Selat Hormuz Dibuka: Napas Lega bagi Pasar Energi

- Penulis

Sabtu, 18 April 2026 - 15:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Iran resmi membuka kembali akses penuh Selat Hormuz bagi kapal komersial. Foto: Ist.

Iran resmi membuka kembali akses penuh Selat Hormuz bagi kapal komersial. Foto: Ist.

Medan-Mediadelegasi: Harga minyak dunia akhirnya mengalami koreksi tajam setelah Selat Hormuz dibuka pemerintah Iran secara resmi sehingga membuka kembali akses penuh di Selat Hormuz bagi kapal-kapal komersial pada Jumat (17/4). Keputusan krusial ini diumumkan langsung oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang menyatakan bahwa jalur perairan paling strategis di dunia tersebut akan beroperasi normal hingga masa gencatan senjata dengan Amerika Serikat berakhir pada pekan depan. Langkah ini diambil di tengah tensi tinggi yang sempat melumpuhkan arus logistik energi global selama lebih dari sebulan terakhir.

Sentimen Positif Pasar Setelah Selat Hormuz Dibuka

Reaksi pasar terhadap pengumuman Selat Hormuz Dibuka berlangsung seketika. Minyak mentah jenis Brent, yang menjadi tolok ukur global, sempat merosot ke angka 88 dolar AS per barel sebelum akhirnya stabil di posisi 92 dolar AS. Penurunan ini merupakan angka yang signifikan mengingat beberapa jam sebelum pengumuman, harga masih bertengger di level 98 dolar AS. Meski mulai melandai, harga saat ini sejatinya masih jauh di atas rata-rata normal sebelum konflik pecah, di mana Brent biasanya diperdagangkan di bawah kisaran 70 dolar AS.

Selat Hormuz memiliki peran yang sangat vital karena merupakan jalur utama bagi sepertiga pengiriman minyak mentah melalui laut di seluruh dunia. Sejak awal Maret, Iran melakukan blokade ketat sebagai respons atas agresi militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel. Penutupan akses ini menciptakan efek domino yang melumpuhkan rantai pasok energi global, menyebabkan kelangkaan stok di berbagai negara, dan memicu spekulasi harga yang liar di bursa komoditas internasional.

Puncak krisis terjadi pada pertengahan Maret lalu, di mana harga Brent mencatatkan rekor mengerikan dengan menembus angka 119 dolar AS per barel. Lonjakan drastis ini melampaui prediksi banyak analis ekonomi dan menempatkan dunia di ambang krisis energi sistemik. Ketidakpastian mengenai durasi konflik dan risiko kerusakan infrastruktur minyak di Teluk Persia menjadi bahan bakar utama bagi melambungnya harga komoditas “emas hitam” tersebut selama berminggu-minggu.

BACA JUGA:  Iran Tuduh AS Langgar Gencatan Senjata, Terancam Batal

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, merespons positif langkah Teheran dengan menyebut pembukaan selat ini sebagai “hari yang luar biasa bagi dunia.” Pernyataan ini mencerminkan ambisi Washington untuk meredam inflasi domestik yang dipicu oleh tingginya harga bahan bakar. Di Amerika Serikat dan banyak negara Eropa, kenaikan harga minyak telah menyebabkan harga bensin dan solar di tingkat pompa bensin melonjak hingga mencapai level yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dampak dari blokade ini tidak hanya dirasakan oleh pemilik kendaraan pribadi, tetapi juga memukul sektor industri transportasi secara masif. Kelangkaan pasokan menyebabkan harga avtur atau bahan bakar mesin jet meroket hingga 80 persen. Kondisi ini memaksa banyak maskapai penerbangan internasional membatalkan jadwal penerbangan atau menaikkan harga tiket secara tidak masuk akal, yang pada akhirnya mengganggu mobilitas manusia dan arus barang secara global.

Baca Juga : https://mediadelegasi.id/erupsi-beruntun-gunung-semeru-muntahkan-abu-vulkanik-pekat/

Meskipun pembukaan ini memberikan sentimen positif, Iran tetap memberikan peringatan keras bahwa pelonggaran di Selat Hormuz bersifat sementara dan bersyarat. Teheran menekankan bahwa status jalur perairan tersebut sangat bergantung pada kepatuhan Amerika Serikat terhadap kesepakatan gencatan senjata. Jika ketegangan militer kembali memanas setelah pekan depan, tidak menutup kemungkinan Iran akan kembali mengunci akses selat tersebut sebagai instrumen pertahanan dan tekanan ekonomi.

Para pengamat ekonomi menilai bahwa pasar minyak saat ini masih berada dalam posisi “wait and see”. Meskipun ada penurunan harga, volatilitas tetap tinggi karena akar masalah konflik antara poros Iran dengan aliansi AS-Israel belum sepenuhnya terselesaikan. Ketidakpastian politik di kawasan tersebut membuat para pedagang minyak tetap waspada, sehingga harga sulit untuk kembali ke level 70 dolar AS dalam waktu dekat.

BACA JUGA:  Senyap Mematikan: AS Siapkan Operasi Khusus Iran

Sektor manufaktur dan logistik global kini berlomba memanfaatkan jendela waktu pembukaan selat ini untuk mempercepat pengiriman cadangan minyak yang sempat tertahan. Tanker-tanker raksasa terlihat mulai mengantre untuk melewati jalur sempit tersebut guna menyuplai kebutuhan energi di Asia dan Eropa. Langkah percepatan ini diharapkan dapat menstabilkan stok energi nasional di berbagai negara sebelum tenggat waktu gencatan senjata berakhir.

Di sisi lain, munculnya Iran dan sekutunya seperti Hizbullah sebagai pihak yang memegang kendali atas arus energi ini memberikan posisi tawar politik yang lebih kuat bagi Teheran. Keberhasilan mereka dalam menginterupsi ekonomi global melalui kontrol Selat Hormuz menjadi catatan penting bagi peta geopolitik masa depan. Hal ini membuktikan bahwa ketergantungan dunia terhadap energi fosil dari kawasan Teluk masih menjadi titik lemah yang sangat sensitif terhadap konflik militer.

Secara domestik di banyak negara berkembang, penurunan harga minyak mentah ke angka 92 dolar AS diharapkan dapat meredam gejolak harga kebutuhan pokok yang sempat ikut naik. Namun, pemerintah di berbagai negara diimbau untuk tetap waspada dan menyiapkan skenario cadangan jika harga kembali melambung. Transisi menuju energi terbarukan kini kembali menjadi pembicaraan hangat sebagai solusi jangka panjang agar stabilitas ekonomi nasional tidak terus-menerus tersandera oleh konflik di Timur Tengah.

Kini, perhatian dunia tertuju pada diplomasi tingkat tinggi yang akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan. Apakah gencatan senjata ini akan diperpanjang menjadi perdamaian permanen, ataukah pembukaan Selat Hormuz hanyalah jeda singkat sebelum badai ekonomi berikutnya datang menghantam? Keputusan yang diambil para pemimpin dunia di meja perundingan pekan depan akan menentukan apakah harga minyak akan terus melandai atau kembali membakar pasar energi global. D|Red.

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wabah Hantavirus di Kapal MV Hondius: Pasien Wajib Isolasi 42 Hari, 3 Orang Meninggal
Ledakan dan Kebakaran Hebat Melanda Kilang Minyak Chalmette Louisiana, Tidak Ada Korban Jiwa
Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar: AS Tetapkan Status Darurat Level 3, Risiko Penyebaran Masih Rendah
Jerman Desak Iran Buka Selat Hormuz dan Hentikan Program Nuklir
Aktor Park Dong Bin Meninggal Dunia, Sosok di Balik Viral ‘Meme Jus’
Hukuman Diperberat, Mantan Presiden Korsel Yoon Suk Yeol Divonis 7 Tahun Penjara
Bahrain Cabut Kewarganegaraan 69 Orang Gegara Dukung Iran Lawan AS dan Israel
Lebanon Tegaskan Gencatan Senjata Syarat Mutlak Negosiasi dengan Israel

Berita Terkait

Rabu, 13 Mei 2026 - 14:13 WIB

Wabah Hantavirus di Kapal MV Hondius: Pasien Wajib Isolasi 42 Hari, 3 Orang Meninggal

Sabtu, 9 Mei 2026 - 11:19 WIB

Ledakan dan Kebakaran Hebat Melanda Kilang Minyak Chalmette Louisiana, Tidak Ada Korban Jiwa

Sabtu, 9 Mei 2026 - 11:05 WIB

Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar: AS Tetapkan Status Darurat Level 3, Risiko Penyebaran Masih Rendah

Senin, 4 Mei 2026 - 13:04 WIB

Jerman Desak Iran Buka Selat Hormuz dan Hentikan Program Nuklir

Kamis, 30 April 2026 - 14:12 WIB

Aktor Park Dong Bin Meninggal Dunia, Sosok di Balik Viral ‘Meme Jus’

Berita Terbaru