Jakarta – Mediadelegasi: Rupiah kembali tertekan hebat di awal pekan ini, menembus level psikologis baru di angka Rp18.175,20 per Dolar AS pada perdagangan Senin, 8 Juni 2026 pukul 12.51 WIB. Pelemahan ini mencatatkan rekor terburuk bagi mata uang Garuda sepanjang tahun 2026,
yang dipicu oleh tingginya permintaan valuta asing dari korporasi domestik serta sentimen negatif dari pasar keuangan global yang masih belum stabil.
Analis ekonomi menilai bahwa tren pelemahan ini didorong oleh aksi capital outflow yang masif menyusul ketidakpastian kebijakan suku bunga Amerika Serikat yang bertahan di level tinggi lebih lama dari ekspektasi pasar. Kondisi ini semakin diperparah dengan fluktuasi harga komoditas energi global yang menekan neraca perdagangan Indonesia, sehingga cadangan devisa terus tergerus untuk menutupi kebutuhan impor yang membengkak.
Bank Indonesia (BI) diyakini terus melakukan intervensi di pasar valas melalui skema triple intervention untuk menjaga stabilitas volatilitas Rupiah agar tidak terperosok lebih dalam. Di sisi lain, pemerintah juga mulai memperketat implementasi aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam untuk memastikan pasokan dolar tetap terjaga di dalam negeri guna menopang fundamental ekonomi nasional di tengah tekanan eksternal yang kian berat.
Meski demikian, pelaku pasar masih menaruh kewaspadaan tinggi menjelang rilis data inflasi global pekan depan. Investor kini tengah memantau langkah konkret otoritas moneter dalam merespons depresiasi yang terjadi secara konsisten, sembari berharap bahwa aliran modal masuk dapat kembali pulih seiring dengan perbaikan kinerja ekspor nasional pada kuartal kedua tahun ini.D|Red







