Medan-Mediadelegasi: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika merilis prakiraan cuaca untuk wilayah Pulau Sumatera dalam rentang 11 hingga 17 September 2026. Meski sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam periode musim kemarau, kondisi atmosfer yang cukup labil diperkirakan tetap mendukung pertumbuhan awan hujan di sejumlah provinsi di sepanjang pulau Sumatera.
Pada periode awal prakiraan, yakni tanggal 11 hingga 13 September, hujan dengan intensitas sedang berpotensi melanda wilayah Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan Bengkulu. Kondisi cuaca di wilayah-wilayah tersebut secara umum diprediksi bervariasi dari berawan tebal hingga turun hujan dengan intensitas sedang yang berlangsung secara berkala.
Berbeda dengan wilayah lainnya, provinsi Aceh dan Sumatera Utara diminta untuk meningkatkan tingkat kewaspadaan secara khusus. Kedua provinsi ini diprakirakan berpotensi mengalami hujan dengan intensitas mulai dari lebat hingga sangat lebat dalam kurun waktu tiga hari pertama tersebut.
Hujan dengan intensitas ekstrem di Aceh dan Sumut tersebut juga berpeluang besar disertai sambaran kilat atau petir serta tiupan angin kencang. Masyarakat yang tinggal di kawasan perbukitan, lereng gunung, serta wilayah aliran sungai diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi turunnya hujan yang dapat memicu bencana hidrometeorologi.
Peningkatan potensi hujan di wilayah Pulau Sumatera ini dipengaruhi oleh adanya aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial dan Gelombang Kelvin yang bergerak di wilayah perairan barat Sumatera. Selain itu, terjadinya perlambatan dan pertemuan massa udara atau konvergensi turut mendukung pembentukan awan hujan yang tebal dan luas.
Memasuki periode tanggal 14 hingga 17 September, potensi curah hujan yang meningkat diprediksi masih akan berlanjut di wilayah Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Artinya, kedua provinsi ini kemungkinan besar masih akan terus diguyur hujan dengan intensitas bervariasi hingga akhir periode prakiraan cuaca minggu ini.
Peningkatan curah hujan di wilayah utara dan barat Sumatera ini terjadi meskipun pengaruh fenomena El Niño masih terasa dan mempertahankan kondisi yang relatif kering di sejumlah wilayah lain di Indonesia. Oleh karena itu, penyebaran curah hujan tidak merata dan bervariasi antarwilayah.
Kondisi cuaca yang tidak menentu ini juga perlu menjadi perhatian khusus bagi masyarakat yang tinggal di wilayah dengan curah hujan rendah. Wilayah-wilayah tersebut tetap berisiko tinggi mengalami kebakaran hutan dan lahan serta penyebaran kabut asap yang mengganggu kualitas udara dan kesehatan masyarakat.
Masyarakat yang tinggal di daerah rawan kebakaran hutan dan lahan diimbau untuk tetap berhati-hati dan tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan yang dapat memicu kebakaran yang meluas. Kebiasaan membakar sampah atau sisa-sisa tanaman hendaknya dihindari demi mencegah terjadinya kebakaran yang merugikan bersama.
Secara rinci, prakiraan hujan dengan intensitas sedang diprediksi meliputi wilayah Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan Bengkulu. Sementara itu, potensi hujan lebat hingga sangat lebat secara dominan terjadi di wilayah Aceh dan Sumatera Utara pada rentang tanggal 11 hingga 13 September 2026.
Pada fase lanjutan tanggal 14 hingga 17 September, peningkatan curah hujan masih berpeluang terjadi di wilayah Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Masyarakat diharapkan senantiasa memantau perkembangan informasi cuaca terkini yang dirilis oleh BMKG agar dapat bersiap dan mengambil langkah pencegahan dini.
Data prakiraan cuaca tersebut mengacu pada informasi resmi yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika untuk periode tanggal 11 hingga 17 September 2026. Masyarakat diimbau tetap waspada dan mengikuti perkembangan cuaca terbaru guna menjaga keselamatan serta melindungi harta benda dari potensi dampak cuaca buruk. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.
Penulis : Miranda
Editor : Alan






