-mata membawa misi perdamaian dan bantuan justru dibalas dengan kekerasan luar biasa.
“Kami bukan penjahat. Kami diperlakukan lebih buruk daripada hewan. Maksud saya, hewan, Anda masih akan memberinya air,” ujar Webb-Pullman dengan nada emosional. Kalimat itu ia sampaikan untuk menggambarkan betapa tidak beradabnya perlakuan yang mereka terima, di mana kebutuhan dasar sekadar untuk minum air pun sangat sulit didapatkan selama dalam penguasaan militer Israel.
Menurut keterangannya, rentetan kekerasan fisik sudah mulai terjadi sejak awal penangkapan, tepatnya setelah kapal-kapal misi kemanusiaan mereka dicegat secara paksa oleh pasukan Israel pada hari Senin pekan lalu. Aksi pengecegatan itu sendiri sudah dilakukan dengan cara agresif dan mengancam keselamatan nyawa seluruh penumpang di atas kapal.
Webb-Pullman mengungkapkan bahwa kapal yang mereka tumpangi bahkan sempat ditembaki oleh pasukan Israel sebelum akhirnya dikuasai dan ditahan di perairan internasional. Tindakan bersenjata ini dilakukan tanpa pertimbangan bahwa di atas kapal tersebut tidak ada tentara atau musuh perang, melainkan warga sipil dari berbagai negara yang membawa bantuan makanan dan obat-obatan.
Setelah kapal dikuasai, perlakuan kasar semakin menjadi-jadi. Ia mengaku dirinya dan rekan-rekan aktivis lainnya mengalami berbagai jenis kekerasan fisik. Mulai dari dipukuli dengan tangan maupun alat keras, ditendang hingga terjatuh, hingga disetrum menggunakan alat kejut listrik oleh para prajurit yang mengawasi mereka dengan ketat.
Proses pemindahan dari kapal ke darat pun dilakukan dengan cara yang sangat menyiksa. Webb-Pullman menyebut kapal yang mereka tumpangi itu sebagai “kapal penjara”. Saat momen diturunkan ke dermaga, para aktivis tidak diantar secara manusiawi, melainkan diseret keluar dalam posisi tubuh yang tertekuk, menyakitkan, dan sangat merendahkan martabat.
Ada satu momen yang sangat membekas dalam ingatannya. Ia menceritakan bahwa mereka ditahan di dermaga selama lebih dari satu jam lamanya. Selama masa penantian yang mencekam itu, tentara Israel sengaja memutar lagu kebangsaan negara mereka berulang kali dengan suara keras sambil meneriakkan kalimat ejekan, “Selamat Datang di Israel”, sembari terus bersikap brutal dan mengintimidasi semua orang.
Selain kekerasan fisik, aktivis juga mengalami penyiksaan psikis dan pengabaian hak hidup. Webb-Pullman menjelaskan bahwa pihak militer Israel sengaja membiarkan para aktivis kelaparan dan kehausan berjam-jam lamanya. Lebih parah lagi, akses untuk mendapatkan bantuan medis yang layak juga sama sekali tidak disediakan atau sangat dibatasi.
“Mereka memukuli dan menendang orang-orang. Itu berlangsung sepanjang proses di dermaga dan sangat merendahkan martabat,” kenangnya. Ia menilai seluruh rangkaian perlakuan itu dirancang khusus untuk mempermalukan dan menanamkan rasa takut mendalam kepada siapa saja yang berani datang membawa bantuan bagi warga Jalur Gaza yang terkepung.
Bianca Webb-Pullman bergabung dalam misi kemanusiaan ini bersama sejumlah tenaga medis lainnya yang berasal dari Australia. Niat awalnya murni untuk mengirimkan bantuan obat-obatan dan pelayanan kesehatan bagi warga Palestina. Ia memutuskan ikut berlayar setelah melihat banyak laporan mengenai kondisi memprihatinkan di Gaza, khususnya serangan yang kerap menyasar fasilitas kesehatan dan rumah sakit.
Ironisnya, meski di antara para tahanan terdapat banyak dokter dan tenaga medis, mereka justru diperlakukan seolah musuh. Webb-Pullman mengungkapkan bahwa banyak rekannya yang juga mengalami kekerasan parah hingga terluka, namun tetap dipaksa untuk merawat korban lain di atas kapal tanpa mendapatkan dukungan medis apa pun dari pihak militer Israel.
“Banyak rekan medis saya mengalami kekerasan parah, dan dipaksa untuk merawat pasien di atas kapal tanpa dukungan medis dari IOF,” ungkapnya. Kisah nyata ini kembali menegaskan laporan berbagai lembaga hak asasi manusia yang menyebut adanya pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia dalam penanganan rombongan Global Sumud Flotilla oleh pemerintah Israel. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.






