Pengelolaan Defisit yang Terukur
Meskipun belanja negara lebih besar dari pendapatan, pemerintah tetap mengelola defisit dengan hati-hati. Defisit APBN 2026 diproyeksikan sebesar Rp638,8 triliun, atau sekitar 2,48 persen dari PDB. Angka ini menunjukkan penurunan dari sisi level defisit nominal, yang menjadi indikasi pengelolaan keuangan negara yang prudent.
Menurut Sri Mulyani, defisit yang terukur ini memiliki tujuan strategis. Defisit ini dirancang untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan mengurangi angka kemiskinan. Pengelolaan defisit yang baik ini juga memastikan keberlanjutan utang dan pembiayaan negara tidak terganggu. Dengan demikian, pemerintah dapat menjalankan program-programnya tanpa menimbulkan risiko fiskal di masa depan.
Optimisme Ekonomi di Tengah Tantangan Global
Pemerintah optimis bahwa target-target ekonomi makro pada 2026 dapat tercapai. Selain pertumbuhan ekonomi dan inflasi, asumsi makro lainnya mencakup suku bunga 10 tahun sebesar 6,9 persen, nilai tukar Rp16.500 per dolar AS, dan harga minyak mentah 70 dolar AS per barel. Asumsi-asumsi ini disusun dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi domestik dan global.
Kebijakan fiskal yang berhati-hati, dikombinasikan dengan strategi pajak yang berfokus pada kepatuhan, diharapkan dapat menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan. Pemerintah terus berupaya menciptakan lingkungan bisnis dan investasi yang kondusif, sehingga dapat menarik modal dan menciptakan lapangan kerja baru.
Komitmen untuk Kesejahteraan Rakyat
Secara keseluruhan, pernyataan Menkeu Sri Mulyani menggarisbawahi komitmen pemerintah untuk tidak membebani rakyat dengan kenaikan pajak. Sebaliknya, pemerintah memilih jalur perbaikan sistem dan peningkatan kepatuhan untuk mengoptimalkan penerimaan negara. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip-prinsip keadilan dan keberpihakan pada masyarakat kecil, yang menjadi fondasi utama dalam kebijakan fiskal pemerintah.
Dengan postur APBN yang sehat dan berkelanjutan, serta fokus pada program-program prioritas, pemerintah yakin dapat mencapai tujuan-tujuan pembangunan nasional. Defisit yang terkendali, ditambah dengan kebijakan pajak yang pro-rakyat, diharapkan dapat menciptakan momentum pertumbuhan ekonomi yang kuat dan merata di seluruh Indonesia. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.








