Senyap Mematikan: AS Siapkan Operasi Khusus Iran

- Penulis

Selasa, 3 Februari 2026 - 16:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Foto: Ist.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Foto: Ist.

Medan-Mediadelegasi: Sejumlah analis militer meyakini bahwa potensi serangan Amerika Serikat (AS) ke Iran akan berlangsung senyap dan tidak akan berbentuk perang skala penuh yang melibatkan konfrontasi militer besar-besaran. Sebaliknya, skenario yang lebih mungkin adalah operasi khusus, senyap dengan durasi singkat dan sasaran terbatas.

Model operasi ini disebut mirip dengan pola misi satuan elite militer AS dalam berbagai penugasan presisi di luar perang terbuka. Hal ini mengindikasikan bahwa AS lebih memilih pendekatan yang terukur dan menghindari eskalasi konflik yang lebih luas.

Operasi Senyap Mematikan

Indikasi tersebut semakin menguat setelah pernyataan pejabat tinggi militer AS yang menggambarkan kemungkinan operasi terhadap Iran akan berlangsung singkat, cepat, dan bersih. Pernyataan ini menunjukkan bahwa AS memiliki tujuan yang jelas dan terfokus dalam operasi tersebut.

Pentagon disebut memfokuskan perhatian pada pihak-pihak di Teheran yang diduga terlibat dalam tindakan represif terhadap demonstran dalam negeri (1/2). Hal ini menunjukkan bahwa operasi tersebut mungkin ditujukan untuk memberikan tekanan kepada pemerintah Iran terkait isu hak asasi manusia.

BACA JUGA:  Israel Jadi Negara Paling Aktif Terlibat Peperangan di Tahun 2025, Serang Setidaknya Enam Negara

Sejumlah petinggi militer dari Pasukan Garda Revolusi Iran hingga tokoh pemerintahan tingkat tinggi disebut berpotensi menjadi target utama jika operasi senyap benar dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa AS mungkin menargetkan individu-individu yang dianggap bertanggung jawab atas tindakan represif.

Dalam kerangka itu, model serangan diperkirakan akan mengandalkan unit pasukan khusus Amerika Serikat yang dikenal sebagai Delta Force. Unit tersebut merupakan satuan elite tingkat tertinggi Angkatan Darat AS yang kerap ditugaskan dalam misi berisiko sangat tinggi.

Baca Juga : https://mediadelegasi.id/gaza-berdarah-lagi-muslim-dunia-geram/

Delta Force dikenal karena kemampuan mereka dalam melakukan operasi rahasia dan presisi di wilayah musuh. Penggunaan unit ini menunjukkan bahwa AS bersedia mengambil risiko tinggi untuk mencapai tujuannya.

BACA JUGA:  Aksi Nyata Miliarder Dunia: Beli Ratusan Ribu Hektar Lahan Demi Konservasi Hutan

Sebagai Panglima Tertinggi, Presiden AS memiliki kewenangan untuk mengerahkan pasukan khusus dalam operasi militer terbatas tanpa harus melalui deklarasi perang formal. Hal ini memberikan fleksibilitas kepada AS untuk mengambil tindakan cepat dan tegas tanpa harus mendapatkan persetujuan dari Kongres.

Namun, operasi khusus ini juga membawa risiko yang signifikan. Jika operasi tersebut gagal atau menyebabkan korban sipil, hal itu dapat memicu reaksi keras dari Iran dan meningkatkan ketegangan di kawasan tersebut.

Oleh karena itu, AS harus mempertimbangkan dengan cermat semua risiko dan manfaat sebelum memutuskan untuk melancarkan operasi khusus terhadap Iran. Diplomasi dan dialog tetap menjadi cara terbaik untuk menyelesaikan masalah yang kompleks ini. D|Red.

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

PM Malaysia Anwar Ibrahim Kecam Keras Tindakan Israel Terhadap Armada Bantuan Gaza: Pelanggaran Hukum Internasional
Wabah Hantavirus di Kapal MV Hondius: Pasien Wajib Isolasi 42 Hari, 3 Orang Meninggal
Ledakan dan Kebakaran Hebat Melanda Kilang Minyak Chalmette Louisiana, Tidak Ada Korban Jiwa
Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar: AS Tetapkan Status Darurat Level 3, Risiko Penyebaran Masih Rendah
Jerman Desak Iran Buka Selat Hormuz dan Hentikan Program Nuklir
Aktor Park Dong Bin Meninggal Dunia, Sosok di Balik Viral ‘Meme Jus’
Hukuman Diperberat, Mantan Presiden Korsel Yoon Suk Yeol Divonis 7 Tahun Penjara
Bahrain Cabut Kewarganegaraan 69 Orang Gegara Dukung Iran Lawan AS dan Israel
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 19 Mei 2026 - 14:20 WIB

PM Malaysia Anwar Ibrahim Kecam Keras Tindakan Israel Terhadap Armada Bantuan Gaza: Pelanggaran Hukum Internasional

Rabu, 13 Mei 2026 - 14:13 WIB

Wabah Hantavirus di Kapal MV Hondius: Pasien Wajib Isolasi 42 Hari, 3 Orang Meninggal

Sabtu, 9 Mei 2026 - 11:19 WIB

Ledakan dan Kebakaran Hebat Melanda Kilang Minyak Chalmette Louisiana, Tidak Ada Korban Jiwa

Sabtu, 9 Mei 2026 - 11:05 WIB

Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar: AS Tetapkan Status Darurat Level 3, Risiko Penyebaran Masih Rendah

Senin, 4 Mei 2026 - 13:04 WIB

Jerman Desak Iran Buka Selat Hormuz dan Hentikan Program Nuklir

Berita Terbaru