Medan-Mediadelegasi: Pengamen musiman kini seakan mengubah wajah inti Kota Medan menjadi pusat urban. Mereka datang berduyun-duyun, mengais rezeki dengan beragam cara, agar dapat bertahan dalam kondisi ekonomi yang menghimpit.
Seperti Iwan (nama samaran) merupakan penduduk yang berdomisili di Stabat, harus ke Medan, mencari rezeki dengan cara sebagai pengemis dan pengamen jalanan.
Tugas masing-masing dijalankan. Iwan sendiri sebagai pengatur penempatan mangkal. Anak mereka yang masih berusia Sekolah Dasar, ditempatkan sebagai manusia mellenium.
“Bagaimanalah, kondisi ekonomi seperti ini, kebutuhan kami besar, sementara saya kerjanya serabutan, ditambah lagi kondisi covid seperti ini, sementara anak binik butuh makan, ketrampilan tak ada, makanya satu-satunya jalan supaya bisa bertahan hidup, ya seperti inilah mengemis atau mengamen,” jawab Iwan lirih saat Mediadelegasi menghampiri perempatan Jalan Palang Merah Simpang jalan Pemuda, Minggu (9/8), petang.
Karena kondisi ekonomi menjadi faktor mereka bekerja sebagai pengamen atau sejenis pekerjaan informal lainnya. Iwan juga tidak tega anak istrinya harus bekerja di jalanan yang panas, berdebu dan bising seperti di Kota Medan ini.
“Kami takut mati tidak makan bang, ketimbang takut sama petugas Satpol PP, lagian kami tidak mencuri, hanya berharap dari belas kasihan orang-orang,” sambung Iwan, saat ditanya tentang razia petugas.
Anak-anak Iwan berjumlah dua orang, akhirnya putus sekolah karena ketiadaan biaya orangtuanya. “Sebenarnya aku tidak tega juga, anak-anak harus bekerja mencari uang sendiri, tapi apa boleh buat,” jawabnya memelas.
Anak Harus Sekolah
Di tempat terpisah, pengamat Pendidikan sekaligus praktisi Pendidikan Dr H Hasrat Efendi Samosir MA, prihatin ada anak yang masih usia sekolah, di jalanan mencari makan sebagai pengamen.
“Saya pribadi merasa prihatin, banyak anak-anak usia sekolah harus berjibaku di jalanan sekadar mengais rezeki dan bertarung untuk bertahan hidup demi membantu meringankan beban hidup orangtuanya”, ujar Dosen Komunikasi UIN Sumut ini.