Israel Jadi Negara Paling Aktif Terlibat Peperangan di Tahun 2025, Serang Setidaknya Enam Negara

- Penulis

Senin, 29 Desember 2025 - 14:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Israel menjadi negara paling aktif di dunia yang terlibat peperangan fisik sepanjang tahun 2025 ini. Foto: Ist.

Israel menjadi negara paling aktif di dunia yang terlibat peperangan fisik sepanjang tahun 2025 ini. Foto: Ist.

Medan-Mediadelegasi: Israel menjadi sorotan dunia sepanjang tahun 2025 karena keterlibatannya dalam berbagai konflik bersenjata. Negara tersebut tercatat sebagai negara paling aktif di dunia yang terlibat dalam peperangan fisik sepanjang tahun ini.

Jumlah negara yang terlibat konfrontasi bersenjata dengan Israel pada tahun 2025 mengalami peningkatan signifikan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Jika sebelumnya Israel hanya terlibat dalam pertempuran dengan pejuang Palestina di Jalur Gaza atau Tepi Barat, serta dengan Lebanon dan Suriah, kini cakupan konflik meluas dengan lebih banyak negara menjadi sasaran serangan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut laporan yang dihimpun, Israel menyerang setidaknya enam negara pada tahun 2025, yaitu Palestina, Iran, Lebanon, Qatar, Suriah, dan Yaman.

Serangan terhadap Qatar merujuk pada percobaan pembunuhan terhadap para pemimpin Hamas yang sedang merumuskan negosiasi damai yang diusulkan oleh Presiden AS Donald Trump.

Selain itu, Israel juga melakukan serangan terhadap perairan teritorial Tunisia, Malta, dan Yunani, dengan menargetkan kapal atau armada misi kemanusiaan yang sedang menuju Gaza.

Data dari Armed Conflict Location and Event Data (ACLED), sebuah lembaga pemantau konflik independen, menunjukkan bahwa sejak 1 Januari hingga 5 Desember 2025, Israel telah melakukan setidaknya 10.631 serangan. Jumlah ini menandai salah satu aksi militer paling luas secara geografis dalam satu tahun.

Sumber data ACLED berasal dari berita lokal, nasional, dan internasional, serta laporan dari badan-badan internasional.

Jalur Gaza Menjadi Target Israel Paling Mematikan

Jalur Gaza menjadi target serangan Israel yang paling mematikan sepanjang tahun 2025. Militer Israel dilaporkan telah membunuh lebih dari 25.000 orang dan melukai setidaknya 62.000 orang di wilayah tersebut.

Israel juga telah ratusan kali melanggar gencatan senjata terbaru di Gaza yang berlaku pada 10 Oktober, yang mengakibatkan tewasnya setidaknya 400 orang dan melukai 1.100 lainnya.

Daftar Negara (Wilayah) yang Diserang Israel pada Tahun 2025:

  1. Palestina (Gaza dan Tepi Barat): 8.332 kali serangan
  2. Lebanon: 1.653 kali serangan
  3. Iran: 379 kali serangan
  4. Suriah: 207 kali serangan
  5. Yaman: 48 kali serangan
  6. Qatar: 1 kali serangan
  7. Perairan Tunisia: 2 kali serangan
  8. Perairan Malta: 1 kali serangan
  9. Perairan Yunani: 1 kali serangan

Statistik ini didasarkan pada laporan yang terverifikasi, dan kemungkinan meremehkan jumlah serangan sebenarnya karena adanya kesenjangan pelaporan di zona konflik.

Rincian Serangan Israel di Berbagai Negara:

BACA JUGA:  Gelombang Demonstrasi di Iran Korban 217 Orang

1. Palestina:

Sepanjang tahun 2025, Israel melancarkan setidaknya 8.332 kali serangan di seluruh Palestina, dengan rata-rata 25 serangan per hari. Serangan ini mencakup setidaknya 7.024 serangan di Gaza dan 1.308 serangan di Tepi Barat.

Selain dilakukan oleh tentara, serangan juga melibatkan pemukim ilegal Yahudi di Tepi Barat. Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mendokumentasikan rekor 1.680 serangan pemukim di lebih dari 270 komunitas, dengan rata-rata lima serangan per hari.

2. Lebanon:

Meskipun menyepakati gencatan senjata dengan Hizbullah, Israel melancarkan lebih dari 1.653 serangan di seluruh Lebanon sepanjang tahun 2025, dengan rata-rata hampir lima kali sehari.

Bahkan setelah gencatan senjata berlaku pada November 2024, Israel terus melakukan serangan, sebagian besar terkonsentrasi di Lebanon selatan, meskipun meluas ke Lembah Bekaa dan pinggiran Ibu Kota Beirut.

Militer Israel juga tetap menempatkan tentara di lima lokasi dataran tinggi Lebanon selatan, meskipun ada komitmen formal untuk menarik diri dari daerah tersebut.

Citra satelit dari Dhayra, Lebanon selatan, menunjukkan seluruh area rata dengan tanah akibat serangan Israel.

3. Iran:

Israel memulai serangan besar-besaran ke Iran pada 13 Juni 2025, melibatkan 200 jet tempur. Serangan itu menghantam puluhan fasilitas nuklir, militer, dan infrastruktur lain di seluruh Iran.

Selama konflik 12 hari tersebut, Israel juga menyerang permukiman penduduk, menewaskan beberapa ilmuwan nuklir dan komandan militer.

Amerika Serikat pada 22 Juni bergabung dalam serangan tersebut, mengebom tiga fasilitas nuklir Iran, yaitu Fordow, Natanz, dan Isfahan.

Iran membalas dengan ratusan rudal balistik terhadap kota-kota Israel. Menurut perhitungan ACLED, Israel melancarkan setidaknya 379 serangan udara atau drone di 28 dari 31 provinsi Iran selama periode tersebut.

4. Suriah:

Israel melancarkan lebih dari 200 serangan terhadap Suriah, sebagian besar terkonsentrasi di Provinsi Quneitra, Deraa, dan Damaskus.

Israel sebenarnya telah menyerang Suriah sejak beberapa tahun lalu, namun tahun 2025 menjadi lebih intensif. Negara Yahudi itu berusaha mencari pembenaran atas tindakannya dengan mengklaim menghancurkan instalasi militer Iran.

Sejak jatuhnya pemerintahan Bashar Al Assad pada Desember 2024, Israel mengklaim berupaya mencegah senjata jatuh ke tangan ekstremis.

Pada 16 Juli, Israel menyerang markas Kementerian Pertahanan Suriah dan lokasi di dekat istana presiden di Damaskus, yang secara dramatis meningkatkan front militer lain di kawasan tersebut.

5. Yaman:

BACA JUGA:  KTT Islam-Arab Mengecam Serangan Israel di Doha, Negara-Negara Teluk Aktifkan Pertahanan Bersama

Selama setahun terakhir, Israel melancarkan setidaknya 48 serangan terhadap kelompok Houthi di Yaman. Negara ini termasuk yang terjauh dari Iran, sekitar 1.200 km.

Pada 28 Agustus 2025, serangan udara Israel menargetkan lokasi pertemuan pemerintah Houthi di Ibu Kota Sanaa, menewaskan Perdana Menteri Houthi Ahmed Al Rahawi dan beberapa pejabat senior lainnya.

Israel juga menargetkan infrastruktur yang dikendalikan Houthi di Yaman, termasuk bandara internasional Sanaa, pelabuhan Hodeidah, dan beberapa pembangkit listrik.

Pada 6 Mei 2025, Amerika Serikat dan Houthi menyepakati gencatan senjata. Namun, ini tidak berlaku dengan Israel yang tetap menjadi target serangan kelompok tersebut sebagai bentuk solidaritas terhadap Gaza.

6. Qatar:

Israel menyerang Ibu Kota Doha, Qatar, pada 9 September. Targetnya adalah lokasi pertemuan pimpinan Hamas yang membahas gencatan senjata Gaza.

Serangan itu terjadi di daerah Laguna Teluk Barat, lokasi kantor-kantor kedutaan besar asing, sekolah, supermarket, dan perumahan yang dihuni warga Qatar serta warga asing.

Serangan itu menewaskan enam orang, termasuk putra pemimpin senior Hamas Khalil Al Hayya, direktur kantor Al Hayya, tiga pengawal, dan seorang petugas keamanan Qatar. Namun, para pemimpin Hamas dilaporkan selamat dari serangan tersebut.

Setelah serangan Israel, Presiden AS Donald Trump menandatangani instruksi presiden yang memberikan jaminan keamanan terhadap Qatar jika diserang kembali.

7. Perairan Malta, Tunisia, dan Yunani:

Pada 2025, sejumlah armada kebebasan internasional berlayar menuju Gaza dengan tujuan memberikan bantuan kepada warga Gaza.

Saat bersiap berlayar ke Gaza pada 2 Mei, kapal Conscience, yang dioperasikan oleh Freedom Flotilla Coalition, diserang dua kali oleh drone bersenjata, berjarak hanya 26 km dari pantai Malta. Serangan itu memicu kebakaran dan menyebabkan empat orang luka, termasuk luka bakar dan luka robek.

Pada 9 September, Armada Global Sumud Flotilla yang menuju Gaza juga diserang oleh drone di pelabuhan Sidi Bou Said, Tunisia, menyebabkan kebakaran. Namun semua penumpang dan kru selamat.

Kemudian pada 24 September, Israel menyerang penyelenggara armada tersebut hingga terjadi ledakan akibat beberapa serangan drone di lepas pantai Yunani.

Keterlibatan Israel dalam berbagai konflik bersenjata sepanjang tahun 2025 telah menimbulkan kekhawatiran global dan memicu kecaman dari berbagai pihak. Upaya untuk mencapai perdamaian dan stabilitas di kawasan tersebut. D|Red.

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGE NEWS.

Facebook Comments Box

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sekjen PBB Mendesak Israel Hentikan Serangan usai Prajurit TNI Gugur di Lebanon
Gelombang PHK Besar-besaran: Meta Potong 8.000 Karyawan, Ganti dengan AI
Perang Blokade Memanas: AS Tutup Selat Hormuz, Iran Balas dengan Larangan Serupa
Trump Umumkan Perpanjangan Gencatan Senjata Israel-Lebanon Selama 3 Minggu
Ketegangan Meningkat: Iran Kecam Blokade AS, Anggap sebagai Agresi Terbuka
Tembus Blokade AS, Dua Supertanker Iran Berhasil Keluar dari Selat Hormuz
Jepang Siaga Tinggi: Gempa M 7,4 Guncang Sanriku, Peringatan Tsunami 3 Meter Diterbitkan
Pasar Global Terguncang: Harga Minyak Dunia Meroket Akibat Blokade Selat Hormuz

Berita Terkait

Sabtu, 25 April 2026 - 11:16 WIB

Sekjen PBB Mendesak Israel Hentikan Serangan usai Prajurit TNI Gugur di Lebanon

Jumat, 24 April 2026 - 14:14 WIB

Gelombang PHK Besar-besaran: Meta Potong 8.000 Karyawan, Ganti dengan AI

Jumat, 24 April 2026 - 11:09 WIB

Perang Blokade Memanas: AS Tutup Selat Hormuz, Iran Balas dengan Larangan Serupa

Jumat, 24 April 2026 - 11:02 WIB

Trump Umumkan Perpanjangan Gencatan Senjata Israel-Lebanon Selama 3 Minggu

Rabu, 22 April 2026 - 16:31 WIB

Ketegangan Meningkat: Iran Kecam Blokade AS, Anggap sebagai Agresi Terbuka

Berita Terbaru