Gaji Tak Cukup, Kelas Menengah Terpaksa Gadaikan Aset dan Gaji Habis Buat Cicilan

- Penulis

Senin, 6 Oktober 2025 - 13:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Masyarakat Kelas Menengah. (Foto:Ist)

Ilustrasi Masyarakat Kelas Menengah. (Foto:Ist)

Jakarta-Mediadelegasi : Kelompok kelas menengah di Indonesia semakin merasakan tekanan ekonomi yang berat. Dengan gaji yang seringkali pas-pasan, mereka seringkali terjebak dalam posisi serba salah: dianggap “tidak cukup susah” untuk menerima bantuan sosial dari pemerintah, namun juga kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Akibatnya, banyak dari mereka yang terpaksa menggunakan tabungan atau bahkan menarik pinjaman untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pada akhirnya, gaji yang seharusnya bisa digunakan untuk investasi atau pengembangan diri, habis hanya untuk membayar cicilan utang.

Ekonom senior Institute for Development Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad, mengungkapkan bahwa gejala banyaknya kelas menengah yang semakin terimpit utang dan cicilan ini terlihat dari peningkatan jumlah pinjaman online (pinjol) dan perubahan pola pengeluaran konsumsi masyarakat.

Dari sisi pinjaman, Tauhid mencatat bahwa jumlah masyarakat yang mengakses pinjaman online semakin tinggi, begitu juga dengan total utang yang mereka miliki. Sebaliknya, pertumbuhan kredit untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) justru mengalami penurunan.

BACA JUGA:  Luhut Panjaitan Ingin Kembangkan Hilirisasi Kemenyan di Sumut

“Kredit UMKM trennya itu berkebalikan dengan yang pinjaman online. Walaupun NPL-nya katakanlah di bawah 3%, tapi kan trennya makin tinggi. Menunjukkan bahwa dari sisi itu kelas menengah makin sulit,” kata Tauhid.

Data dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) juga menunjukkan bahwa pertumbuhan tabungan masyarakat dengan saldo di bawah Rp 100 juta mengalami perlambatan. Pada periode Juli 2016 hingga Juli 2019, pertumbuhan tabungan tercatat sebesar 26,3%, namun melambat menjadi hanya 11,9% pada periode Juli 2021 hingga Juli 2024.

Pertumbuhan tabungan masyarakat dengan saldo Rp 100 juta hingga Rp 200 juta juga mengalami tren serupa. Pada periode Juli 2016-Juli 2019, tabungan tumbuh 29,4%, sementara pada periode Juli 2021 hingga Juli 2024 hanya tumbuh 13,3%.

“Simpanan di bawah 100 juta, kalau kita lihat data LPS, makin lama makin turun kan, nggak naik-naik. Nah itu menunjukkan kemampuan daya tahan mereka untuk menghadapi goncangan atau kenaikan biaya hidup semakin turun,” jelas Tauhid.

BACA JUGA:  Bobby Nasution Buka "Kick Off" Program FYP UMKM

Selain itu, gejala banyaknya kelas menengah yang semakin terimpit utang juga terlihat dari data konsumsi masyarakat untuk makanan yang semakin tinggi. Kenaikan ini menunjukkan bahwa masyarakat hanya bisa fokus untuk membeli makanan sebagai kebutuhan pokok saja.

“Kalau konsumsi makanan semakin tinggi, berarti pengeluaran mereka untuk non-makanan kan semakin berkurang. Artinya mereka nggak ada duit yang buat non-makanan. Padahal konsumsi non-makanan semakin tinggi menunjukkan bahwa kelas menengah semakin baik,” paparnya.

Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, menambahkan bahwa pertumbuhan industri pinjol dan peningkatan jumlah masyarakat yang menggadaikan barangnya juga menjadi indikasi bahwa gaji yang diterima kelas menengah tidak lagi mencukupi kebutuhan sehari-hari.

“Data resmi OJK mengungkap kenaikan outstanding pinjol dari 2020-2025 tumbuh 651%. Sementara masyarakat yang menggadaikan barangnya juga naik 66% dalam 5 tahun terakhir. Kalau tidak ke pegadaian ya ke pinjol, se-desperate itu kelas menengah,” pungkas Bhima. D|Red.

 

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KemenEkraf Umumkan Kinerja 2025: Investasi dan Ekspor Produk Kreatif Melesat Tinggi
MNC Insurance Dorong UMKM Go Global dengan Proteksi Asuransi
Menkeu Bongkar 4 Modus Licik Eksportir Nakal, Negara Rugi Ratusan Miliar
Neraca Pembayaran Indonesia Triwulan III 2025 Defisit, Namun Ketahanan Eksternal Tetap Solid
Kemendagri Apresiasi Sumut Berhasil Tekan Inflasi, Bukti Keseriusan Kendalikan Harga
Sejumlah Kementerian Kembalikan Dana APBN Rp3,5 Triliun, Menkeu: ‘Mereka Nyerah Belanja’
Indonesia Genjot Industri Petrokimia Nasional: Kurangi Impor, Tingkatkan Kemandirian
Pemprov Sumut Ikuti Rakor Pengendalian Inflasi Nasional, Jaga Ketahanan Ekonomi dan Daya Beli Masyarakat

Berita Terkait

Senin, 22 Desember 2025 - 15:11 WIB

KemenEkraf Umumkan Kinerja 2025: Investasi dan Ekspor Produk Kreatif Melesat Tinggi

Senin, 22 Desember 2025 - 12:20 WIB

MNC Insurance Dorong UMKM Go Global dengan Proteksi Asuransi

Selasa, 9 Desember 2025 - 11:06 WIB

Menkeu Bongkar 4 Modus Licik Eksportir Nakal, Negara Rugi Ratusan Miliar

Jumat, 21 November 2025 - 13:42 WIB

Neraca Pembayaran Indonesia Triwulan III 2025 Defisit, Namun Ketahanan Eksternal Tetap Solid

Senin, 17 November 2025 - 17:42 WIB

Kemendagri Apresiasi Sumut Berhasil Tekan Inflasi, Bukti Keseriusan Kendalikan Harga

Berita Terbaru