Sri Mulyani: Ketidakpastian Global Ancam Ekonomi Dunia, Sejarah Berulang?

- Penulis

Rabu, 21 Mei 2025 - 15:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. (Foto : Ist.)

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. (Foto : Ist.)

Jakarta-Mediadelegasi : Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperingatkan dunia akan terus menghadapi ketidakpastian ekonomi yang signifikan. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya persaingan dan konflik ekonomi, perang dagang, perang keuangan, dan bahkan perang militer antar negara.

 

Dalam rapat paripurna DPR RI, Selasa (20/5/2025), Sri Mulyani menekankan bahwa eskalasi perang dagang dan ketidakpastian kebijakan ekonomi global telah memperparah kondisi ekonomi dunia yang sudah rapuh sejak awal tahun. Beberapa negara bahkan telah mengalami kontraksi ekonomi di kuartal pertama tahun 2025.

 

Sebagai contoh, Korea Selatan mengalami kontraksi ekonomi sebesar 0,1% year on year, yang merupakan pertama kalinya sejak pandemi COVID-19 tahun 2020. Malaysia dan Singapura juga mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi yang signifikan dibandingkan kuartal IV tahun 2024.

 

Sri Mulyani menyoroti perubahan mendasar dalam tatanan global. Semangat kerja sama internasional telah digantikan oleh fragmentasi dan persaingan yang ketat di berbagai sektor. Perjanjian perdagangan dan investasi antar negara tampak diabaikan dan tidak lagi dihormati.

 

Proteksionisme dan kebijakan “negara saya dulu” (my country first) mengancam kerja sama bilateral dan multilateral yang telah dibangun sejak pasca Perang Dunia II, terutama yang didominasi oleh negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat.

 

Kondisi ini telah menyebabkan gangguan rantai pasok global, melemahkan ekspor-impor, dan mendorong aliran modal keluar (capital outflow). Akibatnya, stabilitas nilai tukar terancam, inflasi meningkat, dan suku bunga global tetap tinggi.

 

Sri Mulyani bahkan membandingkan kebijakan tarif resiprokal yang diterapkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan kondisi ekonomi global 125 tahun lalu. Kebijakan ini dianggap sebagai kemunduran besar dalam kerja sama ekonomi internasional.

 

Peran Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dalam menyelesaikan sengketa perdagangan antar negara juga dinilai tidak efektif. Sri Mulyani melihat adanya kemunduran ke sistem ekonomi Merkantilisme abad 16-18, yang ditandai dengan persaingan dan proteksionisme yang ekstrem.

 

Situasi ini menimbulkan berbagai dampak sosial, politik, dan ekonomi di berbagai negara. Ketidakpastian global yang tinggi ini membutuhkan strategi dan kebijakan yang tepat untuk melindungi perekonomian nasional.

 

Indonesia, sebagai negara yang terintegrasi dalam ekonomi global, perlu mempersiapkan diri menghadapi tantangan ini dengan strategi yang tepat dan kebijakan yang responsif. Kerjasama regional dan internasional tetap penting untuk mengurangi dampak negatif dari ketidakpastian global. D|Red.
Baca  artikel menarik lainnya dari mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS
BACA JUGA:  Ini Peran 5 Tersangka Kasus TPPO Mahasiswa Modus Ferienjob ke Jerman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Nama Raffi Ahmad Terseret Dalam Kasus Dugaan Suap Importasi Barang di Bea Cukai
​Kurs Rupiah Terpuruk di Angka Rp18.000, Hasto Kristiyanto Kritik Keras Manajemen Pemerintahan
Tuntut Kepastian Operasional, Investor Dapur SPPG di Wilayah 3T Geruduk Kantor BGN
Rupiah Hancur! Tembus Rp18.175 per Dolar AS
Korlantas Polri Memutuskan Menunda Pelaksanaan Operasi Patuh 2026
Mulai 8 Hingga 21 Juni 2026 Operasi Patuh Digelar Serentak se-Indonesia, Nomor Plat Kendaraan Jadi Prioritas Utama
Daftar Final 23 Pemain Timnas Indonesia: Debut Mathew Baker & Kembalinya Marselino Ferdinan
​Veda Pratama Terus Mengancam! Ini Update Klasemen Moto3 Usai GP Italia 2026
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 9 Juni 2026 - 09:30 WIB

​Kurs Rupiah Terpuruk di Angka Rp18.000, Hasto Kristiyanto Kritik Keras Manajemen Pemerintahan

Selasa, 9 Juni 2026 - 08:26 WIB

Tuntut Kepastian Operasional, Investor Dapur SPPG di Wilayah 3T Geruduk Kantor BGN

Senin, 8 Juni 2026 - 13:02 WIB

Rupiah Hancur! Tembus Rp18.175 per Dolar AS

Senin, 8 Juni 2026 - 11:11 WIB

Korlantas Polri Memutuskan Menunda Pelaksanaan Operasi Patuh 2026

Jumat, 5 Juni 2026 - 13:43 WIB

Mulai 8 Hingga 21 Juni 2026 Operasi Patuh Digelar Serentak se-Indonesia, Nomor Plat Kendaraan Jadi Prioritas Utama

Berita Terbaru