Para pengamat ekonomi menilai bahwa pasar minyak saat ini masih berada dalam posisi “wait and see”. Meskipun ada penurunan harga, volatilitas tetap tinggi karena akar masalah konflik antara poros Iran dengan aliansi AS-Israel belum sepenuhnya terselesaikan. Ketidakpastian politik di kawasan tersebut membuat para pedagang minyak tetap waspada, sehingga harga sulit untuk kembali ke level 70 dolar AS dalam waktu dekat.
Sektor manufaktur dan logistik global kini berlomba memanfaatkan jendela waktu pembukaan selat ini untuk mempercepat pengiriman cadangan minyak yang sempat tertahan. Tanker-tanker raksasa terlihat mulai mengantre untuk melewati jalur sempit tersebut guna menyuplai kebutuhan energi di Asia dan Eropa. Langkah percepatan ini diharapkan dapat menstabilkan stok energi nasional di berbagai negara sebelum tenggat waktu gencatan senjata berakhir.
Di sisi lain, munculnya Iran dan sekutunya seperti Hizbullah sebagai pihak yang memegang kendali atas arus energi ini memberikan posisi tawar politik yang lebih kuat bagi Teheran. Keberhasilan mereka dalam menginterupsi ekonomi global melalui kontrol Selat Hormuz menjadi catatan penting bagi peta geopolitik masa depan. Hal ini membuktikan bahwa ketergantungan dunia terhadap energi fosil dari kawasan Teluk masih menjadi titik lemah yang sangat sensitif terhadap konflik militer.
Secara domestik di banyak negara berkembang, penurunan harga minyak mentah ke angka 92 dolar AS diharapkan dapat meredam gejolak harga kebutuhan pokok yang sempat ikut naik. Namun, pemerintah di berbagai negara diimbau untuk tetap waspada dan menyiapkan skenario cadangan jika harga kembali melambung. Transisi menuju energi terbarukan kini kembali menjadi pembicaraan hangat sebagai solusi jangka panjang agar stabilitas ekonomi nasional tidak terus-menerus tersandera oleh konflik di Timur Tengah.
Kini, perhatian dunia tertuju pada diplomasi tingkat tinggi yang akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan. Apakah gencatan senjata ini akan diperpanjang menjadi perdamaian permanen, ataukah pembukaan Selat Hormuz hanyalah jeda singkat sebelum badai ekonomi berikutnya datang menghantam? Keputusan yang diambil para pemimpin dunia di meja perundingan pekan depan akan menentukan apakah harga minyak akan terus melandai atau kembali membakar pasar energi global. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.







