KPAI Soroti Penganiayaan Siswa Tual

KPAI
Komisioner KPAI, Diyah Puspitarini. Foto: Ist

Jakarta-Mediadelegasi: Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta agar tidak ada intimidasi maupun ancaman terhadap keluarga Arianto Tawakal (14), siswa MTsN di Maluku Tenggara yang meninggal dunia diduga akibat penganiayaan oknum anggota Brimob Polda Maluku. Kasus ini terjadi di Tual, Maluku, dan memicu perhatian luas publik.

KPAI Minta Perlindungan Keluarga Korban

Komisioner KPAI, Diyah Puspitarini, menegaskan bahwa perlindungan terhadap keluarga korban telah dijamin dalam Undang-Undang Perlindungan Anak. Ia berharap seluruh pihak menghormati proses hukum yang berjalan tanpa memberikan tekanan kepada keluarga.

“Kami juga berharap keluarga korban tidak mendapatkan intimidasi atau ancaman, karena ini sudah dijamin dalam UU Perlindungan Anak Pasal 59A,” ujar Diyah dalam keterangannya, Minggu (22/2/2026).

Bacaan Lainnya

Diyah menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa tersebut. Menurutnya, anak-anak seharusnya memperoleh perlindungan dari aparat penegak hukum, bukan justru menjadi korban kekerasan yang berujung pada hilangnya nyawa.

Ia menjelaskan, dalam kasus ini terdapat dua kategori anak yang harus diperhatikan. Pertama adalah anak korban kekerasan fisik yang meninggal dunia. Kedua, anak saksi yang merupakan kakak korban dan berada di lokasi saat kejadian, yang membutuhkan pendampingan psikologis.

Baca Juga : https://mediadelegasi.id/kematian-el-mencho-bikin-meksiko-menceka

KPAI juga mendorong dilakukannya autopsi guna memastikan penyebab kematian korban secara transparan dan ilmiah. Langkah ini dinilai penting untuk mengungkap fakta secara utuh dan menghindari spekulasi di tengah masyarakat.

Pos terkait