Jadi Keanggotaan Demokrat, Akhyar Dicap Ambisius Hingga Pencalonan Ditolak

Minggu, 26 Juli 2020 - 12:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Medan-Mediadelegasi: Sikap kader PDIP Akhyar Nasution di tengah musim Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), yang memilih menjadi keanggotaan Partai Demokrat atau punya keanggotaan ganda di Partai Politik (Parpol), tampaknya membuat PDIP Sumut geram hingga memberikan konsekuensi.

Tak pelak, PDIP Sumut memberikan lebel atau cap bahwa Akhyar Nasution yang juga Plt Walikota Medan itu sebagai sosok yang pragmatis demi berburu ambisi kekuasaan. Bahkan partai besutan Megawati Soekarno Putri di Sumut tersebut akan menjadikan bahan konsolidasi partai.

Tak cuma itu, PDIP Sumut yang kini dinakhodai Djarot Saiful Hidayat itu meyakinkan akan memberikan sanksi, bahkan PDI Perjuangan menolak pencalonan alias tak mengusung Akhyar Nasution dalam musim Pilkada di Kota Medan.   

“Langkah pragmatis yang dilakukan Akhyar Nasution dengan pindah ke Partai Demokrat justru di tempatkan sebagai bagian konsolidasi kader. Artinya akan dijadikan pembelajaran bagi kader agar bersikap teguh,” Kata Plt Ketua PDIP Sumut, Djarot Saiful Hidayat, Sabtu (25/7), di Medan.     

Diterangkan Djarot, konsolidasi partai salahsatunya adalah untuk menguji keteguhan kader, akan terlihat ada kader yang lolos karena memiliki kesabaran revolusioner, namun ada yang gagal karena ambisi kekuasaan. “Yang dilakukan Akhyar Nasution ke Partai Demokrat termasuk golongan yang gagal,”tegasnya.       

BACA JUGA:  Wali Kota Tutup MTQ ke-54, Medan Barat Raih Juara Umum

Dia menerangkan, berpartai sama dengan bernegara yakni dilandasi oleh ketaatan pada konstitusi dan etika politik. “Kader Partai harus berdisiplin dan berpolitik untuk tujuan yang lebih besar, bukan untuk berburu kekuasaan seperti yang dilakukan Akhyar Nasution,” ulas Djarot.

Oleh karena itu, partai akan memberikan sanksi disiplin terhadap kader PDIP yang menjadi anggota partai lain. “Tidak boleh ada kader yang memiliki keanggotaan ganda dengan Partai lain, dan itu akan diberikan sansksi disiplin,” jelasnya.   

Dia menambahkan, menghadapi Pilkada PDI Perjuangan akan melakukan seleksi yang ketat terhadap calon kepala daerah. “Belajar dari kasus korupsi berjamaah yang dilakukan mantan Gubsu Gatot Pujonugroho yang sebelumnhya diusung PKS. Maka terhadap calon yang memiliki persoalan hukum tidak akan pernah dicalonkan oleh partai,” tandasnya.    

Djarot merinci, terhadap kasus korupsi mantan Walikota Medan Tengku Dzulmi Eldin juga layak dikhawatirkan memiliki konsekuensi korupsi yang berjamaah atau merembet ke yang lain. “Karenanya untuk mengusung calon walikota Medan pada musim Pilkada ini partai harus lebih selektif lagi,” sebutnya.   

BACA JUGA:  PGRI Kota Medan Beraudiensi ke Pemko Medan

Oleh karena itu, lanjut Djarot, dalam keselektifan mengusung calon walikota Medan, PDI Perjuangan punya catatan terhadap Akhyar Nasution yang pernah diperiksa terkait dugaan penyelewengan anggaran Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-53 tingkat Kota Medan. “Ini jadi pertimbangan penting mengapa partai tak mencalonkan Akhyar,” urainya sembari menambahkan, betapa bahayanya ketika MTQ saja ada dugaan disalahgunakan.

Selain  itu, terang Djarot, menghadadapi Pilkada Kota Medan PDI Perjuangan juga memertimbangkan  posisi Kota Medan sebagai salah satu sentral perekonomian di Sumatera. “Pertimbangan yang komprehensif, strategik, dan obyektif sesuai harapan rakyat, menjadi landasan keputusan Partai,” katanya.  

Kemudian, PDI Perjuangan juga membangun dialog dengan Partai koalisi pendukung Jokowi. “Masuknya Akhyar dengan dukungan dari Partai Demokrat dan kemungkinan dr PKS semakin menunjukkan arah kebenaran koalisi pada Pileg 2024 yang akan datang,” tutup Djarot yang juga Ketua DPP Bid Idiologi dan Kaderisasi. D|Med-41

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Istana Maimon Jadi Saksi, 23 Paguyuban Kesukuan Pertajam Komitmen Merajut Kebhinekaan Bersama FKN Sumut
USU: Belum Ditemukan Indikasi Perundungan dalam Kasus Meninggalnya Mahasiswi FIB
Kadis SDABMBK Khairul Azmi Dorong Drainase Lebih Optimal, 1.047 Meter U-Ditch Dibangun di Gaperta
DLH Kota Medan: Pengadaan Alat Berat Rp11,4 Miliar Sesuai Aturan LKPP, Tidak Ada Pembelian Buldoser Rp479 Juta
CEGAH GANGGUAN KAMTIB, LPKA MEDAN GELAR RAZIA GABUNGAN
Namanya Dicatut Irhamsadani Rambe dalam Isu Seleksi KPID, KAMMI Sumut: Ketua yang Sah Hanya Hasan Basri!
BEM UMN Al-Washliyah Tagih Tindak Lanjut Bea Cukai soal Dugaan Monza Ilegal
Gelar Muswil ke III, Syamsuri Terpilih Jadi Ketua IKA UT Medan Periode 2026-2031
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 11:09 WIB

Istana Maimon Jadi Saksi, 23 Paguyuban Kesukuan Pertajam Komitmen Merajut Kebhinekaan Bersama FKN Sumut

Senin, 28 September 2026 - 17:16 WIB

USU: Belum Ditemukan Indikasi Perundungan dalam Kasus Meninggalnya Mahasiswi FIB

Jumat, 25 September 2026 - 17:31 WIB

Kadis SDABMBK Khairul Azmi Dorong Drainase Lebih Optimal, 1.047 Meter U-Ditch Dibangun di Gaperta

Rabu, 23 September 2026 - 16:45 WIB

DLH Kota Medan: Pengadaan Alat Berat Rp11,4 Miliar Sesuai Aturan LKPP, Tidak Ada Pembelian Buldoser Rp479 Juta

Sabtu, 19 September 2026 - 19:11 WIB

CEGAH GANGGUAN KAMTIB, LPKA MEDAN GELAR RAZIA GABUNGAN

Berita Terbaru

Camat Sungaikanan, Yusran Hasian Harahap SE MM (dua kiri), Perwakilan Kebun B Simangunsong (tiga kanan), Tokoh masyarakat H Kodirun Harahap SH (dua kanan) bersama jajaran Polsek Sungaikanan dan Personel Koramil 12/Langgapayung saat meninjau langsung longsor hebat sudut Kebun B di Desa Sabungan, Sungaikanan, Labusel, kemarin. Foto: D|maruli siregar

Kabupaten Labuhan Batu Selatan

Sengkarut Gurita Bisnis Kebun di Sabungan Labusel

Rabu, 7 Okt 2026 - 19:54 WIB