Jakarta-Mediadelegasi: Gunung Semeru yang terletak di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang sangat intens dengan catatan tujuh kali erupsi beruntun pada hari Sabtu (18/4/2026). Rangkaian erupsi ini memicu kewaspadaan tinggi bagi otoritas terkait dan masyarakat yang tinggal di lereng gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut.
Rangkaian Erupsi Beruntun Sejak Dini Hari
Berdasarkan data pengamatan, erupsi beruntun dimulai sejak dini hari, tepatnya pada pukul 00.31 WIB, diikuti rentetan letusan berikutnya pada pukul 00.47 WIB dan 00.48 WIB. Pola erupsi yang terjadi secara berdekatan ini menunjukkan dinamika magma di dalam kawah Jonggring Saloko yang masih sangat fluktuatif dan bertenaga.
Memasuki waktu fajar, gunung api ini tidak kunjung tenang dengan kembali meletus pada pukul 01.04 WIB dan 04.50 WIB. Intensitas aktivitas tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan yang signifikan, membuat petugas pos pengamatan terus memantau instrumen seismograf guna mengantisipasi kemungkinan eskalasi ancaman yang lebih besar.
Puncak dari rangkaian letusan pagi ini terjadi pada pukul 05.26 WIB dan 07.24 WIB, di mana kolom abu teramati membumbung tinggi ke angkasa. Letusan terakhir pada pukul 07.24 WIB tercatat sebagai yang terbesar dengan tinggi kolom abu mencapai kurang lebih 800 meter di atas puncak atau sekitar 4.576 meter di atas permukaan laut.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan bahwa kolom abu tersebut berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas yang cukup tebal. Sebaran material vulkanik tersebut bergerak dominan ke arah barat daya, membawa partikel debu halus yang berpotensi mengganggu pernapasan warga di wilayah terdampak.
Data seismograf menunjukkan bahwa erupsi terakhir memiliki amplitudo maksimum 22 milimeter dengan durasi gempa letusan selama kurang lebih 130 detik. Angka-angka teknis ini memberikan gambaran nyata mengenai energi yang dilepaskan oleh perut gunung saat memuntahkan material pijar dan abu ke permukaan.
Baca Juga : https://mediadelegasi.id/petugas-subdit-tipikor-polda-sumut-geledah-diskominfo-tebing-tinggi-terkait-korupsi
Hingga laporan ini diturunkan, status Gunung Semeru masih tetap bertahan pada Level III atau kategori Siaga. Status ini mencerminkan adanya potensi bahaya yang sewaktu-waktu dapat mengancam keselamatan jiwa, sehingga diperlukan kepatuhan penuh dari masyarakat terhadap instruksi yang telah dikeluarkan oleh pihak berwenang.
PVMBG telah mengeluarkan rekomendasi tegas agar tidak ada masyarakat yang melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara, terutama di sepanjang aliran Besuk Kobokan. Larangan ini mencakup radius sejauh 13 kilometer dari pusat erupsi karena risiko terpapar material letusan dan awan panas guguran yang mematikan.
Di luar jarak aman tersebut, warga juga diingatkan untuk menjauhi area sempadan sungai atau tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan hingga jarak 500 meter. Hal ini dilakukan guna menghindari risiko luapan aliran lahar dingin maupun perluasan awan panas yang dapat menjangkau jarak hingga 17 kilometer dari puncak gunung.
Pihak otoritas juga menetapkan radius steril sejauh 5 kilometer dari kawah utama guna mengantisipasi bahaya lontaran batu pijar yang dapat terjadi kapan saja. Masyarakat diimbau untuk tidak mencoba mendekat demi tujuan dokumentasi atau kegiatan lainnya yang dapat membahayakan nyawa mereka di tengah kondisi Siaga ini.
Selain bahaya erupsi langsung, ancaman sekunder berupa banjir lahar dingin juga menjadi perhatian utama, terutama saat intensitas hujan di puncak gunung meningkat. Masyarakat diminta mewaspadai aliran sungai yang berhulu di Semeru, termasuk Besuk Bang, Besuk Kembar, Besuk Sat, serta anak-anak sungai kecil lainnya di sekitar Besuk Kobokan.
Pemerintah daerah melalui BPBD Lumajang terus berkoordinasi untuk membagikan masker dan memastikan jalur evakuasi tetap bersih dari hambatan. Kewaspadaan kolektif menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman alam ini, sembari terus memantau perkembangan terkini melalui kanal resmi informasi vulkanologi nasional guna menghindari penyebaran berita bohong. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.






