Iran Tuduh AS Langgar Gencatan Senjata, Terancam Batal

- Penulis

Kamis, 9 April 2026 - 10:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Iran menuduh Amerika Serikat melanggar kesepakatan gencatan senjata yang diumumkan Presiden Donald Trump pada Selasa (7/4/2026). Foto: Ist.

Iran menuduh Amerika Serikat melanggar kesepakatan gencatan senjata yang diumumkan Presiden Donald Trump pada Selasa (7/4/2026). Foto: Ist.

Teheran-Mediadelegasi: Iran tuduh Amerika Serikat (AS) telah melanggar kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya diumumkan oleh Presiden Donald Trump pada Selasa (7/4/2026). Tuduhan ini muncul terkait dugaan pelanggaran terhadap tiga poin krusial dari sepuluh tuntutan Iran yang menjadi dasar untuk mengakhiri konflik yang sedang berlangsung. Situasi ini menimbulkan keraguan atas kelanjutan perundingan damai yang dijadwalkan.

Iran Tuduh AS Langgar Gencatan Senjata, Perundingan di Islamabad Terancam Batal

Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran rencananya akan digelar di Islamabad, Pakistan. Agenda utama pertemuan ini adalah mendiskusikan tuntutan dari kedua belah pihak dengan tujuan akhir menyepakati sebuah perjanjian damai yang bersifat permanen. Namun, tuduhan pelanggaran gencatan senjata ini berpotensi mengganggu jalannya dialog tersebut.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, secara tegas menyatakan bahwa tiga dari sepuluh poin tuntutan Iran telah dilanggar oleh pihak AS. Poin-poin yang dilanggar tersebut meliputi gencatan senjata di Lebanon, pelanggaran wilayah udara Iran oleh pesawat tak berawak (drone), serta penolakan terhadap hak Iran untuk melanjutkan program pengayaan uranium.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Seperti yang telah dinyatakan dengan jelas oleh Presiden Amerika Serikat dalam pidatonya, Proposal 10 poin Republik Islam Iran adalah ‘dasar yang bisa diterapkan untuk bernegosiasi’ dan kerangka kerja utama untuk pembicaraan ini. Namun, 3 klausul dari proposal ini telah dilanggar,” ungkap Ghalibaf melalui pernyataan di media sosial X, yang dikutip pada Kamis (9/4/2026).

Pelanggaran pertama yang disorot adalah kegagalan mematuhi poin pertama proposal, yang secara spesifik mengatur gencatan senjata di Lebanon. Iran menyoroti serangan Israel ke Lebanon pada Rabu (7/4/2026) yang dilaporkan menewaskan ratusan orang, sebagai bukti nyata pelanggaran kesepakatan tersebut.

Selain itu, Iran terpaksa mengambil tindakan tegas dengan menembak jatuh sebuah pesawat tak berawak yang terdeteksi memasuki wilayah udaranya. Insiden ini terjadi di Kota Lar, yang semakin memperkeruh suasana dan menambah daftar pelanggaran yang dituduhkan kepada AS.

Baca Juga : https://mediadelegasi.id/gencatan-senjata-as-iran-trump-redam-gejolak-di-hormuz/

Poin krusial ketiga yang menjadi sumber ketegangan adalah penyangkalan terhadap hak Iran untuk memperkaya uranium. Pernyataan Wakil Presiden AS, JD Vance, yang mengindikasikan niat AS untuk mengambil alih kendali atas program tersebut, dianggap sebagai pelanggaran langsung terhadap kedaulatan Iran.

Ghalibaf menambahkan bahwa dalam kondisi seperti ini, pelaksanaan gencatan senjata bilateral maupun kelanjutan negosiasi menjadi tidak praktis. Tuduhan pelanggaran ini menempatkan negosiasi damai di ujung tanduk, menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi konflik lebih lanjut.

Pentingnya 10 poin tuntutan Iran untuk mengakhiri perang ini sebelumnya telah diterima oleh Presiden AS Donald Trump, yang menganggapnya sebagai dasar yang layak untuk perundingan. Pernyataan Trump sendiri pada Selasa (7/4/2026) menyebutkan bahwa gencatan senjata AS-Iran merupakan hari penting bagi seluruh dunia, menunjukkan adanya harapan untuk perdamaian.

Namun, realitas di lapangan tampaknya berbeda. Tuduhan pelanggaran ini tidak hanya mengancam proses negosiasi, tetapi juga dapat memicu kembali ketegangan di kawasan Timur Tengah yang sudah sangat rentan. Respons dari pihak AS terhadap tuduhan ini akan menjadi krusial dalam menentukan arah selanjutnya dari hubungan kedua negara.

Dampak dari perang yang sedang berlangsung juga terasa signifikan secara ekonomi. Laporan menyebutkan kerugian finansial yang sangat besar, bahkan mencapai Rp1.696 Triliun, yang dialami oleh orang-orang terkaya di dunia akibat konflik antara Iran dan AS. Hal ini menunjukkan betapa luasnya dampak perang ini, tidak hanya bagi negara-negara yang terlibat langsung, tetapi juga bagi stabilitas ekonomi global.

Dengan adanya tuduhan pelanggaran ini, masa depan perdamaian antara Iran dan AS menjadi semakin tidak pasti. Upaya diplomatik yang telah dibangun kini menghadapi tantangan besar, dan dunia menanti bagaimana kedua negara akan merespons situasi krusial ini untuk mencegah eskalasi lebih lanjut dan mencari jalan menuju solusi damai yang berkelanjutan. D|Red.

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

Facebook Comments Box

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketegangan Meningkat: Iran Kecam Blokade AS, Anggap sebagai Agresi Terbuka
Tembus Blokade AS, Dua Supertanker Iran Berhasil Keluar dari Selat Hormuz
Jepang Siaga Tinggi: Gempa M 7,4 Guncang Sanriku, Peringatan Tsunami 3 Meter Diterbitkan
Pasar Global Terguncang: Harga Minyak Dunia Meroket Akibat Blokade Selat Hormuz
Eskalasi di Teluk: Blokade AS dan Insiden Kapal Touska Picu Kebuntuan Negosiasi
Iran Kembali Tutup Selat Hormuz, Tuding AS Lakukan Pembajakan
Iran Buka Wilayah Udara Timur Demi Jalur Internasional
Selat Hormuz Dibuka: Napas Lega bagi Pasar Energi

Berita Terkait

Rabu, 22 April 2026 - 16:31 WIB

Ketegangan Meningkat: Iran Kecam Blokade AS, Anggap sebagai Agresi Terbuka

Senin, 20 April 2026 - 16:13 WIB

Jepang Siaga Tinggi: Gempa M 7,4 Guncang Sanriku, Peringatan Tsunami 3 Meter Diterbitkan

Senin, 20 April 2026 - 14:13 WIB

Pasar Global Terguncang: Harga Minyak Dunia Meroket Akibat Blokade Selat Hormuz

Senin, 20 April 2026 - 13:23 WIB

Eskalasi di Teluk: Blokade AS dan Insiden Kapal Touska Picu Kebuntuan Negosiasi

Sabtu, 18 April 2026 - 17:40 WIB

Iran Kembali Tutup Selat Hormuz, Tuding AS Lakukan Pembajakan

Berita Terbaru