Medan-Mediadelegasi: Koperasi Arga Do Bona Ni Pinasa telah menyiapkan berbagai acara dalam rangka menyemarakkan peringatan Hari Ulos Nasional VII di Medan pada 17 Oktober 2022.
“Koperasi Arga Do Bona Ni Pinasa telah menyiapkan berbagai acara untuk menyemarakkan Hari Ulos Nasional tahun 2022,” kata ketua panitia Lamsiang Sitompul dalam wawancara podcast menyongsong peringatan Hari Ulos Nasional Tahun 2022, di studio MediadelegasiTV Medan, Rabu (12/10).
Dalam sesi wawancara yang dipandu jurnalis MediadelegasiTV Robin Turnip tersebut turut hadir narasumber lain, yakni pemerhati ulos asal Kota Medan Nelly Sihite serta unsur pimpinan pengurus Koperasi Arga Do Bona Ni Pinasa atau Koperasi APB yang diketuai Erika Rosdiana Panjaitan, ketua pengawas Tarida Lumbantobing dan wakil ketua Meriwati Hutapea.
Lamsiang memaparkan, momentum peringatan Hari Ulos Nasional tersebut akan digelar di area Pusat Industri Kecil (PIK) Jalan Raya Menteng Medan pada 17 Oktober 2022 mulai pukul 09.00 WIB.
Rangkaian peringatan Hari Ulos Nasional 2022 diawali dengan parade ulos, tarian yang dirangkai dengan Huling-huling Acca atau teka teki khas masyarakat Batak Toba, pameran ulos, lomba fashion show dan lomba melukis bertema Hari Ulos Nasional 2022.
Pada acara tersebut turut digelar diskusi kelompok terarah atau Focus Group Discussion (FGD) dengan topik bahasan seputar Hari Ulos Nasional, peluncuran market place Koperasi Pengusaha Ulos Arga Do Bona Ni Pinasa dan diakhiri dengan penyerahan donasi untuk warga korban gempa di Kabupaten Tapanuli Utara (Taput).
Ia menambahkan, Koperasi Arga Do Bona Ni Pinasa dalam acara memperingati Hari Ulos Nasional 2022 mengusung tema ‘Ulos Pengikat Persaudaraan’.
“Khusus dalam konteks peringatan Hari Ulos Nasional tahun ini, kami mendorong Pemerintah agar ulos bisa dimasukkan dalam pembahasan warisan tak benda oleh UNESCO,” ucap Lamsiang.
Menurut pemerhati ulos Nelly Sihite, kain tenun Ulos berperan penting dalam kehidupan masyarakat Batak, sejak bayi di dalam kandungan sampai meninggal dunia maupun untuk upacara adat.
“Bahkan, ulos kini telah pula menjadi alat diplomasi budaya yang diberikan oleh masyarakat Batak kepada para tamu terhormat di luar Suku Batak,” katanya.
Bagi para leluhur orang Batak, menurut dia, memberikan ulos memiliki makna filosofis memberikan kehidupan dan “kehangatan” bagi tubuh, karena orang Batak terdahulu hidup di dataran tinggi dengan temperatur yang sangat dingin.
“Sehingga rasa hangat pada masa itu menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan untuk tetap hidup,” ucap dia.
Karena itu, lanjut Nelly, ulos sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang ditetapkan Pemerintah RI pada 17 Oktober 2014 juga layak dimasukkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO.