Medan-Mediadelegasi : Shell Indonesia resmi mengumumkan pengalihan kepemilikan seluruh bisnis Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Indonesia. Keputusan ini menjadi bagian dari strategi global Shell Plc dalam merombak portofolio bisnisnya untuk menghadapi tantangan dan peluang transisi energi dunia.
Shell memutuskan untuk fokus pada pengembangan energi bersih dan bisnis pelumas di pasar Indonesia. Hal ini sejalan dengan komitmen perusahaan untuk mencapai net-zero emission pada 2050. Indonesia tetap menjadi pasar pertumbuhan utama untuk bisnis pelumas Shell.
Bisnis SPBU Shell resmi diambil alih oleh Citadel Pacific Limited dan Sefas Group. Kedua entitas ini memiliki pengalaman dan jaringan kuat dalam sektor energi dan distribusi. Shell akan tetap digunakan pada jaringan SPBU di Indonesia meski kepemilikannya telah berpindah tangan melalui model lisensi merek.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kegiatan operasional bisnis SPBU Shell akan tetap berlangsung seperti biasa hingga proses pengalihan rampung. Pelanggan tetap bisa mengakses produk BBM Shell tanpa perubahan dari sisi kualitas maupun layanan. Tim operasional yang melayani konsumen di lapangan pun akan tetap sama.
Shell memiliki strategi global untuk memperkuat posisinya di bisnis gas alam cair (LNG) dengan target pertumbuhan penjualan 4-5 persen per tahun hingga 2030. Perusahaan juga menargetkan pengembangan bisnis energi terbarukan dan solusi rendah karbon.
Namun, strategi Shell mungkin belum tentu relevan dalam konteks pasar Indonesia saat ini, di mana bahan bakar minyak (BBM) rendah emisi belum sepopuler BBM dengan harga terjangkau. Shell sepertinya juga melihat peluang lain dalam lini bisnis rendah karbon.
Pergeseran arah strategi global Shell dan adopsi kendaraan listrik yang semakin cepat mungkin menjadi faktor besar dalam pengambilan keputusan bisnis. Dalam tiga tahun terakhir, adopsi kendaraan listrik di Indonesia mengalami pertumbuhan pesat.
Meskipun demikian, peluang untuk memperluas pasar di bisnis SPBU masih terbuka. Dengan jumlah kendaraan bermotor yang mencapai 140 juta di tahun lalu, sementara jumlah SPBU hanya sebanyak 16.731, rasio SPBU terhadap jumlah kendaraan mencapai 1:8.370.
Sektor hilir migas di Indonesia telah lama didominasi oleh Pertamina. Sebagai perusahaan pelat merah, Pertamina punya keunggulan dalam akses infrastruktur, jaringan distribusi, hingga posisi strategis dalam menentukan harga jual BBM.
Ketimpangan persaingan antara Pertamina dan pemain swasta seperti Shell terlihat dari data distribusi SPBU resmi. Dari total 16.731 SPBU yang memiliki izin, Pertamina Patra Niaga mengoperasikan 13.590 SPBU atau sekitar 81 persen dari total populasi.
Akses terbatas ke BBM subsidi, kendala regulasi, hingga skala dan infrastruktur yang kalah jauh dari Pertamina membuat margin keuntungan SPBU swasta menjadi kian tipis.
Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menilai bahwa perusahaan seperti Shell mungkin melihat daripada dia pusing dengan ekspansi dan memilih untuk tidak berjualan lagi. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.












