Refleksi 14 Tahun Labusel: Petro Dollar Jangan Sebatas Selogan

Refleksi 14 Tahun Labusel: Petro Dollar Jangan Sebatas Selogan
Drs Rivai Nasution MM

Setidaknya ada beberapa harapan yang dinantikan dari kepemimpinan Bupati Labusel saat ini, sebagai wujud visi misi serta program dan janji politik ketika Pilkada beberapa waktu lalu.

Duet H Edimin dan Ahmad Padli Tanjung  yang memiliki latar belakang pebisnis dan ulama, telah cukup memadai dalam merancang pembangunan di Labusel.

Potensi Daerah

Bacaan Lainnya

Hadirnya sosok H  Edimin , seorang pengusaha Sukses ternama  di sektor perkebunan , tentu berani mengambil kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada kepentingan rakyat.

Terlebih H Edimin tergolong pengusaha yang peduli terhadap dunia pendidikan terutama mengayomi masyarakat kurang mampu. Di sisi lain sosok H Ahmad Padli Tanjung sebagai seorang ulama diharapkan mampu memberikan pencerahan nilai-nilai  agama dan akhlakul karimah di tengah-tengah masyarakat, dapat memberikan suri tauladan dalam kehidupan sehari-hari.

Program pembangunan yang telah disetujui melalui tahapan Musrembang, baik di tingkat kecamatan dan kabupaten, setidaknya telah mendapat dukungan penuh oleh legislatif (hubungan yang harmonis antara pemkab dengan DPRD dengan tidak saling bersinggungan satu dengan lainnya, hal ini sangat mendorong laju pertumbuhan pembangunan).

Kita sebagai putra daerah merasa terpanggil untuk mengambil peranan dalam mengawal pembangunan agar sesuai harapan. Labusel yang cukup dikenal sebagai daerah petro dollar, janganlah hanya selogan semata, akan tetapi melalui potensi daerah yang andal mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakatnya.

Pemberdayaan potensi daerah salah satu ide cemerlang yang harus terus disuarakan. Labusel yang dikenal dengan daerah perkebunan kelapa sawit dan karet adalah sebagai sumber penghasilan utama penduduknya.

BACA JUGA: Amarullah Nasution Tokoh Pendidikan Nasional

Namun harga sawit dan karet yang terus berfluktuasi sangat meresahkan masyarakat. Ketika harga naik masyarakat merasa senang dan berleha-leha, ketika harga turun masyarakat resah menjerit tak ketulungan. Haruskah, demikian?

Pos terkait