Dari Webinar Fisika Unimed, Akselerator dan Inovasi Lewati Krisis Tanpa Resesi

- Penulis

Rabu, 3 Juni 2020 - 23:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Screen slide Webinar Fisika Unimed. Foto: D|Ist

PANDEMI Covid-19 harus menjadi akselerator untuk berkarya dan berinovasi bagi kaum akademisi sehingga negeri ini mampu melewati krisis tanpa resesi. Acara dibuka langsung oleh Dekan FMIPA Universitas Negeri Medan (Unimed), Dr Fauziyah Harahap MSi lalu dilanjutkan laporan ketua Panitia Dr Juniastel Rajagukguk SSi MSi yang juga sebagai KA Prodi Fisika Unimed.

Demikian antara lain pendapat tiga pakar yang tampil pada Webinar Fisika Universitas Negeri Medan (Unimed), Rabu (3/6), diikuti 800-an peserta dari sekitar 137 institusi melalui zoom dan youtube streming lapor ketua panitia Dr Juniastel Rajagukguk SSi MSi. Dr Wawan Bunawan MPd MSi yang juga ketua Jurusan Fisika Unimed berperan sebagai moderator untuk memandu jalannya Webinar terhadap ketiga narasumber.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Webinar mengambil tema Riset dan Peluang Kerja Masa Pandemi Covid-19 dilaksanakan setelah adanya kekhawatiran terhadap susahnya akses terhadap penelitian dan juga peluang kerja di tengah pandemi covid-19.

Terutama di bidang saintek yang memang harus tetap melakukan penelitian langsung dalam membuat tulisan maupun untuk menyelesaikan tugas ahir bagi para mahasiswa, peneliti dan dosen.

Kekhawatiran tersebut terjawab dengan menampilkan pakar di bidang penelitian, praktisi dan industri. Dr Arjon Turnip MSc PhD, Peneliti LIPI dan Chair Of IEEE Indonesia CSS/RAS Joint Chapters.  Prof Dr Nurdin Bukit MSi, Guru Besar Fisika Unimed dan Sekretaris PSI Sumut serta Rahmat Halomoan Rambe, Senior Vice President, SITE Acquisition, PT Indosat Mega Media. Webinar dibuka dekan FMIPA Unimed Dr Fauziyah Harahap MSi.

Arjon Turnip mengatakan, tidak mungkin seseorang mendapatkan sesuatu tanpa berbuat apapun. Bidang keilmuan fisika dapat menjadi dasar untuk melakukan riset dari banyak sector.

Ini dibuktikan langsung dengan variasi penelitian yang sudah dilakukan dengan berbagai lintas sektor penelitian yang sudah dipublikasi Arjon.

Menurutnya, dalam Teknologi Informasi (control signal otak untuk menggerakkan kursi roda, control signal untuk deteksi kebohongan, Tes Konsentrasi, Pemetaan sinyal otak saat tidur dan deteksi emosi).

Pada Bidang Smart Medical Instrument  (digunakan dalam riset: Drug Detection, Sistem Monitoring Aktivitas Jantung, Smell Biocomposit on Sleeping Quality, Deteksi Efek Makanan Soybean Terhadap Aktivitas Otak, Teknologi Deteksi Aktivitas Janin dalam Kandungan Berbasis Android)

BACA JUGA:  Indonesia Gelar Konferensi Internasional Literasi Keagamaan Lintas Budaya: Bangun Kepercayaan di Masyarakat Majemuk

Pada Bidang Pertanian (detection of Strawberry Plant Disase Based on Leaf Spot Using Color Segmentation). Sedangkan dalam Bidang Sosial (Design and Implementation of Android-Based Village Fund Monitoring Application).

Dalam pengabdian masyarakat yang telah dilaksanan adalah membangun Smart-grid System: 10KW, Solar Variable Speed Drive: Instalation.

Dalam Penutupan presentasi disampaikan bahwa ilmu Fisika ada dimana-mana seperti, engineering, Medicine and health, Business and finance, Art, music, and food seraya menunjukkan contoh aplikasinya.

Arjon juga menjelaskan bagaimana ilmu fisika berberan di bidang ilmu lainnya seperti astronomi, kimia, biologi, dan sosiologi. Para dosen dan mahasiswa harus profesional, membangun kerja sama antar institusi, industri dan mahasiswa, harus membangun jaringan dan jika mengikuti workshop jangan hanya mendapatkan sertifikatnya tapi harus serius mengikutinya.

Namun yang paling utama, kata Arjon, para dosen dan peneliti harus bersedia menjadi reviewer karena mejadi reviewer dosen akan mendapatkan ilmu fresh dan baru. Para dosen harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Jelas, kata Arjon, Covid-19 harusnya bukan jadi hambatan tetapi menjadi akselerator untuk berkarya dan berinovasi bagi kaum akademisi.

Fisika Banyak Inovasi

Prof Nurdin Bukit mengangkat topik yang sama dengan tema webinar. Menurutnya, pekerjaan yang paling dibutuhkan pada masa pandemi Covid-19  adalah Peneliti dan Ilmuwan.

“Ini sesuai dengan prospek kerja jurusan Fisika selama ini yang ternyata rata rata lulusan fisika berprofesi sebagai Peneliti dan Entrepreneur tentunya juga ada bidang lain tetapi tidak terlalu dominan,” katanya.

Menurutnya, bidang yang menjadi fokus penelitian Fisika ternyata bisa masuk ke dalam Agenda Riset Nasional 2015-2019.

Keilmuan di bidang fisika juga telah berperan dalam Bidang kesehatan dan salah satunya adalah untuk mencegah Covid-19. Peran keilmuan fisika dalam bidang kesehatan masuk dari teknologi alat kesehatan, yang salah satu kajiannya adalah pemakaian anti bakteri dengan menggunakan TiO2, dengan metode fotokatalis masker ramah lingkungan, yang telah mendapatkan sertifikat paten sederhana.

Topik menarik lain juga yang menjadi tema dalam penelitan dalam bidang keilmuwan Fisika yang akan selalu dibutuh oleh manusia seperti bidang: Energi Baru & Terbarukan, Transportasi, Teknologi Informasi Komunikasi, Pertahanan dan Keamanan, Material MAJU, Maritim, Bencana – Lingkungan dan bidang bidang lainya yang tentunya di setiap bidang tersebut sangat perlu input keilmuwan Fisika.

BACA JUGA:  Senat Akademik USU Tetapkan 18 Nama MWA Periode 2025-2030

Dalam wirausaha Fisika telah menciptakan banyak inovasi dan usaha-usaha baru tentunya seperti: Pembuatan Nano Partikel Abu Boiler Kelapa Sawit, Nano sekam Padi, Nano medicine sampai kepada pondasi untuk anti gempa yang menggunakan nano teknologi.

“Peluang kerja dari bidang keilmuan fisika sangat besar dan juga sangat banyak inovasi yang dapat diciptakan melalui fisika yang nantinya akan menciptakan peluang dan usaha usaha yang baru,” ujarnya.

Krisis Tanpa Resesi

Rahmat Halomoan Rambe mengangkat topic, “The Crisis Aftermath”. Menurutnya saat ini kita berada di tengah krisis yang mendunia dan jalan untuk melalui krisis ini adalah keseimbangan dari setiap sektor. Dia juga membandingkan krisis pada sekarang dengan krisis yang dihadapi oleh dunia sebelumnya, seperti pada tahun 1929 dan 2008 yang telah dilalui.

Rahmat juga membahas sektor yang akan menjadi penyeimbang stabilisasi pada masa krisis ini, ada beberapa yang memiliki peran signifikan seperti: Kesehatan, Pertanian, E-comerce, ICT dan industry Pengolahan pangan.

Dalam pemulihan setelah krisis dampak Covid-19 dapat dilalui dengan berbagai kajian. Dapat berupa bentuk Kurva V yaitu dengan pemulihan yang sangat cepat, setelah adanya penurunan grafik tentunya langsung masuk ketahap pemulihan, dalam keadaan ini dibutuhkan waktu 2-6 untuk pulih total. Bentuk kurva V dalam kasus ini dikhawatirkan adanya gelombang kedua setelah pulih dari keadaan awal dan ini membutuhkan waktu 3-9 bulan untuk pulih total dari krisis. Sedangkan bentuk kurva U ini membutuhkan pemulihan yang lama yaitu 4-12 bulan. Namun, katanya, kondisi yang manapun, kita dapat melewati krisis tanpa perlu adanya resesi.

Kesimpulan penutup dari Moderator: Pernyataan dari ketiga panelis masih koheren dan saling terkait untuk menjawab peluang riset dan dunia kerja akan dapat dicapai jika kita selalu berfikir kritis, kreatif, inovatif, dan adaptif untuk menjawab setiap tantangan jaman. D|Red

Facebook Comments Box

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Praktikum Dakwah UINSU Digelar di Rutan Kabanjahe
ASSEMBLY: The Magical Voyage – Event Kreativitas Anak Terbesar Akhir Tahun di Medan
Deklarasi Anti Kekerasan, Intoleransi, Radikalisme, dan Terorisme Digelar Serentak di 207 SMA/SMK Binjai–Langkat
PNM Salurkan Beasiswa untuk Anak Nasabah, Jembatani Akses Pendidikan Keluarga Prasejahtera
Presiden Prabowo Luncurkan Digitalisasi Pembelajaran untuk Indonesia Cerdas, Bagikan 288.000 Smartboard
QS AUR 2026: Singapura dan Malaysia Dominasi Kampus Terbaik Asia Tenggara, Indonesia Kirim 3 Wakil
Wali Kota Medan: Guru Hadapi Tantangan Baru di Era Digital, PGRI Diharapkan Jadi Solusi
Universitas Al-Azhar Buka Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Bahasa Persatuan Mendunia

Berita Terkait

Kamis, 15 Januari 2026 - 21:41 WIB

Praktikum Dakwah UINSU Digelar di Rutan Kabanjahe

Senin, 15 Desember 2025 - 12:47 WIB

ASSEMBLY: The Magical Voyage – Event Kreativitas Anak Terbesar Akhir Tahun di Medan

Selasa, 25 November 2025 - 12:22 WIB

Deklarasi Anti Kekerasan, Intoleransi, Radikalisme, dan Terorisme Digelar Serentak di 207 SMA/SMK Binjai–Langkat

Kamis, 20 November 2025 - 12:55 WIB

PNM Salurkan Beasiswa untuk Anak Nasabah, Jembatani Akses Pendidikan Keluarga Prasejahtera

Senin, 17 November 2025 - 14:01 WIB

Presiden Prabowo Luncurkan Digitalisasi Pembelajaran untuk Indonesia Cerdas, Bagikan 288.000 Smartboard

Berita Terbaru