Jakarta-Mediadelegasi: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami pelemahan dan semakin mendekati level psikologis 17.000 per dolar AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Keterangan dirangkum Mediadelegasi Medan, nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari Senin (7/4) pagi di Jakarta melemah sebesar 251 poin atau 1,51 persen menjadi Rp16.904 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.653 per dolar AS.
Kondisi nilai tukar rupiah saat ini telah melebihi titik terlemah dalam sejarah, yaitu level krisis ekonomi 1998 ketika rupiah sempat terperosok hingga Rp 16.800 per Dolar AS.
Kalangan pengamat pasar uang di Jakarta, menganggap pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah dipengaruhi respons negatif negara-negara atas kebijakan tarif resiprokal AS.
“Sentimen negatif dari pengumuman kebijakan tarif Trump (Presiden AS Donald Trump) yang direspons negatif oleh negara-negara yang dinaikkan tarifnya menjadi pemicu utama pelemahan rupiah,”
kata Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra.
Meski demikian, Pemerintah Indonesia dan pelaku pasar diinformasikan masih terus memantau perkembangan global ini untuk menentukan langkah mitigasi guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Guna stabilisasi nilai tukar rupiah dari tingginya tekanan global, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada Senin (7/4), memutuskan untuk melakukan intervensi di pasar off-shore (Non Deliverable Forward/NDF).
NDF merupakan kontrak derivatif valas yang memungkinkan dua pihak menukar mata uang dengan kurs tertentu di masa mendatang.
Selain itu, Bank Indonesia juga akan mengoptimalkan penggunaan instrumen likuiditas rupiah guna menjamin ketersediaan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan dalam negeri.
Seluruh rangkaian ini bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah serta mempertahankan kepercayaan investor dan pelaku pasar terhadap perekonomian Indonesia.
Sementara itu, di tengah pelemahan rupiah, beberapa mata uang utama justru mencatatkan penguatan terhadap dollar AS.
Penguatan ini terjadi pada yuan China (CHY), yen Jepang (JPY), euro (EUR), dan poundsterling Inggris (GBP). D|Red
Baca artikel menarik lainnya dari mediadelegasBacai.id di GOOGLE NEWS.












