Medan-Mediadelegasi: Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, dilanda musibah banjir bandang dan tanah longsor akibat cuaca ekstrem berupa hujan badai yang terjadi sejak Minggu (23/11) lalu. Bencana ini mengakibatkan ribuan rumah terendam dan empat orang meninggal dunia akibat tertimbun longsor.
Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu, mengonfirmasi bahwa banjir bandang masih terjadi hingga saat ini. “Cuaca ekstrem yang melanda wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah yang terletak di kawasan pantai barat Sumatera Utara menghadap Samudera Hindia hujan dan badai sejak hari Minggu malam yang mengakibatkan banjir, banjir bandang dan tanah longsor di berbagai titik lokasi Kabupaten Tapanuli Tengah,” kata Masinton.
Masinton menjelaskan bahwa longsor yang terjadi di Desa Mardame, Kecamatan Sitahuis, menimbun sejumlah rumah dan menyebabkan empat orang meninggal dunia. Selain itu, banjir dan banjir bandang juga melanda berbagai lokasi dan mengakibatkan ribuan rumah terendam air.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Longsor dan banjir serta banjir bandang di berbagai lokasi mengakibatkan ribuan rumah terendam,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah, dibantu oleh Basarnas, TNI, dan Polri, telah melakukan evakuasi warga terdampak ke tempat yang lebih aman. Selain itu, bantuan logistik, dapur umum, dan layanan kesehatan juga telah disiapkan di lokasi evakuasi.
“Pemkab Tapanuli Tengah dibantu Basarnas, TNI dan Polri sedang melakukan evakuasi warga ke titik aman, serta menyiapkan bantuan logistik, dapur umum dan layanan kesehatan di lokasi evakuasi warga,” kata Masinton.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan potensi cuaca ekstrem yang melanda kawasan pantai barat Provinsi Sumatera Utara (Sumut) selama bulan November hingga bulan Desember 2025.
Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Sumut mencatat bahwa 1.902 keluarga terdampak bencana banjir di Kabupaten Tapanuli Tengah. Laporan Pusdalops PB Sumut yang diterima di Medan, Senin, menyebutkan bahwa banjir diakibatkan oleh hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi pada 17 hingga 22 November 2025.
Pusdalops PB Sumut mencatat 1.902 keluarga yang tersebar di tujuh kecamatan terdampak banjir tersebut. Di Kecamatan Kolang tercatat 1.261 keluarga yang tersebar di dua desa terdampak bencana banjir tersebut. Kemudian Kecamatan Sarudik sebanyak 338 keluarga di dua kelurahan dan Kecamatan Pandan 150 keluarga.
Selanjutnya, Kecamatan Lumut 78 keluarga, Kecamatan Barus 65 keluarga, dan Kecamatan Tukka 10 keluarga. “Akibat kejadian tersebut, sedikitnya delapan kelurahan dan lima desa di wilayah itu terdampak banjir,” ujar petugas Pusdalops PB Sumut.
Kepala Bidang Penanganan Darurat, Peralatan, dan Logistik BPBD Sumut, Sri Wahyuni Pancasilawati, mengatakan bahwa data tersebut masih bersifat sementara yang diterima Pusdalops PB Sumut atas kejadian bencana banjir.
Ia mengatakan bahwa berbagai upaya penanganan atas kejadian bencana tersebut telah dilakukan oleh pemangku kebijakan terkait. “Pemerintah setempat telah melakukan koordinasi dan asesmen ke lokasi terdampak, serta melakukan evakuasi warga ke tempat yang lebih aman,” ujarnya.
Banjir bandang dan tanah longsor ini telah menimbulkan kerugian yang cukup besar bagi masyarakat Tapanuli Tengah. Selain merendam ribuan rumah, bencana ini juga merusak infrastruktur dan lahan pertanian.
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah terus berupaya untuk memberikan bantuan kepada para korban banjir dan tanah longsor. Bantuan berupa makanan, air bersih, pakaian, selimut, dan obat-obatan terus disalurkan kepada para pengungsi.
Selain itu, pemerintah juga berupaya untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak akibat bencana ini. Perbaikan jalan, jembatan, dan fasilitas umum lainnya menjadi prioritas utama agar aktivitas masyarakat dapat kembali normal.
Masyarakat Tapanuli Tengah diharapkan tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih mungkin terjadi. Pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan BMKG untuk memantau perkembangan cuaca dan memberikan informasi kepada masyarakat.
Bencana banjir bandang dan tanah longsor ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Kerusakan lingkungan akibat aktivitas manusia dapat memicu terjadinya bencana alam yang merugikan banyak orang.
Oleh karena itu, mari kita bersama-sama menjaga lingkungan agar terhindar dari bencana alam. Menanam pohon, menjaga kebersihan sungai, dan tidak membuang sampah sembarangan adalah beberapa langkah sederhana yang dapat kita lakukan untuk menjaga kelestarian lingkungan.
Semoga masyarakat Tapanuli Tengah diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi musibah ini. Mari kita ulurkan tangan untuk membantu meringankan beban saudara-saudara kita yang sedang mengalami kesulitan. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGE NEWS.












