Hukuman Diperberat, Mantan Presiden Korsel Yoon Suk Yeol Divonis 7 Tahun Penjara

Rabu, 29 April 2026 - 17:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mantan Presiden Korsel Yoon Suk Yeol saat menjalani persidangan. Foto: Ist.

Mantan Presiden Korsel Yoon Suk Yeol saat menjalani persidangan. Foto: Ist.

Seoul-Mediadelegasi: Pengadilan Tinggi Korea Selatan memutuskan hukuman diperberat bagi mantan Presiden Yoon Suk Yeol dalam kasus penghalangan proses hukum. Dalam putusan banding yang dibacakan pada Rabu (29/4/2026) waktu setempat, hakim menaikkan vonis dari yang semula lima tahun menjadi tujuh tahun penjara.

Keputusan ini diambil setelah majelis hakim menilai kembali bukti-bukti dan argumen hukum yang disampaikan kedua belah pihak. Pengadilan tingkat pertama sebelumnya telah menjatuhkan hukuman lima tahun pada Januari lalu, namun baik pihak Yoon maupun jaksa penuntut sama-sama tidak terima dan mengajukan banding.

Inti perkara dalam sidang kali ini adalah dugaan tindak pidana saat Yoon menggunakan pasukan pengawal kepresidenan untuk menghalangi tim jaksa menangkap dirinya. Tindakan ini dinilai sebagai upaya melawan hukum dan menghalangi keadilan yang sedang berjalan.

Dalam persidangan sebelumnya, Yoon sempat berargumen bahwa surat penangkapan terhadap dirinya didasarkan pada penyelidikan yang melanggar hukum. Namun di sisi lain, jaksa khusus justru menuntut hukuman yang jauh lebih berat, meminta Yoon dihukum 10 tahun penjara karena menilai kejahatannya sangat berat.

“Pengadilan menjatuhkan hukuman tujuh tahun penjara kepada terdakwa,” ujar seorang hakim Pengadilan Tinggi Seoul saat membacakan putusan dengan suara tegas di ruang sidang.

BACA JUGA:  Iran Luncurkan Serangan Pembalasan ke Pangkalan AS di Timur Tengah, Rudal dan Dron Ditembakkan

Hakim dalam pertimbangannya menegaskan bahwa tindakan Yoon dinilai sangat tercela dan mencoreng wajah penegakan hukum. Tindakan tersebut tidak hanya merusak proses hukum, tetapi juga menyalahgunakan wewenang jabatan.

“Terdakwa tidak hanya berusaha menghalangi eksekusi surat perintah yang sah oleh jaksa dan pihak lainnya,” sebut hakim menjabarkan kesalahan terdakwa.

Lebih jauh, hakim juga menyoroti instruksi ilegal yang diberikan kepada aparat keamanan. “Terdakwa juga mengeluarkan instruksi yang melanggar hukum kepada para pejabat publik dari dinas keamanan presiden… berupaya menggunakan mereka seolah-olah mereka adalah pengawal pribadi untuk perlindungan pribadinya,” tegasnya.

Momen emosional terlihat saat putusan dibacakan. Yoon Suk Yeol yang hadir mengenakan setelan jas hitam dan kemeja putih tampak menunjukkan sedikit perubahan ekspresi wajah, meski berusaha tetap tampil tenang mendengar vonis yang memberatkannya itu.

Selain memperberat hukuman penjara, majelis hakim juga memutuskan hal-hal lain dalam perkara ini. Pengadilan menegakkan vonis bersalah terhadap Yoon atas dakwaan penyalahgunaan wewenang saat mengecualikan anggota kabinet dari rapat perencanaan darurat militer.

Yang menjadi sorotan lainnya, pengadilan banding juga membatalkan putusan bebas dari pengadilan bawah. Kini Yoon dinyatakan terbukti bersalah pula atas dakwaan menyuruh menyebarkan informasi pembelaan soal darurat militer ke media asing, yang sebelumnya dilepaskan dari tuntutan tersebut.

BACA JUGA:  Konflik Thailand-Kamboja Memanas, Korban Tewas dari Sipil Terus Bertambah

Merespons putusan ini, tim hukum Yoon Suk Yeol menyatakan tidak akan menyerah begitu saja. Pengacara mengonfirmasi kepada AFP bahwa pihaknya berencana mengajukan upaya hukum tingkat terakhir, yaitu kasasi, ke Mahkamah Agung Korea Selatan.

Perlu diketahui, vonis tujuh tahun ini merupakan hukuman terpisah dari kasus lain yang menjeratnya. Saat ini, Yoon sebenarnya sudah menjalani hukuman penjara seumur hidup atas tuduhan kejahatan yang jauh lebih serius, yaitu memimpin pemberontakan.

Hukuman seumur hidup itu dijatuhkan terkait keputusan kontroversialnya memberlakukan darurat militer pada akhir tahun 2024 yang gagal dilaksanakan. Langkah politik itu sempat mengguncang negeri, memicu demonstrasi besar-besaran, hingga membuat pasar keuangan dan hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat menjadi kacau balau.

Dengan bertambahnya masa hukuman ini, nasib politik dan masa depan Yoon Suk Yeol tampaknya sudah tamat total, dan ia dipastikan akan menghabiskan sisa hidupnya di balik jeruji besi sebagai pembayaran atas segala kesalahan yang diperbuatnya saat menjabat sebagai kepala negara. D|Red.

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Prabowo Jelaskan Program Makan Bergizi Gratis di Forum Ekonomi Timur Rusia: Pembangunan Harus Dirasakan Seluruh Rakyat
Putin Sebut Indonesia Mitra Kunci Rusia di Asia-Pasifik, Jamu Prabowo di Vladivostok
Prabowo Tiba di Rusia, Jadi Tamu Kehormatan Utama Forum EEF 2026
Raja Norwegia Harald V Wafat di Usia 89 Tahun, Berakhir Perjalanan Panjang Sang Pemimpin Monarki
Ratko Mladic, Jenderal Pembantai Muslim Bosnia Meninggal di Penjara Usai Divonis Seumur Hidup
Banjir Bandang Nepal-Tibet Tewaskan 150 Orang, Ratusan Wisatawan Asing Hilang
24 Agustus 2006: Pluto Resmi Dihapus dari Daftar Planet Tata Surya, Sejarah yang Masih Memicu Perdebatan
Presiden Korsel Lee Jae Myung Sampaikan Belasungkawa Korban Gempa NTT
Berita ini 16 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 15:11 WIB

Prabowo Jelaskan Program Makan Bergizi Gratis di Forum Ekonomi Timur Rusia: Pembangunan Harus Dirasakan Seluruh Rakyat

Kamis, 3 September 2026 - 11:50 WIB

Putin Sebut Indonesia Mitra Kunci Rusia di Asia-Pasifik, Jamu Prabowo di Vladivostok

Rabu, 2 September 2026 - 12:03 WIB

Prabowo Tiba di Rusia, Jadi Tamu Kehormatan Utama Forum EEF 2026

Jumat, 28 Agustus 2026 - 15:21 WIB

Raja Norwegia Harald V Wafat di Usia 89 Tahun, Berakhir Perjalanan Panjang Sang Pemimpin Monarki

Jumat, 28 Agustus 2026 - 11:05 WIB

Ratko Mladic, Jenderal Pembantai Muslim Bosnia Meninggal di Penjara Usai Divonis Seumur Hidup

Berita Terbaru